JawaPos Radar

Sindikat Penggandaan Uang Berkedok Ulama Dibekuk

24/04/2018, 23:54 WIB | Editor: Budi Warsito
Sindikat Penggandaan Uang Berkedok Ulama Dibekuk
Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Antonius Agus Rahmanto saat rilis pers kasus penggandaan uang berkedok ulama (Dida Tenola/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Modus kejahatan penipuan kian beragam. Bahkan, para pelaku tidak segan-segan memanfaatkan nama besar ulama. Seperti yang dilakoni tiga orang pelaku ini.

Ketiga pelaku yang bernama Taufik, 48, asal Situbondo; Badri, 27, asal Situbondodan Ahmad, 42, warga Jember, ditangkap Unit Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak usai berhasil menipu para korbannya.

Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Antonius Agus Rahmanto menjelaskan, para pelaku berjanji bisa menggandakan uang para korbannya. Mereka mengaku sebagai ulama yang punya kekuatan spiritual.

"Ketiga tersangka ini merupakan hasil pengembangan. Sebelumnya kami sudah menangkap satu pelaku bernama M. Soleh pada Maret lalu," jelas Agus, Selasa (24/4).

Sindikat Penggandaan Uang Berkedok Ulama Dibekuk
Dua pelaku yang mengaku bisa menggandakan uang (Dida Tenola/JawaPos.com)

Sindikat tersebut katanya, bahkan sudah beraksi lintas provinsi. Selain di Surabaya, mereka juga beraksi di Situbondo, Solo dan Jember.

"Mereka mengaku sebagai ustad yang bisa menggandakan uang. Syaratnya dengan melakukan beberapa ritual. Ritual itu hanya skenario akal-akalan para pelaku. Kenyataannya mereka tidak bisa apa-apa," tambah mantan Kasubdit Ranmor Ditreskrimum Polda Metro Jaya tersebut.

Agus lantas meminta para tersangka untuk menceritakan dan mempraktekkan modus yang telah mereka rancang. Taufik mengaku, dirinya bersama Ahmad berperan sebagai ulama. Korban diminta untuk datang menemui mereka dengan membawa sejumlah uang yang akan digandakan.

"Saya selalu minta korban supaya datang ke Surabaya lebih dulu. Saya telepon mereka," beber Taufik.

Agar lebih meyakinkan, para pelaku tersebut menyewa kamar hotel. Di kamar itulah para korban menyerahkan uangnya dan melakukan beberapa ritual.

Taufik menambahkan, korban diminta untuk memakai baju kokoh. Dia lantas menyuruh korban untuk salat dua rakaat. Saat salat, salah seorang pelaku meletakkan uang yang sudah dibawa korban di depan korban. "Uangnya disuwuk (ditiup, red), sambil baca doa," tambahnya.

Selanjutnya, korban diminta untuk menunggu di rumahnya dan uang akan berlipat ganda secara otomatis. Para pelakupun mendapat bayaran karena sudah bisa menggandakan uang. Namun faktanya, itu hanya akal-akalan belaka.

Para pelaku sendiri sudah menipu sebanyak 15 kali. Dari hasil kejahatannya, mereka meraup uang senilai Rp 850 juta.

(did/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up