Selasa, 24 Apr 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Internasional

Australia Kurangi Tembok Pembatas Kelas, Mengapa?

| editor : 

Suasana kelas di Australia yang tanpa tembok pembatas

Suasana kelas di Australia yang tanpa tembok pembatas (Istimewa)

JawaPos.com - Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di Indonesia Muhammad Nur Rizal dan Novi Candra kembali ke Australia pada 5 hingga 12 Maret lalu untuk melakukan riset guna mengembangkan GSM.

Mereka menunjukkan keseriusannya dalam mengampanyekan GSM. "Kunjungan ini berkaitan dengan riset GSM. Selain itu kami juga akan melakukan visit ke Clayton North Primary School CNPS) dan SD lain serta satu SMP di Melbourne,” ujar Novi, Senin, (19/3).

Saat kunjungan ke CNPS, Rizal dan Novi melihat langsung suasana dan kegiatan belajar mengajar di sekolah legendaris tersebut. Kunjungan edukasi dilanjutkan dengan bertandang ke SD Ringwood North. Lay out kelas menjadi fokus mereka, di mana sekolah benar-benar ingin membentuk atmosfer kondusif untuk para siswa belajar.

Salah satunya adalah tidak adanya tembok yang membatasi jenjang kelas. Selain karena kepentingan pencahayaan, lay out kelas tersebut dibuat untuk menciptakan suasana terbuka.

“Di Australia sudah mengurangi tembok pembatas kelas. Mereka memakai kaca atau pembatas nonpermanen. Tujuannya menambah cahaya dan menciptakan suasana terbuka," terang Novi.

Misal kelas I, II, III, dan IV digabung menjadi satu ruang besar tapi dengan suasana yang tetap tenang serta nyaman. Salah satunya juga karena keterampilan guru dalam mengelola perilaku anak.

Lay out kelas dengan model tersebut bahkan dipertahankan di level universitas, seperti tampak di Monash University. Lay out tersebut menstimulasi pembelajaran untuk tak lagi bersifat menceramahi seperti di Indonesia, tapi lebih pada tutorial, workshop, atau diskusi.

“Teaching and learning centre di Monash University juga tampak nyaman, terbuka, dan mewah. Terdiri dari banyak tempat belajar termasuk kelas kelas yang ‘transparan’ karena bisa diintip melalui kaca. Jarang ada kelas besar dan jarang ada lay out kursi yang berbaris seperti rata-rata kampus di Indonesia," ujar Novi.

(met/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP