JawaPos Radar

Sepotong Kisah OTT Bupati Bengkulu Selatan

Ultah di Balik Penjara Usai Tiga Kali Terjerat Pidana

17/05/2018, 01:32 WIB | Editor: Kuswandi
Dirwan Mahmud
Bupati Bengkulu Selatan Dirwan Mahmud (tengah) saat tiba di kantor KPK Rabu (16/5) (Muhammad Ali/ Jawa Pos)
Share this image

Penjara seharusnya bisa menjadikan seorang narapidana berubah menjadi baik perilakunya. Namun tak sedikit, hukuman penjara justru membuat seseorang kembali menjadi beringas dan mengulang perbuatannya. Salah Satunya yakni Bupati Bengkulu Selatan Dirwan Mahmud. Setelah sebelumnya pernah di hukum 7 tahun lamanya atas kasus pembunuhan, dan dihukum 4 tahun 3 bulan penjara terkait kasus Narkoba, kini Dirwan harus berurusan lagi dengan hukum. Kali ini dia harus berurusan dengan lembaga antirasuah, karena diduga menerima suap atas proyek-proyek infratsruktur yang dimainkannya.

Intan Piliang, Kuswandi, Jakarta

Penyidik KPK
Ilustrasi: Penyidik KPK saat sedang melakukan penggeledahan di kantor firma hukum Fredrich Yunadi (Teguh Kautsar/JawaPos.com)

Senja belum datang ketika Dirwan Mahmud berolahraga di sekitar kediamannya di Jalan Gerak Alam Padang Pematang, Kota Medan, Kota Manna, Selasa (15/5) sore. Namun, karena badan telah berkeringat dan hari kian beranjak petang, orang nomor satu di Bumi Seraway (sebutan bagi Kabupaten Bengkulu Selatan) tersebut bergegas menyudahi aktivitasnya melepas lelah usai bekerja seharian.

Dirwan tak menyangka, jika sore itu, menjadi olahraga terakhir baginya menjadi orang yang bebas.  Sebab, tak lama berselang, dia ditangkap Tim Satgas Penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi menjelang adzan maghrib tiba.

Penangkapan Dirwan ini bukan tanpa alasan. Radar lembaga antirasuah ternyata sudah mencium aroma rasuah yang diduga dilakukan oleh politikus Perindo tersebut sejak lama.

Orang nomor satu di kota yang mempunyai motto “Sekundang Setungguan” ini diduga menerima sejumlah uang suap senilai Rp 98 juta dari Juhari, seorang kontraktor yang akan mengerjakan lima proyek di wilayah yang dipimpinnya.

Sebelum menangkap Dirwan, sebelumnya, sekitar pukul 16.20 WIB tim lembaga antirasuah telah mendeteksi adanya penyerahan uang dari seorang kontraktor atas nama Juhari kepada Nursilawati, seorang Kasie pada Dinas Kesehatan Pemda Bengkulu Selatan yang juga keponakan Dirwan. Uang tersebut diserahkan kepada istri Dirwan, Hendrati, di rumahnya, di Kecamatan Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan.

Usai penyerahan uang tersebut, Juhari mencoba menghilangkan jejak dengan pergi ke sebuah rumah makan di daerah Manna. Namun, Tim KPK yang sejak empat hari membuntuti pergerakannya, tak hilang akal dan langsung menangkapnya sekitar pukul 17.00 WIB. Untuk mengkonfirmasi perihal pemberian uang tersebut, Juhari pun dibawa Tim KPK kembali ke kediaman Hendrati.

Tak lama berselang, tim lain pun membekuk Nursilawati yang tengah pergi ke kediaman saudaranya di daerah Manna, usai menjadi perantara penerimaan duit rasuah sebagai komitmen fee Dirwan. Nursilawati diciduk tim lembaga antirasuah 15 menit usai Juhari diamankan.

“Setelah kedua tim tiba dirumah Hendrati, tim mengamankan uang Rp 75 juta dari tangan Nursilawati sera bukti transfer sebesar Rp 15 juta (Rp 13 juta diduga berasal dari pemberian Juhari sebelumnya pada 12 Mei 2018), kemudian tim KPK membawa Nursilawati ke rumah pribadinya di Kecamatan Manna dan mengamankan uang lainnya senilai Rp 10 juta,” papar Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan, saat menjelaskan kronologi penangkapan, Rabu (16/5) malam.

Selanjutnya, usai menangkap Nursilawati, sejurus kemudian, tim penyidik yang tengah berada di kediaman Hendrati, melakukan penangkapan terhadap Dirwan, Hendrati, Nursilwati dan Juhari ke Polda Bengkulu guna menjalani pemeriksaan sementara.

Kini, usai diterbangkan ke Markas KPK di Jakarta, menjalani pemeriksaan intensif, dan setelah melakukan serangkaian pemeriksaan lanjutan serta gelar perkara, penyidik pun memutuskan menetapkan Dirwan dan istrinya, Hendrati, keponakannya, Nursilawati dan Juhari sebagai tersangka.

“Setelah melakukan pemeriksaan 1x24 jam dilanjutkan dengan gelar perkara, disimpulkan adanya dugaan tindak pidana korupsi menerima hadiah atau janji oleh Bupati Bengkulu Selatan secara bersama-sama terkait pengadaan insfrastruktur di Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan tahun 2018," terang Basaria Panjaitan.

Sementara itu, usai ditetapkan tersangka, Dirwan pun bersiap menginap di ‘Hotel Prodeo’ tepat di hari ulang tahunnya yang ke-58.

Dinginnya jeruji sel besi ternyata, tak hanya kali ini dirasakan Dirwan. Ternyata politikus Perindo tersebut telah dua kali mendekam di penjara. Ini akibat dua kasus pidana yang menjeratnya. Kasus pertama, dia pernah terlibat kasus pembunuhan dan dihukum selama 7 tahun penjara di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Cipinang Jakarta Timur dari tahun 1985 sampai 1992. 

Akibat kasus yang menjeratnya, Dirwan pun pernah gagal menjabat bupati pada saat pemilihan kepala daerah tahun 2008 silam, meskipun dia telah memenangkan pemilihan kepala daerah.

Ini akibat status terpidannya diungkit oleh lawan politiknya, yakni pasangan Reskan Effendi-Rohidin Mersyah, pada saat kemenanganya digugat ke Mahkamah Konstitusi.

Atas gugatan tersebut, Dirwan yang berpasangan dengan Hartawan harus gigit jari karena MK menggugurkan kemenangannya.

Selain kasus pembunuhan, seolah tak kapok dengan tindak pidana yang pernah dilakukannya, Dirwan kembali beruurusan dengan hukum. Dia dicokok oleh petugas kepolisian pada 2011 silam karena kedapatan menyimpan dan membawa narkoba ketika dirinya hendak menyeberang ke Pelabuhan Bakahuni, Lampung.

Atas kasus yang melilitnya, Dirwan divonis bersalah dan dihukum selama 4 tahun 3 bulan penjara. Keputusan ini diperkuat di tingkat kasasi Mahkamah Agung. Selang empat tahun kemudian, tepatnya pada 6 Agustus 2015, Dirwan pun melenggang bebas, setelah menjalani masa tahanan di LP Klas IIA Kalianda, Lampung.

Usai bebas, kesempatan untuk menduduki sebagai orang nomor satu di Bengkulu Selatan pun tak disia-siakan kembali oleh Dirwan. Ini karena pada 9 Juli 2015, MK telah membatalkan pasal larangan terpidana dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun mengikuti Pilkada.

Mantan Ketua DPRD Bengkulu Selatan ini kembali bertarung maju dalam Pilkada Bengkulu Selatan pada 2015 mendatang. Dewi Fortuna pun datang, meski kembali digugat oleh pesaingnya, Dirwan yang kala itu berpasangan dengan Gusnan Mulyani yang diusung Golkar, PPP dan PKS kembali memenangkan pertarungan.

Dirwan berhasil mengalahkan seteru lamanya, Reskan yang berpasangan dengan Rini Susanti. Meskipun sempat digugat di MK, Dirwan akhirnya bisa menikmati kemenangannya setelah MK menolak gugatan yang dilayangkan Reskan.

Kini, saat berada dipuncak kejayaanya sebagai orang nomor satu di Kabupaten Bengkulu Selatan, Dirwan terpaksa beruurusan dengan hukum kembali. Namun bukan kasus biasa, tapi kasus korupsi, karena dia ditangkap KPK akibat menerima duit suap dari seorang kontraktor untuk memuluskan sejumlah proyek di wilayah yang dipimpinnya.

   

 

(ipp/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up