Minggu, 18 Feb 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Today

Tiga Tahun Gagal, Kereta Api Bandara Sumbar Beroperasi April 2018

| editor : 

Kepala Dinas Perhubungan Sumbar Amran

Kepala Dinas Perhubungan Sumbar Amran (Riki Chandra/JawaPos.com)

JawaPos.com - Setelah dilakukan uji coba, unit kereta api (railbus) Bandara Internasional Minangkabau (BIM) dan Stasiun Simpang Haru, di kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) direncanakan beroperasi bulan April 2018.

Kepala Dinas Perhubungan Sumbar Amran mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar juga telah mempersiapkan nama untuk kereta bandara tersebut.

Dari 12 nama yang diusulkan, telah dikerucutkan menjadi 3 nama. Masing-masing adalah, Ranah Minang Expres, Pedati Expres, dan Minangkabau Expres. "Kami sudah rapatkan beberapa hari lalu. Nanti, akan ditetapkan satu nama dari tiga nama terpilih itu," terang Amran di Padang, Senin (22/1).

Semula kata Amran, pihaknya merencanakan, peresmian pengoperasian kereta api BIM masuk agenda Presiden saat menghadiri puncak Hari Pers Nasional (HPN) tanggal 9 Februari mendatang. Namun, rencana tersebut batal. Lantaran, pengurusan pengadaan unit dibawah PT KAI ini tidak gampang dan memakan waktu lama.

"Kami harap sekali pak Presiden yang meresmikan. Tapi apa hendak dikata, kesulitan dalam mendatangkan unit kereta cukup sulit," terangnya.

Untuk digunakan sebagai angkutan massal, uji coba, tes track, tes mesin akan dilakukan berulang kali. Sehingga aman bagi masyarakat yang melakukan perjalanan dari stasiun Simpang Haru Padang menuju BIM di kabupaten Padang Pariaman.

"Nanti, setelah turun kereta, penumpang langsung naik eskalator sampai bandara," jelasnya.

Sebelumnya, Kepala PT KAI Divisi Regional Sumbar Sulthon menyebutkan, unit railbus tersebut dibuat oleh PT Industri Kereta Api (INKA) dan direncanakan terdiri dari dua set dengan masing-masingnya empat gerbong. Sehingga, terdapat 8 gerbong yang bisa digunakan untuk melayani masyarakat.

Pengoperasian kereta api menuju BIM ini telah berulangkali tertunda. Awalnya, ditargetkan bisa dimanfaatkan pada tahun 2015. Kemudian tertunda menjadi akhir 2016. Target itu kembali molor menjadi November 2017. Namun tetap tidak terpenuhi. Terakhir target itu diundur lagi menjadi pertengahan 2018.

(rcc/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP