Kamis, 26 Apr 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Pemilihan

Pemilu 2019 KPU Siapkan Kotak Suara Keliling di Negara Konflik

| editor : 

KPU

Ilustrasi: KPU (Dok. JawaPos.com)

JawaPos.com - Jelang pemilihan umum (pemilu) 2019 Komisi Pemilihan Umum (KPU) memberikan atensi khusus bagi pemilih di luar negeri, terutama di negara rawan konflik seperti Timur Tengah. Selain tingkat partisipasi yang selama ini terbilang rendah, namun tingkat keselamatan pemilih juga tidak bisa diabaikan.

Ketua Kelompok Kerja (pokja) 8 pemilihan luar negeri, Wajid Fauzi mengungkapkan selama ini rendahnya angka pemilih luar negeri karena permasalahan yang berbeda-beda di setiap negara. Maka Fauzi mendorong agar Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) agar tak patah arang menjalankan tugasnya.

"Dinamika di lapangan itu berbeda-beda. Apa yang kita hadapi di Timur Tengah, beda dengan Malaysia dan negara lain. Tetapi yang kita mohonkan kepada PPLN, jangan patah semangat menghadapi berbagai kendala," ungkap Fauzi di gedung KPU Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (17/4).

Agar memperlancar pelaksanaan pemilu di luar negeri, maka PPLN akan melakukan kordinasi dengan pemerintah setempat. Fauzi juga menegaskan bahwa sekalipun di negara rawan konflik KPU tetap membentuk PPLN untuk memastikan hak suara para WNI digunakan sebagai mestinya.

PPLN di negara rawan konflik nantinya akan memonitor para WNI agar keamanannya terjamin saat pelaksanaan pemilu. Meski demikian agenda ini tidak akan berjalan lancar jika tidak didukung oleh para pemilih itu sendiri.

"Dia (PPLN) akan memonitor warga negara Indonesia yang terkendala keamanan. Jadi intinya adalah di manapun warga negara Indonesia, kita buka kesempatan untuk mendaftar. Oleh karena itu ini harus dua pihak, warga negara juga harus interaktif," lanjut Fauzi.

Khusus mulai tahun ini, panitia melakukan terobosan baru dengan menyediakan kotak suara keliling (KSK) di negara rawan konflik. Nantinya panitia yang akan mendatangi para pemilih untuk melakukan pencoblosan.

"Ada cara untuk mengambil suara mereka. seandainya tidak kita gunakan TPS, kita gunakan KSK, kotak suara keliling. Jadi jemput bola itu caranya, dengan itu diharapkan WNI tidak menghadapi resiko keamanan," pungkas Fauzi.

Fauzi sendiri menargetkan tingkat partisipasi pemilih luar negeri di pemilu 2019 bisa meningkat hingga 50 persen. Atau meningkat sekitar 17 persen dari tingkat partisipasi pemilu 2014 yang hanya 33 persen.

(sat/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP