JawaPos Radar

Begini Memutus Mata Rantai Terorisme Melalui Pendekatan Non Keamanan

17/05/2018, 14:00 WIB | Editor: Estu Suryowati
Begini Memutus Mata Rantai Terorisme Melalui Pendekatan Non Keamanan
Peneliti Pusat Penelitian Sumber Daya Regional (PSDR) LIPI Cahyo Pamungkas dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (17/5). (Sabik Aji Taufan/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Aksi terorisme tengah marak terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Akibatnya, sejumlah penangkapan terhadap terduga teroris pun dilakukan oleh tim Detasemen Khusus (Densus) 88.

Peneliti Pusat Penelitian Sumber Daya Regional (PSDR) LIPI Cahyo Pamungkas melihat, salah satu sumber berkembangnya ideologi radikal adalah lingkungan keluarga. Oleh karena itu, untuk mencegah paham radikal terus berkembang, lingkungan keluarga harus sangat diperhatikan.

Penyelesaian terorisme dengan pendekatan keamanan dinilai tidak efektif memutus mata rantai kelompok radikal ini.

"Berkembangnya ideologi terorisme di masyarakat luas karena gerakan gagasan atau ide radikalisme seringkali terjadi melalui keluarga teroris," ungkap Cahyo di gedung Widya Graha LIPI Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (17/5).

"Kalau penyelesaiannya hanya pendekatan keamanan saja, tentu tidak akan mampu memutus mata rantai terorisme yang telah menyebar luas ke berbagai sendi kehidupan masyarakat," imbuhnya.

Cahyo menerangkan, pendekatan untuk memutus rantai terorisme bisa dilakukan dengan memberikan pendidikan kepada anak-anak pelaku teror. Selain itu pemberdayaan anggota keluarga lain khususnya perempuan menjadi kuncinya.

"Pendekatan positif bisa dilakukan dengan memberikan pendidikan khusus kepada anak-anak pelaku teror, memberdayakan perempuan bagi keluarga yang ditinggalkan kepala keluarganya karena tersangkut masalah terorisme," jelas Cahyo.

Di sisi lain, Cahyo menilai bahwa strategi deradikalisasi terhadap konten-konten bernada kebencian belum maksimal. Maka dibutuhkan kerja ekstra lagi oleh seluruh pihak untuk melawan konten-konten tersebut.

"Gerakan terorisme dilakukan tidak hanya gerakan flsik, tapi juga penyebaran ideologi kekerasan di media sosiai. Meskipun upaya antisipasi dan perlawanan terhadap narasi di media sosial telah dilakukan, tetapi masih dinilai kurang optimal," imbuhnya.

Lebih jauh Cahyo melihat, intoleransi yang tersebar di dunia maya maupun dunia nyata merupakan cikal-bakal berkembangnya gerakan terorisme. Sehingga fakta itu juga harus menjadi fokus utama Kepolisian dan masyarakat.

"Jadi, kita tidak dapat mengesampingkan fakta menguatnya intoleransi di Indonesia. Karena dikhawatirkan akan menjadi lahan subur gerakan terorisme," pungkas Cahyo.

(sat/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up