Rabu, 25 Apr 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Internasional

Bikin Merinding, Begini Pengalaman Sadis Mantan Tahanan Abu Ghraib

| editor : 

Abu Ghraib diubah menjadi fasilitas tahanan Angkatan Darat AS tidak lama setelah invasi pimpinan AS ke Irak pada Maret 2003

Abu Ghraib diubah menjadi fasilitas tahanan Angkatan Darat AS tidak lama setelah invasi pimpinan AS ke Irak pada Maret 2003 (RT)

JawaPos.com - Mantan tahanan Penjara Abu Ghraib, Irak mengatakan, waktu tidak akan mampu menghapus rasa sakit fisik dan mental yang ia dan rekan-rekannya derita di penjara tersebut. Penjara tersebut juga menjadi saksi bisu militer Amerika Serikat (AS) menyiksa para pembangkang Irak di sana.

Anwer Al Sudani, adalah salah satu tahanan yang mengungkapkan cerita ini sekaligus memperingati 15 tahun invasi pimpinan AS di negara mereka. "Waktu yang saya habiskan di penjara itu terasa seperti seumur hidup," katanya seperti dilansir Russia Times, Rabu, (21/3).

"Satu jam penghinaan dan penyiksaan yang dilakukan oleh mereka, terasa seperti selamanya," tambahnya.

Para tahanan di Penjara Abu Ghraib mendapatkan pelecehan seksual hingga pemerkosaan

Para tahanan di Penjara Abu Ghraib mendapatkan pelecehan seksual hingga pemerkosaan (Jawapos)

Sebelumnya, mantan Presiden Irak Saddam Hussein menggunakan penjara tersebut untuk memenjarakan para tahanan politik. Lalu, Abu Ghraib diubah menjadi fasilitas tahanan Angkatan Darat AS tidak lama setelah invasi pimpinan AS ke Irak pada Maret 2003.

Pada April 2004 publik dikejutkan dengan beredarnya foto-foto tahanan yang mengalami penyiksaan, pelecehan seksual, hingga pemerkosaan, juga bentuk pelecehan lainnya yang dilakukan tentara AS terhadap mereka.

Penjara yang terletak 20 mil sebelah barat Kota Baghdad, menampung 3.800 tahanan. Pada tahun 2006, semua tahanan yang tersisa di Abu Ghraib dipindahkan ke penjara lain, dan penjara tersebut diserahkan ke Pemerintah Irak.

"Saya masih sering mengalami mimpi buruk dan menderita sakit mental, seolah-olah semuanya baru saja terjadi kemarin," kata mantan tahanan lain, Ali Al Qasi.

"Setelah saya dibebaskan, setiap kali saya melihat orang Amerika di jalan, saya pasti akan sangat takut mereka akan mengirim saya kembali ke tempat itu dan menyiksa saya. Jeritan-jeritan masih terngiang di benak saya," kata Al Qasi.

Ia menceritakan, para tahanan akan digantung di pintu sel. Kemudian tentara AS menyetrum mereka dengan listrik atau mengencingi mereka.

"Mereka akan mengancam dengan menempelkan senapan mereka di area sensitif, atau mereka pukul dengan sapu, sehingga terjadi pendarahan," kenang Al Qasi.

Menurut Al Qasi, setiap orang yang ditahan di fasilitas itu, termasuk anak-anak menjadi sasaran pelecehan, penyiksaan, serangan seksual, penghinaan, pemerkosaan, dan banyak hal buruk lainnya.

Menurut Mayor Jenderal yang menyelidiki kasus ini, Antonio Taguba, ada sekitar 2.000 foto diambil di dalam penjara yang menggambarkan penyiksaan, penganiayaan, pemerkosaan, dan pencabulan.

Penyelidikan tersebut diambil dari 13 mantan tahanan yang ia sebut sebagai orang yang kredibel berdasarkan pernyataan dan bukti yang mereka berikan.

"Saya melihat ada seorang anak, usianya 15-18 tahun. Anak itu terluka sangat parah dan ia menutupi lukanya dengan seprai. Kemudian saya mendengar ada teriakan dari anak itu, setelah saya lihat anak itu didatangi oleh tentara militer AS, ia disodomi, dan tentara wanita mengambil fotonya," kata seorang yang memberi kesaksian atas izin Freedom of Information Act, Kasim Mehaddi Hilas.

Pada tahun 2009, Presiden Obama sempat menentang adanya penyebaran foto-foto itu. Ia mengatakan, foto-foto ini dibuat untuk meningkatkan sentimen anti-Amerika dan pasukan AS yang sedang dalam bahaya besar.

Penyiksaan dan penganiayaan yang diderita oleh tahanan di penjara memicu sentimen anti-Amerika di Irak sehingga menimbulkan pemberontakan mematikan yang kemudian muncul ISIS.

Al Qasi mengatakan kepada Ruptly via RT bahwa jika hanya satu persen dari apa yang dihabiskan untuk perang di Irak digunakan untuk membantu merehabilitasi korban penyiksaan dan penganiayaan AS, tidak akan ada terorisme di Irak.

“Kami membutuhkan pusat rehabilitasi mantan tahanan. Secara fisik dan psikologis, untuk membantu mereka menghadapi hidup, untuk mendapatkan kembali hak-hak mereka," ujarnya.

"Ketika Amerika datang, kami pikir mereka akan baik-baik saja membiarkan orang hidup enak seperti di Arab atau bahkan di Barat. Tapi ternyata malah sebaliknya. Mereka adalah iblis yang membunuh Muslim dan semua orang. Gurita dunia adalah orang Amerika. Pidana top dunia adalah Amerika Serikat. Kami menyadari kami telah salah paham," katanya.

Lima belas tahun setelah invasi pimpinan kedua AS, belum ada perdamaian di Irak. Donald Trump telah menjadi Presiden AS kelima yang mengebom negara tersebut.

(ina/iml/trz/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP