Senin, 23 Apr 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Today

Korban Penipuan Investasi Haji Global Insani

Tukang Urut: Saya Daftar Haji Dibilang Investasi Saja, Kalian Biadab!

| editor : 

Korban penipuan investasi haji Global Insani, Tanjan menunjukkan bukti sertifikat pembayaran investasi haji.

Korban penipuan investasi haji Global Insani, Tanjan menunjukkan bukti sertifikat pembayaran investasi haji. (Wildan Ibnu Walid/JawaPos.com)

JawaPos.com - Tanjan, 63, bersama istrinya, Sunati Saniah, 42, tak henti-hentinya menyeka air mata. Kesedihan mereka tak terbendung saat Direktur Utama BMT Global Insani, H Basuni menyangkal adanya program haji dan umrah. Basuni menganggap uang puluhan juta yang mereka setorkan hanya sebatas investasi biasa.

Bertahun-tahun mereka menabung demi bisa beribadah ke tanah suci dari jerih payahnya sebagai tukang urut keliling. Namun, harapannya seakan lenyap seketika. H Basuni bersikeras bahwa Tanjan bersama istrinya tidak terdaftar sebagai peserta program investasi haji.

Air mata kekesalannya menetes tak tertahankan. Tanjan mengaku tak habis pikir dengan perlakuan jajaran direksi yang sudah menipu dan menilap uang Rp 90 juta lebih yang dibayarkan ke BMT Global Insani.

Bibirnya bergumam bergetar sambil mengumpat kalimat kekecewaan. Seraya tak menyangka, jika Bos Global Insani itu memperlakukan dirinya dan ribuan jamaah calon haji lain.

Ibarat habis manis sepah dibuang, nasabah investasi haji dan umrah hanya dimanfaatkan uangnya saja untuk kepentingan pribadi jajaran direksi untuk melanggengkan bisnisnya.

"Ya Allah. Bapak ini sangat gila. Jelas-jelas kami mendaftar, ini bukti-buktinya. Ini (kuitansi pembayaran) siapa yang buat? Siapa yang menandatangani. Masih nggak ngaku juga. Saya waktu itu bayar ke Global Insani," teriak Tanjan sambil menyeka air mata saat pertemuan ribuan nasabah dengan jajaran direksi BMT Global Insani di Hotel Apita, Kabupaten Cirebon, Minggu (16/4).

Nasabah asal Desa Penyindangan, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu tersebut mengaku, pada 2013 lalu ia mengikuti program investasi haji sekaligus qiradh. Hasil uang yang disisihkan sebagai tukang urut keliling dan pengajar TK selama bertahun-tahun itu, Tanjan mengaku langsung membayarkan ke Global Insani.

Saat itu, bapak lima anak tersebut dijanjikan untuk berangkat haji pada 2018 ini. Akan tetapi, pada 2017 lalu keadaan perusahaan beralasan pailit dan tidak bisa menyelenggarakan haji dan umrah.

Atas kondisi pailit itu, pada 31 Maret 2017 lalu, Basuni membuat surat pernyataan akan mengembalikan uang nasabah pada April 2018 ini. Akan tetapi, penyelesaian uang nasabah tak kunjung dibayarkan.

Uang yang dibayarkan untuk investasi haji, ia bersama istrinya, masing-masing Rp 25 juta. Sehingga pembayaran untuk dua orang sebesar Rp 50 juta.

Tanjan pun ikut program investasi qiradh bagi hasil usaha jahe yang dikelola oleh PT Surabraja Mandiri (SBM), keseluruhannya mencapai Rp 40 juta. Sehingga, Tanjan bersama istrinya merogoh kocek dalam-dalam agar niat mereka pergi ke Baitullah bisa tercapai.

"Awalnya seperti itu. Mereka bilang investasi haji tidak akan pailit. Karena dibackup oleh PT SBM, usahanya macam-macam. Tapi setelah pailit, dia (Basuni) hanya usaha jahe saja. Saya daftar haji, bilangnya investasi saja. Benar-benar biadab," kesal Tanjan.

(wiw/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP