Sabtu, 24 Feb 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Hukum & Kriminal

Periksa Pegawai dan Pejabat Garuda Indonesia

KPK Dalami Aliran Duit Suap dan Proses Pengadaan Mesin Pesawat Garuda

| editor : 

Emirsyah Satar

Eks Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Sattar (Dok. JawaPos.com)

JawaPos.com - Usai diperiksa sekitar tujuh jam lamanya sebagai saksi, pensiunan pegawai PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Captain Agus Wahjudo memilih melarikan diri dari kejaran awak media. Dia juga bungkam terkait materi pemeriksaan yang telah dilakukan penyidik KPK terhadanya.

Dengan mengenakan baju warna putih dipadu celana hitam, Agus keluar dari ruang pemeriksaan sekitar pukul 16:30 WIB. Saat Agus keluar, awalnya awak media tidak menyadari keberadaan saksi kasus  dugaan suap Emirsyah Satttar tersebut keluar gedung KPK.

Selang beberapa menit kemudian, saat mengetahui Agus sudah rampung diperiksa dan keluar, sejumlah awak media langsung bergegas mengejarnya hingga ke tempat parkir kendaraan yang berada di depan gedung lembaga antirasuah.

Sementara itu, melihat dirinya jadi buruan ‘kuli tinta’ bukanya berhenti, Agus justru tambah cepat berjalan kendati hujan. Agus juga sempat menepis kamera salah satu awak media dengan tangannya. Di lain pihak, melihat sikap Agus yang kurang bersahabat, awak media pun sempat marah dan beradu argumentasi dengan Agus. Namun insiden ini berhasil diselesaikan.

Selain memeriksa Agus dan  Pegawai PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Victor Agung Prabowo, sedianya penyidik juga akan memeriksa Direktur Produksi PT Citilink Indonesia, Hadinoto Soedigno. Namun atas panggilan yang telah dilayangkan penyidik, Hadinoto tak memenuhi panggilan pemeriksaan.

”Pemeriksaannya dijadwalkan ulang Kamis (15/2)," tutur juru bicara KPK Febri Diansyah, di gedung Merah Putih KPK, Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (13/2).

Sementara untuk saksi tambahan yang diperiksa yakni Corporate Expert PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Adrian Azhar.

Terkait pemeriksaan para saksi tersebut menurut Febri, dilakukan dalam rangka mendalami proses pengadaan di Garuda Indonesia dan aliran dan pada sejumlah pihak.

“Pada salah satu saksi kita dalami juga peran dan pengetahuannya sebagai pejabat yang memimpin proses pengadaan di Garuda Indonesia,” jelas mantan aktivis antikorupsi tersebut.

Seperti diketahui, pada 19 Januari 2017 KPK mengumumkan status penetapan tersangka terhadap Mantan Drut PT. Garuda Indonesia (persero) tbk, Emirsyah Sattar. Emirsyah diduga menerima suap sebesar Rp 20 miliar terkait pengadaan mesin Rolls-Royce untuk pesawat Airbus milik Garuda Indonesia.

KPK juga menemukan suap dalam bentuk barang yang diterima Emirsyah Satar senilai USD 2 juta yang tersebar di Singapura dan Indonesia.

Selain Emir, KPK juga menetapkan Beneficial Owner Connaught International Pte. Ltd yang juga pendiri Mugi Rekso Abadi (MRA) Group Soetikno Soedarjo sebagai tersangka. Diduga, Soetikno menjadi perantara suap Emir dari Rolls-Royce.

Sebagai pihak penerima suap, Emirsyah disangkakan melanggar pasal 12 huruf a atau pasal 12 huruf b atau pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sementara sebagai pihak pemberi, Soetikno Soedarjo disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau pasal 5 ayat 1 huruf b atau pasal 13 Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 64 ayat (1) KUHP.

(ipp/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP