Jumat, 27 Apr 2018
Logo JawaPos.com
Pemilihan

Sudirman Said Janji Hapuskan Aturan Full Day School

| editor : 

Sudirman Said

Calon gubernur Jawa Tengah Sudirman Said memberi keterangan kepada wartawan saat menyambangi kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Semarang, Senin (16/4). (Tunggul Kumoro/JawaPos.com)

JawaPos.com - Calon gubernur Jawa Tengah Sudirman Said menilai aturan full day school salah kaprah dan harus segera dihentikan. Menurutnya, aturan itu merupakan langkah pemerintah yang kurang tepat.

Pernyataan tersebut diutarakannya saat pasangan Ida Fauziyah itu menyambangi kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Semarang, Senin (16/4). Dimana Sudirman awalnya mendapati banyaknya keluhan akan sistem lima hari sekolah dari salah satu tokoh NU.

Unek-unek itu lebih tepatnya datang dari Ketua PWNU Jateng Abu Hafsin yang menilai kebijakan full day school berpotensi mematikan mematikan Madrasah Diniyah (Madin). Abu kemudian meminta siapapun gubernurnya agar dapat mencabut kebijakan kontroversial itu.

"Harapan kami gubernur nanti bisa mendukung keinginan NU. Dulu kami ingin mengubah lima hari sekolah. Kami adakan posko pengaduan, sampai ada aksi massa menolak kebijakan itu," ujar Abu Hafsin.

Abu Hafsin pun berpendapat, jika sekolah ingin menerapkan kebijakan lima hari sekolah, maka harus dilakukan secara sukarela. "Tanpa imbauan, apalagi paksaan," sambungnya.

Mendengar keluhan tersebut, Sudirman berujar, pemerintah seharusnya mampu mendorong sistem pendidikan yang ada di masyarakat berjalan dengan baik. Bahkan, sebuah pendidikan harus berpedoman pada karakter keagamaan tiap daerah.

"Mewajibkan lima hari sekolah itu salah, sama saja menubrukkan dua elemen masyarakat, dan harus dicabut," tegasnya.

Pasalnya, Sudirman sendiri berpendapat di Jawa Tengah, pendidikan agama dan keagamaan sudah jadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat. Sehingga, eksistensi sekolah sore, pendidikan informal, maupun madin harus tetap hidup karena itu bagian dari pembentukan pendidikan karakter. 

"Kami tak ingin tubrukan keduanya, tapi kami menjamin sekolah sore, madin, pendidikan informal yang menjadi pendidikan karakter harus tetap hidup," ungkap mantan Menteri ESDM itu.

Pendidikan karakter padahal, lanjutnya berada pada posisi yang tak bisa diabaikan. Dimana moral bangsa, terutama generasi muda saat ini sedang diuji hebat-hebatya.

"Nanti harus difasilitasi. Sekolah negeri kan pembinaannya oleh Kemenag, tapi selain itu (swasta) harus dipikirkan. Membina Madrasah swasta itu perlu," imbuhnya. 

(gul/JPC)

Alur Cerita Berita

Sponsored Content

loading...
 TOP