Minggu, 22 Apr 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Bisnis

Rugi Triliunan Rupiah di Awal Tahun, Direktur Pertamina Mengaku Pusing

| editor : 

Ilustrasi kantor pusat PT Pertamina

Ilustrasi kantor pusat PT Pertamina (Dok.JawaPos.com)

Jawapos.com - Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero), M Iskandar mengaku pusing akibat adanya kerugian yang dialami perusahaan selama dua bulan diawal tahun 2018. Dia mengaku belum tahu akan mengambil langkah apa untuk menambal keuangan perusahaan akibat tergerusnya harga jual premium dan solar yang semakin menjauhi harga formula.

“Waduh saya belum tahu, baru dua bulan saja sudah pusing,” kata Iskandar ditemui di Kompleks DPR RI, Senin (19/3).

Dia menuturkan, permasalahan utama yang harus dihadapi keuangan Pertamina adalah harga minyak mentah Indonesia/ICP yang fluktuatif. Terus melambungnya harga mentah dunia menyebabkan kerugian Pertamina tak dapat diredam walaupun sudah habis-habisan melakukan efisiensi.

Ilustraasi petugas SPBU Pertamian tengah melayani kosumen mengisi BBM bersubsidi

Ilustraasi petugas SPBU Pertamian tengah melayani kosumen mengisi BBM bersubsidi (Dok.JawaPos.com)

“Ya kan masalahnya (harga jual) di bawah harga crude masalahnya. Jadi mau efisiensi apapun bagaimana,” ungkapnya.

Iskandar berharap ada uluran tangan pemerintah untuk menanggulangi masalah ini. Sebab, sebagai satu-satunya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pertamina tidak boleh rugi.

Sejatinya, Pertamina adalah korporasi. Namun begitu, Pertamina diberi mandat oleh undang-undang untuk bisa menyediakan BBM dan gas rumah tangga demi kepentingan masyarakat.

“(Subsidi) bisa mengurangi beban,” ujarnya.

Asal tahu saja, berdasarkan formula yang ditetapkan lewat SK Menteri ESDM, harga bbm jenis premium seharusnya adalah Rp 8.600/liter. Akan tetapi sampai hari ini Pertamina masih menjual BBM seharga Rp 6.450/liter. Angka tersebut didapat dari 103.92 persen HIP + Rp830 perliter + 2 % harga dasar.

Sedangkan untuk solar, kata Iskandar, berdasarkan formulasi seharusnya adalah Rp Rp 8.350/liter. Perhitungannya adalah 102,38 HIP + Rp 900/liter - subsidi Rp 500/liter. Namun hingga saat ini harga jual solar adalah Rp 5.150/liter. Sehingga Pertamina harus menanggung selisih bayar hingga Rp3.200/liter.

(uji/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP