JawaPos Radar

Hari Kartini

Miris, Kartini 'Zaman Now' Lebih Pilih Nikah Muda Dibanding Belajar

21/04/2018, 05:50 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Miris, Kartini 'Zaman Now' Lebih Pilih Nikah Muda Dibanding Belajar
ilustrasi nikah muda (Dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com — Seluruh masyarakat Indonesia tengah merayakan Hari Kartini. Hari ini melambangkan emansipasi perempuan yang diperjuangkan Raden Ajeng Kartini.

Namun, perempuan 'zaman now' malah lebih memilih menikah muda. Hal ini terlihat dari angka pernikahan dini di kabupaten/kota di Sulut yang cukup tinggi. Para keke bumi Nyiur Melambai nasibnya terancam kelam.

Bidang Advokasi Swara Parangpuan Sulut Nurhasana mengungkapkan, sampai sekarang belum ada perhatian yang melindungi secara melekat terhadap anak dan perempuan. Untuk itu, sudah selayaknya pemerintah memperhatikan anak dan perempuan lewat peraturan khusus atau sejenisnya.

"Kita selalu berharap ada anggaran dan peraturan gubernur yang melindungi perempuan dan anak di Sulut. Jadi kalau sudah ada peraturannya tentunya ini satu kemajuan dari perhatian pemerintah. Kita akan siap membantu pemerintah untuk secepatnya membentuk peraturan ini," ujarnya seperti dikutip Manado Post (Jawa Pos Grup), Sabtu (21/4).

Sementara itu, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Pemprov Sulut mulai merencanakan peraturan gubernur (pergub) tentang perkawinan. Pergub tersebut ditujukan untuk menekan angka perkawinan dini. Kepala DP3A Sulut Mieke Pangkong mengatakan, perencanaan tersebut agar anak di Sulut lebih berkualitas.

"Dalam Undang-Undang (UU), anak bisa kawin di usia 16 tahun untuk perempuan dan 18 tahun bagi laki-laki. Tapi kemungkinan bakal direvisi. Laki-laki 22 tahun, sedangkan perempuan 20 tahun," jelas Mieke.

Revisi aturan tersebut, kata Pangkong, sudah mulai diwacanakan. Pemerintah inging meningkatkan kualitas generasi perempuan. "Seharusnya di usia (18 dan 20) mereka fokus belajar bukan menikah," ungkapnya.

Pihaknya pun mendorong tahun ini pergub tentang perkawinan sudah disusun. Alasannya, perempuan dengan usia di bawah 20 tahun masih sangat labil.

"Rata-rata belum matang menghadapi persoalan hidup. Harusnya mereka masih di usia sekolah yang tugasnya lebih banyak belajar. Jadi untuk memberikan perhatian terhadap anak, kita membuat pergub ini," jelas Mieke.

Salah satu sumber perempuan yang menikah di usia 19 tahun mengaku, alasan nikah dini karena faktor ekonomi. Awalnya, dia mengaku berat menikah di umur yang masih belia. Tetapi semua sudah terlanjur.

"Awalnya sempat menyesal. Akhirnya tetap menikah. Padahal saya bercita-cita ingin membahagiakan orang tua dan akan kuliah mengambil jurusan kedokteran," cerita ibu muda tersebut.

Dia pun berharap, generasi muda yang lain jangan terjerumus dalam nikah dini.

(srs/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up