JawaPos Radar

Ungkap TPPU Hasil Jual Narkoba, BNN Sita Rumah Mewah dan Uang Miliaran

27/04/2018, 00:03 WIB | Editor: Budi Warsito
Ungkap TPPU Hasil Jual Narkoba, BNN Sita Rumah Mewah dan Uang Miliaran
Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari dan pihak PPATK saat menggelar konferensi pers di Kota Medan, Kamis (26/4). (Prayugo Utomo/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkap kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dari hasil penjualan narkoba. Keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja sama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK)

Yang lebih hebat lagi, ternyata kasus TPPU ini terbongkar dari pengedar jalanan. Saat pengembangan kasus, petugas menemukan aliran dana dan benda bernilai miliaran rupiah.

"Kita memeriksa jalur dan alur keuangan sindikat ini," kata Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari, di Kota Medan, Kamis (26/4).

Tiga tersangka yang diringkus antara lain, Susianto alias Boyek, Yudi Ardi Marta, dan Nona Misa Fitri. Susianto merupakan napi yang mendekam di Lapas Tanjung Gusta.

Kasus pencucian uang ini berawal dari penangkapan yang dilakukan BNN Kota Tebing Tinggi terhadap Sardian alias Dian Narko. Dari tangannya disita 6 paket sabu-sabu dengan total berat sekitar 2,5 gram. Dari komunikasi yang terlacak dari handphone tersangka, petugas menangkap Yopi Yolanda, yang berperan sebagai pengantar narkotika milik Adil Putra Marpaung alias Memeng.

Adil Putra Marpaung merupakan napi yang mendekam di Lapas Narkotika Kelas II Pematang Siantar di Raya, Simalungun. Dari hasil analisis PPATK diketahui ada peran pengelola keuangan Rosdiana alias Dedek. Dia adalah kakak kandung Andi.

Petugas juga menemukan ada nama Nona Misa Fitri beserta suaminya Yudi Ardi Marta. Mereka diduga sebagai pengelola uang untuk peredaran narkoba. Keduanya ditangkap dengan bantuan BNN Provinsi Bali.

"Setelah kita telusuri, kita mendapat nama Susianto alias Boyek. Dia adalah napi Lapas Tanjung Gusta," tuturnya.

Susianto dijemput BNN di Lapas Tanjung Gusta Medan. Dari dalam kamarnya ditemukan 25 gram sabu-sabu, tiga butir pil ekstasi, timbangan digital, brankas, bilyet giro, dan sejumlah ponsel. Selain itu, ada tabungan deposito yang berisi Rp 2 miliar.

Kelompok ini pun diduga termasuk jaringan besar yang ada di Jakarta. Berdasarkan penyelidikan, total terdapat 420 orang yang pernah bertransaksi dengan kelompok ini sejak 2012. Totalnya, ada aliran dana Rp 60 miliar.

BNN sudah menyita uang dan sejumlah barang yang diduga merupakan hasil dari pencucian uang. Barang bukti yang diamankan berupa 7 buku tabungan beserta kartu ATM dan catatan mutasi rekening, ponsel Samsung, uang tunai Rp 5,65 miliar, tiga unit rumah permanen yang ditaksir bernilai Rp 1,5 miliar, satu unit mobil Toyota Calya, satu unit mobil Toyota Starlet, satu koli sepatu bermacam ukuran, dan satu koli pakaian yang dibeli dari Bandung untuk dijual kembali.

Bahkan, BNN juga menyita sebuah rumah yang berada di Dena Residence Asri 1, Pasar II Marelan yang dijadikan lokasi konferensi pers.

“Kelihatannya rumah ini sudah dipersiapkan untuk gudang penyimpanan narkoba atau lebih besar lagi. Bisa disiapkan jadi pabrik narkoba,” pungkasnya.

(ce1/pra/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up