Rabu, 25 Apr 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

International Colleges of Surgeons Bawa Harapan Baru (1)

Sempat Terkendala Bahasa saat Mengajar

| editor : 

BERBAGI PENGETAHUAN: Prof Paul Tahalele (tiga dari kanan) mengajarkan proses Cimino shunt kepada dokter muda FK Universitas Pattimura saat berada di Ambon.

BERBAGI PENGETAHUAN: Prof Paul Tahalele (tiga dari kanan) mengajarkan proses Cimino shunt kepada dokter muda FK Universitas Pattimura saat berada di Ambon. (DWI WAHYUNINGSIH/JAWA POS)

Kehadiran tim International Colleges of Surgeons di Maluku selama lima hari (4–8/4) meninggalkan banyak kisah. Tidak hanya bagi pasien yang mendapatkan bantuan pengobatan, tetapi juga bagi para profesor yang datang dari berbagai negara. Meski ada kendala bahasa, tenaga kesehatan yang dilatih cepat belajar.

DWI WAHYUNINGSIH

KEDATANGAN tim International Colleges of Surgeons (ICS) di Kota Ambon membawa angin segar. Khususnya bagi pasien di RSUD dr M. Haulussy. Misalnya, pasien dengan hemodialisis (cuci darah). Pada Kamis (5/4) atau hari kedua tim di Ambon, mereka tidak sabar untuk menjalani Cimino shunt, pembuatan akses di pembuluh darah untuk pasien hemodialisis.

"Ada 15 pasien, katanya, yang dilakukan tindakan. Tapi, nanti kami lihat waktunya juga, cukup atau tidak," kata Prof Dr dr Paul Tahalele SpBTKV(K), president ICS Indonesia Section. Memang, tindakan operasi itu baru dimulai sekitar pukul 11.00 WIT. Persiapan cukup memakan waktu.

Keterbatasan peralatan menjadi salah satu problem. Meski sudah ditambah peralatan yang dibawa tim ICS dari Surabaya dan Taiwan, jumlahnya belum mencukupi. Apalagi, hari itu peralatan tersebut harus dibagi dengan tim bedah saraf yang mengerjakan ventriculoperitoneal (VP) shunt.

Paul menjadi operator Cimino shunt. Dia dibantu Prof Wang Shih Hsien, ahli bedah anak dari Taiwan. Dalam kesempatan tersebut, dokter lulusan Universitas Airlangga tersebut membagikan ilmu pengetahuan kepada para dokter muda yang menjalani koas di stase bedah.

Ketika serius di ruang operasi, tiba-tiba saja listrik padam. Ruangan menjadi gelap dan tindakan terpaksa dihentikan. "Waduh, bagaimana ini? Kenapa bisa mati listriknya?" tanya Paul kepada beberapa staf rumah sakit yang berada di dalam kamar bedah.

Tindakan VP shunt di ruang operasi sebelah pun terhenti. Untung, mereka belum membuka batok kepala. Baru membius pasien. Meski listrik padam tidak sampai 5 menit, hal itu cukup membuat para dokter di ruang operasi menahan napas. Sekitar setengah jam kemudian, tegangan listrik kembali turun. Untung, kali ini listrik tidak sampai padam.

Selain Paul, dr Elvida Christi I. T MBiomed SpB, dokter dari RSUD dr M. Haulussy, turut menjadi operator. Dia didampingi Prof Chen Huai Min, ahli bedah kardiovaskuler asal Taiwan. Dalam kesempatan itu, Vivi –sapaan Elvida– mendapat tambahan ilmu baru.

Sebagai ahli bedah kardiovaskuler, tentu Chen kaya pengalaman mengutak-atik pembuluh darah. Dia membagikan ilmu tersebut kepada Vivi selama mengerjakan tindakan Cimino shunt. "Saya ajarkan cara melakukan diseksi vaskuler yang baik," tutur Chen.

Profesor asal Kaohsiung Medical University tersebut memberikan tip serta trik mencari dan membedakan arteri dan vena secara cepat di lokasi-lokasi tertentu. Terutama lokasi Cimino shunt.

Sebelum tindakan tersebut, pasien menjalani pembiusan lokal di bagian lengan yang akan dilakukan arteriovenous (AV) shunt. Dalam melakukan tindakan ini, tidak ada alat apa pun yang dipasang. Operator menggabungkan pembuluh darah vena dan arteri untuk kemudian membentuk sambungan.

