Sabtu, 24 Feb 2018
Logo JawaPos.com
Features

Mengenal Sosok Aiptu Ali Munir

Aktor Utama Penghalau Suliono Sewaktu Penyerangan Gereja di Sleman

| editor : 

Ali Munir

Ali Munir memperlihatkan tangannya yang luka akibat sabetan katana di Mapolda DIY, Senin (12/2) (Ridho Hidayat/JawaPos.com)

JawaPos.com - Minggu (11/2) kemarin, menjadi salah satu hari yang tidak pernah dilupakan oleh Ali Munir. Pasalnya bapak dua anak yang bertugas di Polsek Gamping itu harus menghadapi seorang pemuda, yang melakukan penyerangan membabi buta di sebuah Gereja di Sleman.

Sekitar pukul 07.30 WIB, pria berumur 57 tahun dan setahun lagi bakal pensiun dari kepolisian tersebut mendapatkan laporan dari Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) di tempatnya berdinas, Polsek Gamping.

Laporan yang masuk menyebutkan adanya seorang pria mengamuk dengan katana dan melukai jemaat gereja dan Romo yang tengah memimpin Misa.

Mendapati hal itu, pria berpangkat Aiptu tersebut bersama 2 rekannya, Brigadir Erwin dan Aiptu Praswanto langsung meluncur ke lokasi kejadian dengan seragam lengkap.

Sesampainya di Gereja, ratusan jemaat sudah terlihat berhamburan. Ia yang membawa pistol revolver kaliber 38 kemudian langsung masuk ke dalam ruangan, melihat pelaku yang diketahui bernama Suliono tersebut sedang mengejar korbannya sambil membawa katana.

Munir ketika itu langsung melepaskan tembakan peringatan dan meminta pelaku untuk menyerahkan diri. Namun yang terjadi justru mengejutkan. "Pelaku bukannya takut, tapi berbalik menyerang saya," katanya di Mapolda DIY, Senin (12/2).

Ketika itu pula, pria yang sudah 37 tahun mengabdi di kepolisian tersebut mendapatkan sabetan pedang di tangan kirinya karena berupaya menangkis serangan. Ia pun langsung memberikan tembakan di kaki kiri pelaku.

Upaya saling serang tersebut terus terjadi bak di film-film. Katana yang menurut Munir ukurannya cukup panjang itu kembali mengayun ke arahnya dan sempat mengenai kakinya. "Saya tembak lagi di kaki kanannya," katanya.

Baku hantam diantara keduanya tak terhindarkan. Pelaku berulang kali mengayunkan katana kepada Munir, dan sebaliknya Munir berupaya melumpuhkan pelaku dengan menembakkan timah panas ke kaki pelaku.

Meski peluru sudah bersarang di kedua kaki pelaku, namun Suliono masih sempat mendorong Munir untuk menjauh. Beruntung, jemaat yang masih di dalam gereja langsung sigap dan mengeroyok Suliono. "Saat itu juga kami amankan," ucapnya.

Menghadapi orang yang mengancam jiwa manusia ini, baginya sudah biasa. Ia tak merasa grogi atau gugup karena sudah 25 tahun di bagian Reserse dan Kriminal (Reskrim).

Selepas berhasil diamankan, Suliono yang merupakan warga asal Krajan, RT 2/1, Kandangan, Kecamatan Pasanggrahan, Kabupaten Banyuwangi, Jatim ini pun dibawa ke RS UGM sebelum akhirnya dirujuk ke RS Bhayangkara Yogyakarta untuk penanganan lebih lanjut.

Sementara ia diberikan perawatan dan mendapatkan 4 jahitan di tangan kirinya akibat terkena sabetan katana. Sementara pada kakinya beruntung tidak mengalami luka yang serius. "Hanya sepatu saja yang rusak," paparnya.

Terpisah, Humas Polda DIY AKBP Yulianto mengatakan, tindakan yang dilakukan oleh Munir yang cukup berisiko tersebut patut diapresiasi. Pihak Polda pun saat ini masih menggodok untuk diberikan suatu reward kepadanya. "Nanti akan kami umumkan penghargaan apa yang akan didapatkan," ucapnya.

(dho/JPC)

Alur Cerita Berita

Sponsored Content

loading...
 TOP