Rabu, 25 Apr 2018
Logo JawaPos.com
Features

Kisah Tragis Jamaah Abu Tours (Bagian II)

Derita Unmereng, 8 Tahun Narik Becak untuk Ditipu Paket Umrah Murah

| editor : 

Korban Abu Tours

Unmereng, 63, warga di Dusun Cendranae, Desa Marumpa, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros Sulawesi Selatan yang menjadi korban Abu Tours (Sahrul Ramadan/JawaPos.com)

JawaPos.com - Beragam cerita pilu terkait kasus dugaan penipuan yang dilakukan oleh Abu Tours mengemuka. Terlebih hingga kini, ribuan korban jamaah umrah Abu Tours tak terurus pasca penetapan tersangka Bos Abu Tours, Hamzah Mamba.

Selain tidak ada kepastian keberangkatan, para korban Abu Tours juga tidak mendapatkan kepastian pengembalian uang yang telah disetorkannya kepada pihak manajemen. Seperti halnya yang terjadi pada Unmereng, 63, warga di Dusun Cendranae, Desa Marumpa, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros Sulawesi Selatan.

Ia merupakan salah seorang dari puluhan ribu calon jamaah yang merupakan korban Abu Tours. Kepada JawaPos.com, saat ditemui di rumahnya di kawasan dusun Cendranae, belum lama ini, pria renta yang berprofesi sebagai tukang becak ini menceritakan bagaimana harus berjibaku mengumpulkan sepeser recehan sejak 8 tahun silam tepatnya sejak 2010 lalu, hanya untuk menginjakkan kaki di tanah suci Mekah.

Kesehariannya, Unmereng mengaku ikhlas mengayuh becaknya hingga berupuluh-puluh kilometer, dari pasar ke rumah-rumah, menyusuri jalan panjang, masuk ke jalan perkampungan mengantarkan penumpang dan barang-barang lainnya. Kata Ummereng, semua itu dilakukan hanya untuk niat tulusnya, melaksanakan ibadah ke Mekkah.

"Saya punya niat itu sudah lama sekali. Pas masuk 2010 saya mulai kumpulkan uang hasil becak dalam satu hari, kadang dapat Rp 30 ribu, separuhnya dipakai untuk makan, separuhnya ditabung supaya bisa berangkat," kata Ummereng.

Korban Abu Tours

Korban Abu Tours, Ummereng, 63, bersama isterinya Siti Fatimah, 60, saat ditemui di rumahnya di Dusun Cendranae, Desa Marumpa, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Senin (9/4). (Sahrul Ramadan/JawaPos.com)

Sejak awal 2010 lalu tepatnya, Ummereng mengawali niatnya untuk berangkat menunaikan ibadah umrah bersama isterinya, Sitti Fatimah, 60. Dari situ, kerja keras terus ia lakukan. Semangatnya untuk tak menyerah dengan keadaan terus ditanamkan beriringan niatnya yang begitu besar. Bagi ayah 4 anak ini, kondisi fisik di usia renta tak boleh jadi penghalang agar ibadahnya bisa dilaksanakan. Dengan dukungan dan doa agar diberi kesehatan dari sang isteri dan keluarga lainnya, Ummereng terus bekerja.

Unmereng mulai menarik becak sejak pukul 08.00-17.00 WITA. Ia mengawali kerjanya dari pasar yang terletak sekitar 1 km dari rumahnya. Disanalah ia mulai mengais rejeki. Ummereng mengaku tidak banyak penghasilan yang diterimanya per hari, berkisar Rp 30-60 ribu.

"Tidak menentu juga. Itu biasanya dalam 1 hari full. Kadang dibawah Rp 30 ribu juga, seadanyalah sukur-sukur kalau dapat di atasnya itu sampai Rp 60 ribu," akunya.

Di rumah, Ummereng tinggal bertiga bersama isteri dan anak bungsunya yang juga telah berkeluarga. Sementara 3 anaknya yang lain telah merantau ke luar Sulsel bersama keluarganya masing-masing. Sang isteri Siti Fatimah, pada tahun 2008 sempat menjadi buruh kasar di salah satu pabrik ikan di kampung tersebut. Hanya saja, karena perusahaan mempertimbangkan umurnya yang memasuki usia senja, Siti Fatimah akhirnya diberhentikan dari perusahaan itu.

