Selasa, 24 Apr 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Melirik Bisnis Batok Kelapa

Dari Limbah Tak Berguna Disulap Menjadi Cairan Pembeku Karet

| editor : 

Cairan Pembeku Karet

CAIRAN PEMBEKU: Seorang pekerja tengah menunggui hasil penyulingan dari limbah batok kelapa menjadi cairan pembeku karet (Alwi Alim/JawaPos.com)

JawaPos.com – Di tangan ahlinya, siapa yang menyangka batok kelapa yang merupakan limbah tak berguna dan hanya berakhir di tempat sampah kini dapat berubah menjadi sebuah olahan yang sangat bermanfaat terutama bagi petani karet di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumsel.

Hal ini dilakukan oleh kelompok Usaha Ekonomi Masyarakat (UEM) Desa Nusa Serasan Kecamatan Sungai Lilin Kabupaten Muba, Sumsel. Direktur BUMDes dan kelompok Usaha Ekonomi Masyarakat (UEM) Karya Utama, Ahmad Fajari mengatakan pemanfaatan limbah batok kelapa tersebut bermula dari banyaknya limbah yang berserakan dimana-mana.

Dari sejumlah penelitian dan proses uji coba akhirnya didapati kemanfaatan dari batok kelapa. Pengolahan limbah batok kelapa sendiri, imbuhnya baru dilakukan sejak 6 bulan lalu, berawal dari informasi dan kemudian dibantu oleh salah satu perusahaan di bidang gas.

Cairan Pembeku Karet

Proses pembuatan cairan pembeku karet atau lateks (Alwi Alim/JawaPos.com)

"Kami melihat limbah batok kelapa ini selalu ada dimana-mana sehingga kami melakukan penelitian bagaimana caranya agar batok ini dapat dimanfaatkan terutama bagi petani karet karena memang di wilayahnya banyak petani yang bertumpu pada kebun karetnya," katanya saat dihubungi JawaPos.com, Minggu (15/4).

Setelah mendapatkan inspirasi, pihaknya kemudian dibantu oleh sejumlah pihak berupaya untuk mewujudkan hal tersebut. Dan terbukti, ia dan bersama lima warga desa yang tergabung dalam kelompok usaha berhasil mengubah limbah batok kelapa ini menjadi olahan yang berguna yakni cairan pembeku karet.

Dalam sebulan, Ahmad mengaku mampu memproduksi asap cair grade-3 berlabel Ayam Jago ini mencapai 2 ribu liter per bulan dengan menggunakan limbah batok kelapa sebanyak 40 kilogram.
Produksi ini kemudian dikemas dalam botol berisi 1 liter dan 500 mililiter dan kemudian dijual seharga Rp 18 ribu per botol.

"Alhamdulillah, dengan ini kami mampu membantu para petani terutama petani karet. Selain itu juga mampu meningkatkan perekonomian warga desa," ujarnya.

Ia menjelaskan, metode pengelolahnya sendiri yaitu limbah batok kelapa dibakar di dalam tungku, kemudian asap dari pembakaran tersebut disalurkan ke pipa yang dialiri air dingin, sehingga menghasilkan proses pengembunan.

Tetesan embun kemudian dikumpulkan dan diendapkan selama 21 hari dan setelah itu cairan grade 3 ini sudah dapat digunakan untuk membekukan karet.

"Ke depan kami akan berupaya untuk menjadikan cairan ini menjadi grade 2 dan grade 1," harapnya.

Saat ini, lanjut Akhmad, pihaknya juga telah mendapatkan bantuan permodalan dari pemerintah setempat sebesar Rp 134 juta ditambah dengan Kementrian Pedesaan, Pembangunan Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes dan PDTT) sebesar Rp 50 juta. Semua itu demi pengembangan limbah batok kelapa tersebut

"Kami juga akan melakukan penelitian agar cairan ini bisa menjadi pengawet makanan, olahan kosmetik dan lain sebagainya," tutupnya.

(lim/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP