JawaPos Radar

Melihat Penampilan Bomber Gereja Surabaya, Teroris Sudah Berkamuflase?

17/05/2018, 16:45 WIB | Editor: Estu Suryowati
Melihat Penampilan Bomber Gereja Surabaya, Teroris Sudah Berkamuflase?
Tiga gereja di Surabaya jadi sasaran aksi terorisme, Minggu (13/5) pagi. Sedikitnya 38 korban luka-luka, dan 8 orang meninggal dunia. (JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Warga Surabaya dihebohkan dengan teror bom bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga di tiga gereja di Kota Pahlawan itu. Penampilan pelaku bom bunuh diri itu sehari-hari berbeda dari para pelaku teror pada umumnya.

‎Pengamat terorisme dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Zaki Mubarok mengatakan, saat ini ada kamuflase baru yang dilakukan oleh teroris. Misalnya saja bomber gereja di Surabaya, Dita Oepriarto. Wajah Dita terbilang bersih, tidak berjenggot, tidak berkumis, tidak memakai gamis, dan tidak mengenakan celana tidak di atas mata kaki.

"Jadi, Dita ini tidak mencerminkan orang yang diidentikan dengan teroris, celana cingkrang, berjenggot, dan pakaiannya juga rapi," ujar Zaki kepada JawaPos.com, Kamis (17/5).

Melihat Penampilan Bomber Gereja Surabaya, Teroris Sudah Berkamuflase?
Foto yang beredar dari aplikasi pesan instan menunjukkan pecahan kaca dan motor yang jatuh di parkiran gereja Santa Maria Tak Bercela. (istimewa/JawaPos.com)

Menurut Zaki, kamuflase ini harus diwaspadai oleh pihak kepolisian. Sebab, dari pengeboman di tiga gereja Surabaya, Dita jauh dari ciri-ciri teroris.

"Jadi mereka sengaja berkamuflase membuat aksinya tidak terpantau. Beda kalau pakai jubah, berjenggot, dan celana cingkrang," katanya.

Selain itu, aksi Dita melibatkan istri dan anak-anaknya juga terbilang model baru. Menurut Zaki, selama ini tidak pernah ada teroris yang melibatkan keluarga dan anak-anaknya dalam melancarkan aksi.

"Jadi ini model baru‎. Sehingga polisi belum terpikirkan anak-anak membawa bom. Di Indonesia belum pernah terjadi anak melakukan aksi," ungkapnya.

Zaki juga mendapat informasi, keluarga Dita masuk golongan kelas menengah. Padahal sebelumnya pelaku teror adalah mereka yang terhimpit secara ekonomi. Sehingga ada pergeseran pelaku teror dalam mencari pengantin.

"Dita dari keluarga mapan dan terdidik. Biasanya kan bom bunuh diri perilakunya tidak jelas, ada pedagang bakso, ada pengangguran, ada mantan preman," ungkapnya.

Oleh sebab itu, berkaca dari kasus bom gereja Surabaya ini, Zaki meminta polisi semakin waspada. Sebab, bisa jadi model kamuflase ini akan terus dilakukan untuk mengelabui aparat keamanan.

"Saya khawatir ini akan terus ditiru pelaku teror. Karena kalau pakai jenggot atau jubah nanti bisa ketangkep," pungkasnya.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengungkapkan, serangan bom bunuh diri tiga geraja di Surabaya, Jawa Timur dilakukan oleh pasangan suami istri. Mereka adalah Dita Oepriarto dan Puji Kuswati. Mereka juga mengikutsertakan empat orang anaknya yang tiga di antaranya masih di bawah umur.

(ce1/gwn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up