"Sudah lama, kalau tidak salah tahun 2011 sudah berhenti kerja. Uangnya dia juga kita tabung sama-sama untuk berangkat umrah sama-sama," kata Ummereng lagi.

Ummereng juga mengaku, sempat terlibat dalam arisan dengan seluruh warga desa untuk menambah pundi-pundi uang yang akan digunakan untuk umrah. Beberapa tahun berselang, tepatnya 2017, Ummereng mendapatkan kabar dari tetangga sekampungnya, bahwa perusahaan Abu Tours menyediakan paket umrah murah meriah. Untuk mengikuti paket umrah tersebut, oleh agen Abu Tours yang bertempat di Maros, Ummereng diwajibkan menyetorkan dana sebesar Rp 19 juta rupiah untuk 2 orang.

Merasa kalau uang yang bakal digunakan untuk berangkat umrah mencukupi, ia pun mendaftarkan dirinya bersama Isteri. Resmi mendaftar di pertengahan Januari 2017, oleh agen Abu Tours Ummereng dimasukkan dalam daftar tunggu pemberangkatan. Ummereng awalnya dijadwalkan akan berangkat pada Juli 2017. Ia pun mengikuti seluruh rangkaian tes kesehatan dan segala macam tes medis yang dilakukan tim kesehatan Abu Tours.

"Tapi tiba-tiba ada kabarnya kalau saya berangkat ditunda. Jadi saya masuk lagi dijadwal berangkat Ferbruari 2018. Saya tanyakan sempat, tapi mereka bilang saya di kloter selanjutnya dengan jamaah yang lain," kata Ummereng.

Ummereng pun mengaku tetap bersabar dan mengikuti seluruh prosedur yang disampaikan oleh pihak agen Abu Tours. Aktifitas mengayuh becaknya pun berlanjut seperti biasa. Memasuki 2018 hingga bulan tepatnya dimana ia dijanjikan untuk berangkat, Ummereng belum sama sekali mendapatkan kejelasan. Hingga akhirnya, ia memilih untuk mendatangi agen tersebut untuk mempertanyakan mengenai pemberangkatannya.

"Dari agen itu saya dengar sendiri kalau itu perusahaan sementara ada masalahnya. Jadi saya disampaikan lagi untuk bersabar dan tunggu saja informasi lanjutan. Jadi saya bersabar saja. Karena saya pikir bukan hanya saya ternyata yang tidak jadi berangkat. Masih ada juga orang banyak-banyak itu yang rata-rata dari Maros ini belum berangkat," jelasnya.

Sampai pada akhirnya Ummereng mendapatkan kabar bahwa bos Abu Tours Hamzah Mamba, di pertengahan Maret lalu ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penipuan, penggelapan dan pencucian uang puluhan ribu jamaah yang tersebar di 15 provinsi di Indonesia. Mengetahui hal tersebut, Ummereng mendatangi agen tempatnya mendaftar, namun agen katanya mengaku juga cukup kebingungan untuk bagaimana memberikan kejelasan pemberangkatan terhadap jamaah.

"Terakhir itu agen suruh saya sabar saja sambil menunggu bagaimana caranya dikasih berangkat. Saya mau minta uang kembali tapi, mereka bilang sudah disetor semua ke kantor pusatnya jadi kita disuruh tunggu informasi lanjutannya saja," ucapnya.

Bermasalahnya perusahaan itu hingga ditetapkanya Hamzah Mamba selaku CEO Abu Tours, membuat Ummereng dan isterinya hanya bisa pasrah menerima keadaan. Ummereng mengaku, tak bisa berbuat banyak selain berharap kepada pihak kepolisian dan Kementerian Agama (Kemenag) untuk mencarikan jalan keluar agar seluruh jamaaah bisa diberangkatkan.

"Kita tidak bisa buat apa-apa selain berharap supaya bisa diberangkatkan lagi. Karena sementara itu harapan paling besarnya kita selain masih hidup dan diberikan kesehatan. Mudah-mudahan kita bisa diberangkatkan," ujarnya polos.

Sebagai orang kecil, Unmereng hanya bisa pasrah dan berharap masih dapat diberangkatkan ke tanah suci. Ia pun berharap segera ada solusi dan pemecahan terkait nasib ribuan jamaah yang bernasib sama seperti dirinya.

(rul/JPC)

Alur Cerita Berita

Sponsored Content

loading...
 TOP