JawaPos Radar

Hari Kartini

Perjuangan Wanita Paruh Baya Membelah Sungai Siak Untuk Nafkahi Anak

21/04/2018, 11:20 WIB | Editor: Budi Warsito
Perjuangan Wanita Paruh Baya Membelah Sungai Siak Untuk Nafkahi Anak
Dewi Hendra perempuan berusia 50 tahun yang telah bekerja sebagai tukang ojek sampan di Sungai Siak, Kota Pekanbaru, Riau selama 34 tahun. (Virda Elisya/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Kulit di kedua tangannya sudah mulai keriput, namun masih cekatan memegang pendayung. Tenaganya pun kuat menggerakkan perahu melawan arus air. Hal itu dilakukannya setiap hari untuk mencari nafkah yang halal.

Wanita berkulit sawo matang dan pekerja keras itu bernama Dewi Hendra. Diusianya yang ke 50 tahun, ia setiap hari membelah Sungai Siak, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Ia mengais rezeki dengan melakoni pekerjaan sebagai ojek perahu.

Setiap hari ia harus mengucurkan keringatnya di tengah teriknya sinar matahari. Namun, tak sedikitpun ia mengeluh. Itu semua dilakukannya demi anak-anaknya. Pekerjaan sebagai ojek perahu pun sudah dilakoninya sejak 34 tahun lalu.

Perjuangan Wanita Paruh Baya Membelah Sungai Siak Untuk Nafkahi Anak
Dewi Hendra perempuan berusia 50 tahun yang telah bekerja sebagai tukang ojek sampan di Sungai Siak, Kota Pekanbaru, Riau selama 34 tahun. (Virda Elisya/JawaPos.com)

Perempuan kelahiran Bandung, Jawa Barat itu telah dikarunia tujuh orang anak dari suami bernama Yohan Kambarudi Siregar, 59. Setiap hari, Ia memulai jasanya mengantarkan warga dan anak sekolah untuk menyeberang dari pukul 06.00 hingga 20.00 WIB.

Meskipun harus bekerja sampai malam, tapi dia tak merasa takut sedikitpun. Bahkan saat air sedang pasang akibat hujan, ia tetap mendayung sampan yang baru digantinya dua tahun lalu.

"Saya gak takut karena kan udah biasa. Cuma kalau air sedang pasang itu agak berat mendayungnya ke seberang. Karena melawan arus," ‎ujarnya kepada JawaPos.com, Jumat (20/4).

‎Dalam sehari, Dewi bisa mendapatkan uang sebesar Rp 30 ribu. Tentunya angka tersebut terbilang pas-pasan. Namun baginya, itu dapat menambah penghasilan untuk biaya anak-anaknya. Setidaknya, pemasukkan mereka bertambah. Dimana suaminya bekerja sebagai buruh di PT Abadi, Jalan Karet mendapatkan gaji sebesar Rp 1,5 juta perbulan.

"Masih ada lima orang anak yang tinggal sama saya. Dua lagi sudah menikah, paling kecil kelas tiga SD (Sekolah Dasar). Ditambah lagi untuk beli beras, gas sama listrik. Belum lagi uang sekolah dan jajan anak. Iya pas-pasan lah. Ya harus dicukup-cukupkan," tuturnya.

Selain itu, Dewi harus merawat perahunya setiap bulan dengan cara mengolesinya dengan oli. Selain itu, Ia pun harus menggantinya setiap empat tahun sekali. Satu perahu yang bisa memuat 12 orang itu, biasanya dibeli Dewi seharga Rp 7 juta.

"Ini agak murah karena sudah langganan,"tambahnya.

‎Dewi bersama keluarganya tinggal di sebuah rumah yang terbuat dari papan kayu yang sederahana. Lokasinya di bawah jembatan Siak IV penghubung Jalan Jenderal Sudirman ke Kecamatan Rumbai, yang saat ini masih dalam pembangunan.

Sebelumnya, Dewi sempat tinggal di lokasi pembangunan jembatan tersebut. Namun, karena pada tahun 2009 lalu Pemprov Riau memproyeksikan pembangunan jembatan, maka Dewi dan warga lain yang memang mencari uang di sekitar bantaran sungai terpaksa digusur.

"Saya terima uang ganti rugi Rp 35 juta dulu. Sudah lama pindah sejak dibangunnya jembatan itu sama pemerintah. Rumah sekarang ini istilahnya numpang sama kontraktor," ucapnya.

Dewi sebenarnya merasa berat hati dengan adanya pembangunan jembatan. Bagaimana tidak, setelah dibangunnya tiga jembatan dan satu jembatan yang masih dalam pengerjaan ini, pundi-pundi rupiah yang didapatkannya per hari semakin berkurang.

"Kalau dulu sehari bisa dapat sampai Rp 150 ribu, tapi kalau udah dibangun jembatan kan semakin berkurang. ‎Ya sedih. Orang banyak yang bilang sama saya supaya sabar, kalau yang namanya rezeki kan enggak kemana. Tapi bingung mau kerja apa kalau udah selesai jembatannya," katanya.

Dewi berharap, meskipun pemerintah membangun jembatan, tapi pemerintah dapat memperhatikan nasib warga pinggiran sungai Siak yang mencari nafkah dari salah satu sungai terdalam itu.

(ica/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up