JawaPos Radar

Fredrich: Jaksa KPK Suka Menyerang Kita Harus Lawan

26/04/2018, 17:14 WIB | Editor: Kuswandi
Fredrich Yunadi
Fredrich Yunadi usai menjalani sidang perdana kasus yang melilitnya di ruang sidang PN. Tipikor Jakarta Kamis (8/2) (Ridwan/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Pengacara Fredrich Yunadi melontarkan alasannya yang kerap berdebat kepada jaksa penuntut umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di dalam persidangan. Fredrich menyebut pernyataan Jaksa KPK selalu memberikan penyerangan dan menuduhnya mengintimidasi saksi, hal tersebut yang mendasari Fredrich kerap meluapkan kemarahan di ruang persidangan.

"JPU suka menyerang pasti kita harus melawan dong, saya juga suka disebut mengintimidasi saksi. Saya tidak mengintimidasi saksi. Saya hanya bertanya kira-kira saksi tahu nggak peraturannya? Masa sekarang JPU nggak ngerti aturan? Dia memotong kalimat saya," kata Fredrich saat ditemui di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat, Kamis (26/4).

Ketika dalam persidangan, Fredrich sempat menanyakan terhadap saksi yang dihadirkan oleh JPU KPK, dokter Mohammad Toyibi. Fredrich sempat meluapkan kekesalannya lantaran membocorkan rekam medik Setya Novanto kepada dokter KPK saat di RS Medika.

Sehingga Fredrich menilai seharusnya Toyibi tak membeberkan rekam medik kepada orang yang mengaku dokter KPK.

"Apakah sekarang KPK punya hak untuk memperkosa hukum? Jangan dong, itu harus diluruskan," tegas Fredrich.

Bahkan saat ditanya soal luka Novanto pasca kecelakaan mengalami benjolan di bagian wajahnya. Fredrich menampik bukan dirinya yang menyebutkan kalau mantan Ketua Umum Partai Golkar itu mengalami luka sebesar bakpao.

"Itu kan kalimat dari ajudan (segede bakpao). Kok sekarang jadi saya yang disalahkan," pungkasnya.

Fredrich Yunadi didakwa oleh Jaksa KPK menghalangi atau merintangi proses penyidikan kasus dugaan korupsi proyek e-KTP, yang menyeret Novanto.

Fredrich disebut bekerjasama dengan Bimanesh Sutarjo. Keduanya diduga melakukan kesepakatan jahat untuk memanipulasi hasil rekam medis Setnov yang saat itu sedang diburu oleh KPK dan Polri.

Atas perbuatannya, Fredrich didakwa melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 Ayat (1) kesatu KUHP.

(ipp/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up