"Untuk Cimino shunt, di sini jarang mengerjakan. Jadi sedikit kaku juga saat awal melakukan tindakan tadi," ulasnya. Alasannya, BPJS Kesehatan tidak meng-cover tindakan tersebut. Bila membutuhkan, pasien harus ke Makassar untuk mendapatkan tindakan tersebut.

Waktu yang dibutuhkan saat mengerjakan tindakan pada pasien pertama cukup lama. Tindakan lebih banyak dilakukan Chen daripada Vivi. Setelah mendapat penjelasan langsung sambil praktik, Vivi lebih paham. Kondisi itu sangat mengesankan bagi Chen.

"Saya senang melihat perkembangan Vivi yang begitu cepat. Saat menangani pasien keempat, dia sudah mengerjakannya dengan sangat baik," papar Chen.

Meski anggota tim ICS sudah turun tangan secara maraton, tidak semua pasien mendapat tindakan. "Tadi ada juga pasien yang terpaksa dibatalkan tindakannya karena pembuluh darahnya terlalu kecil," kata dr Fransiscus Arifin SpB, operator Cimino shunt.

Mengetahui kejadian itu, tim operasi melakukan screening awal di ruang tunggu operasi. Untuk mereka yang terindikasi pembuluh darahnya kecil, menurut dokter yang berpraktik di RSUD dr M. Soewandhie Surabaya tersebut, tindakannya ditunda.

Tidak hanya tindakan di ruang operasi Cimino shunt yang menyimpan kisah. Operasi VP shunt pada pasien tumor dengan hidrosefalus juga memiliki cerita tersendiri. VP shunt merupakan pemasangan slang untuk mengalirkan cairan yang berlebihan di otak, kemudian dibuang melalui rongga perut.

Para dokter menggunakan bor manual untuk membuka batok kepala Megawati Malaka. "Di rumah sakit sini tidak ada bedah saraf. Jadi, peralatannya tidak ada," ungkap Prof Kwan Aij Lie.

Bor manual itu dibawa profesor dari Department of Surgery and Division of Neurosurgery Kaohsiung Medical University tersebut dari Taiwan. "Saya terakhir menggunakan bor ini sekitar dua atau tiga tahun lalu," sambung Wang Hung Chen.

Untung, pembedahan berlangsung sukses. Menjelang kepulangan ke Surabaya beberapa hari kemudian, tim ICS visite pasien. Kondisinya membaik. Beberapa gerakan yang dulu tak bisa dilakukan kini mampu dilakukannya. Bila pemulihan berlangsung baik, Mega bisa dirujuk untuk persiapan operasi pengangkatan tumor kepala.

Anggota tim ICS yang lain memberikan workshop basic life support (BLS) alias bantuan hidup dasar dan wound care (penanganan luka). Dua hal itu sangat penting dalam penanganan kegawatdaruratan di wilayah kepulauan.

Meena Nathan Cherian, former lead WHO Emergency & Essential Surgical Care Program, menjadi pemateri workshop tersebut. Dokter spesialis anestesi tersebut mengajarkan cara BLS dengan baik dan benar. "Perbedaan bahasa sempat merepotkan. Tetapi, dengan bantuan penerjemah, mereka antusias bertanya apa yang belum dimengerti," tutur Meena.

Selain Meena, ada dr Pablo Roberto Elias Ruiz, Prof Huang Chun Hsiung, dan dr Kun Arifi Abbas SpAn yang turut mengisi workshop. "Peningkatan sumber daya manusia (SDM) di rumah sakit ini sangat dibutuhkan. Mereka perlu tambahan ilmu terbaru untuk bisa menangani pasien dengan lebih baik," ujar Hadijah Latuconsina SKep MKep Ners, wakil direktur Pelayanan Medis RSUD dr M. Haulussy. Apalagi, jumlah tenaga kesehatan di rumah sakit tersebut memang terbatas.

Dia berharap program semacam ini bisa rutin diadakan. Dalam kegiatan yang bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura tersebut, RSUD dr M. Haulussy mendapat bantuan berupa peralatan medis. 

(*/c5/nda)

Sponsored Content

loading...
 TOP