JawaPos Radar

WHO Persiapkan Skenario Terburuk Hadapi Wabah Ebola

17/05/2018, 16:10 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
WHO Persiapkan Skenario Terburuk Hadapi Wabah Ebola
WHO telah menghitung sebanyak 32 kasus, baik diduga atau dikonfirmasi di daerah barat laut Bikoro, yang terletak di tepi Danau Tumbathe dekat perbatasan dengan Republik Kongo. Jumlah kematian akibat Ebola mencapai 18 orang antara 4 April hingga 9 Mei (Newsweek)
Share this image

JawaPos.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, mereka sedang mempersiapkan skenario terburuk dalam menghadapi wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo. Kepala Tanggap Darurat WHO, Peter Salama mengatakan kepada wartawan di Jenewa, mereka sangat prihatin dan berencana untuk segala resiko, termasuk resiko terburuk.

WHO telah menghitung sebanyak 32 kasus, baik diduga atau dikonfirmasi di daerah barat laut Bikoro, yang terletak di tepi Danau Tumbathe dekat perbatasan dengan Republik Kongo. Jumlah kematian akibat Ebola mencapai 18 orang antara 4 April hingga 9 Mei.

Kasus-kasus tersebut termasuk tiga petugas layanan kesehatan yang salah satunya meninggal dunia. Wabah tersebut telah dinyatakan oleh Kementerian Kesehatan Disaster Recovery Center (DRC) sebagai wabah Ebola yang diketahui sebagai yang kesembilan sejak 1976, Selasa, (15/5).

Kala itu penyakit virus yang pertama kali diidentifikasi di Zaire oleh tim yang memimpin Belgia seperti dilansir Gulf News, Kamis, (17/5). Salama mengatakan, daerah yang terkena dampak di negara Afrika Tengah yang dilanda perselisihan besar itu sangat terpencil dan sulit dijangkau.

Terlebih dengan kurangnya infrastruktur yang fungsinya buruk. "Akses sangat sulit, pada dasarnya harus menempuh jarak 15 jam dengan sepeda motor dari kota terdekat," katanya.

WHO memiliki tim di lapangan dan sedang mempersiapkan rencana pengiriman 40 spesialis lebih dalam mengenai epidemiologi, logistik, pelacakan kontak dan area lainnya ke wilayah tersebut pekan depan. Salama menjelaskan, WHO berharap memiliki laboratorium yang bergerak dan dapat beroperasi di situs terpencil akhir pekan ini.

Pada saat yang sama, WHO dan Program Pangan Dunia bekerja untuk membuat jembatan udara untuk membantu membawa pasokan yang diperlukan. Serta menambahkan helikopter yang dapat digunakan sampai lapangan terbang dapat dibersihkan untuk memungkinkan pesawat yang lebih besar mendarat di sana.

WHO juga menunggu lampu hijau dari Pemerintah Kongo untuk memulai kampanye vaksinasi di daerah tersebut. Salama mengatakan, mereka akan menggunakan persediaan vaksin eksperimental yang tersedia.

Mengenai resiko, terang Salama, WHO sangat prihatin akibat penyebaran penyakit jangka pendek tersebut. Termasuk ke Mbandaka yang merupakan Ibu Kota Provinsi Equateur yang memiliki sekitar satu juta penduduk dan berjarak hanya beberapa jam dari Bikoro.

"Jika kita melihat kota sebesar itu terinfeksi Ebola, maka kita akan mengalami wabah di kota besar," ia kembali memperingatkan.

(trz/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up