JawaPos Radar

Bangkit dari Trauma, Kondisi Ais Mulai Membaik

17/05/2018, 13:55 WIB | Editor: Ilham Safutra
Bangkit dari Trauma, Kondisi Ais Mulai Membaik
Aisyah Putri ketika diselamatkan AKBP Roni Faisal Saiful Faton di Mapolrestabes Surabaya, kemarin (14/5). (JAWA POS PHOTO)
Share this image

JawaPos.com - Selama beberapa hari anak pelaku bom bunuh diri mendapatkan perawatan di RS Bhayangkara Polda Jawa Timur (Jatim) di Surabaya. Total ada tujuh anak yang kini menunjukkan perkembangan cukup signifikan.

Mereka antara lain adalah Aisyah Azzahra Putri, 8 (anak Tri Murtiono, pelaku peledakan bom di Mapolrestabes Surabaya); Ainur Rahman, 15; Faisa Putri, 11; Garida Huda Akbar, 10 (ketiganya anak Anton Ferdiantono, pemilik bom yang meledak di Rusunawa Wonocolo, Taman, Sidoarjo).

Tiga anak yang datang menyusul adalah Diva Nuhaliza Sulistiani, 14; Azahra Istigfarin Syafana Putri, 10; Haikal Al Azam, 7 (anak Dedy Sulistiantono alias Teguh, terduga teroris yang ditangkap polisi di Jalan Sikatan IV, Surabaya).

Bangkit dari Trauma, Kondisi Ais Mulai Membaik
Tim Brimob pasca ledakan di Surabaya. (Galih Cokro/Jawa Pos)

Secara psikologis, kondisi mereka mulai membaik. Aisyah misalnya, yang telah melakukan serangkaian observasi kejiwaan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Anak perempuan yang akrab disapa Ais itu sudah mulai bisa menggambar kemarin (16/5). Tim ahli dari RS Bhayangkara Polda Jatim meminta Ais menggambar sejumlah benda. Gambar-gambar tersebut rupanya merupakan rangkaian tes psikologi untuk Ais.

"Dia sudah bisa menggambar. Ini rangkaian tes juga," ucapnya. Padahal, sejak masuk RS Bhayangkara pada Senin (14/5), Aisyah lebih banyak diam. Hasil kreasi Ais bakal langsung dianalisis tim dokter yang berisi para psikolog dan psikiater.

Ketua KPAI Susanto mengatakan, kondisi Ais sudah mengalami kemajuan. Bocah 8 tahun itu sudah mulai bisa menerima kunjungan para dokter yang menangani. Hanya, dia masih pilih-pilih orang yang dianggapnya nyaman untuk berkomunikasi. Orang tersebut adalah seorang perawat perempuan.

Susanto lantas mencoba berkomunikasi dengan anak terduga teroris lainnya. Misalnya Ainur Rahman dan Garida Huda Akbar. Ternyata, ada pola tertentu yang digunakan untuk berkomunikasi dengan para anak terduga teroris itu. Anak laki-laki merasa nyaman berkomunikasi dengan perawat atau tim ahli laki-laki. Begitu juga yang perempuan. Mereka lebih memilih orang bergender sejenis yang dianggap nyaman.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi juga menemui tujuh anak terduga teroris tersebut. Sama dengan Susanto, Seto datang untuk melakukan serangkaian pengecekan. Seberapa berat trauma yang diderita tujuh anak itu.

Dari kunjungan tersebut, Seto menyimpulkan bahwa anak-anak itu masih menderita trauma. Namun, beberapa sudah mengalami kemajuan yang cukup pesat. "Pas ketemu, sudah ada yang mau tersenyum, ditanya ada yang jawab. Sudah tidak diam saja," ujarnya.

Menurut Seto, di antara tujuh anak tersebut, Aislah yang menderita trauma paling hebat. Dia lebih suka menutup mulut ketika diajak berbicara oleh orang lain yang dirasanya kurang nyaman. Terkadang Ais enggan menjawab pertanyaan yang diajukan Seto maupun tim psikolog. Dia hanya memandang mereka penuh tanya. "Saya tanya sudah makan, dia hanya mengangguk," ungkapnya.

Berbeda dengan Ais, trauma paling ringan diderita keenam anak lainnya. Ketika interaksi dilakukan, bahkan sudah ada beberapa yang mengenali Seto. Mereka tidak sungkan untuk melakukan interaksi. Salah satunya anak terduga teroris Teguh yang paling bungsu, yakni Haikal. "Dia malah sudah meminta robot kepada petugas untuk menemani dia di ruangan," imbuh Seto.

Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait datang beberapa jam setelah kunjungan Seto ke ruangan anak-anak. Kedatangannya bersamaan dengan Kapolrestabes Surabaya Kombespol Rudi Setiawan yang juga ingin memastikan keadaan tujuh anak tersebut. "Raut wajahnya berubah ketika yang tanya Kapolrestabes," ujar Arist.

Ketika sampai di ruangan Ais, Arist memang berinisiatif masuk terlebih dahulu. Dia menanyakan kabarnya. Ais mampu berkomunikasi dengan menjawab ya atau tidak. Tapi, begitu Rudi datang, Ais hanya menggantinya dengan anggukan yang samar-samar. Senyumnya pun berbeda. "Kalau ke polisi dia nggak merespons," imbuh Arist.

(mir/bin/c9/agm)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up