JawaPos Radar

Kisah Zufia Fitri, Balita Gizi Buruk yang Terserang Penyakit Kulit

22/04/2018, 07:41 WIB | Editor: Kuswandi
Balita Gizi Buruk
Zufia Fitri tergeletak lemas di sebuah kamar rumah sakit (Radar Banjarmasin/ Jawa Pos Group)
Share this image

Zufia Fitri tergeletak lemas. Raut wajahnya terlihat gelisah. Seperti menahan kesakitan tertentu saat dia dikunjungi Radar Banjarmasin (Jawa Pos) di ruang anak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) H Badarudin Tanjung, Selasa (17/4) kemarin. Di dekat Zufia, ayahnya, Harun terpaku sambil mengipasinya dengan selembar kertas. Sesekali Zufia menangis. Ayahnya menduga suntikan jarum infus untuk penambah nutrisi, dan tubuh yang sakit mungkin penyebabnya.

Keberadaannya di sana karena balita perempuan itu ditetapkan penyandang gizi buruk oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalsel. Zufia tidak mencapai berat tubuh normal di usianya. Hanya lima kilogram. Apalagi kondisi tubuhnya yang diselimuti penyakit kulit seperti luka bakar.

Dijelaskan Harun, satu pekan terakhir penyakit kulit itu menjalar ke seluruh tubuh anaknya. “Pertamanya sedikit saja, lalu diberi obat kulit sama mamanya beli dari warung, ternyata langsung banyak,” katanya.

Karena menjalar begitu banyak di seluruh tubuh, kecuali wajah, Harun dan istrinya, Willi, membawa anak mereka ke Rumah Sakit Pertamina Tanjung. Namun, tidak lama dirawat, harus dialihkan ke RSUD H Badarudin Tanjung.

Setidaknya pada Rabu (18/4) malam kemarin mereka masuk rawat inap ruang anak. Sebanyak dua kali, Zufia diambil darah dan diduga mengidap Acrodamatitis Enthopatika atau penyakit kulit yang disebabkan metabolisme tubuh sang bayi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tabalong Taufiqurrahman, melalui Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi, Catur Yudha mengatakan, penyakit itu muncul diduga karena pemberian obat kulit yang tidak tepat kepada tubuh bayi. “Tubuh bayi itu sensitif, jadi rentan terhadap penyakit kulit,” jelasnya.

Seharusnya ibunya tidak langsung memberi obat kulit ke bayinya sendiri, melainkan harus dibawa ke Posyandu terdekat. Kalaupun tidak, menuju Puskesmas. Sebab tidak sembarangan memberi obat ke bayi.

Tubuh yang hanya lima kilogram juga dicetuskannya sebagai gizi buruk. Seharusnya Zufia standar berat tubuhnya delapan sampai sepuluh kilogram.

Dengan begitu, dia berharap orang tuanya bisa mengerti agar anaknya dirawat di RSUD sampai sembuh. Semua pembiayaan akan dikenakan Jaminan Tabalong Sehat (JTS), karena keluarganya ternyata tergolong miskin.

Walau sudah mendapatkan bantuan, Catur Yudha berharap keluarga selanjutnya rutin mengunjungi Posyandu terdekat untuk memeriksakan kondisi anaknya.

Nenek Zufia, Pijah, mengatakan, keluarga anaknya memang tidak berkecukupan. Terlebih ketika Harun diputus hubungan kerja dari profesinya sebagai supir truk pengangkut batu. Kini, dia ada tidak ada pekerjaan sama sekali. “Semua kebutuhan hidupnya jadi kami yang menanggung sementara,” jelasnya.

Yang paling parah, kehidupan berpindah satu kontrakan ke kontrakan lain sudah dilakoni Harun sekeluarga. Kemungkinan karena biaya hidup yang tidak memadai, terakhir mereka tinggal di Desa Kasiau, Kecamatan Murung Pudak.

“Keluarganya punya anak lima, satu orang meninggal dunia. Zufia ini anak terakhir. Paling besar sudah sekolah kelas satu SD (sekolah dasar),” cerita Pijah.

Bidan Desa Kasiau Daeri yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat sangat menyayangkan kondisi Zufia. Sebab, orang tua sang anak sangat jarang berkomunikasi kepadanya.

“Orang tuanya jarang ke Posyandu, alasannya mereka tidak punya kendaraan. Jadi kami datangi,” jelasnya.

Ia tidak mengetahui ketika Zufia ternyata sudah berada di RSUD H Badarudin Tanjung untuk mendapatkan perawatan. Informasi datang dari Dinkes setempat, barulah diketahui kondisinya sudah demikian. 

(wnd/jpg/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up