Sabtu, 24 Feb 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Mengenal Wisnu Jatmiko, Ahli Robotika dan Sistem Kecerdasan Buatan

Setelah Robot Pintar, Kini Kembangkan USG

| editor : 

ahli robot

Prof. Wisnu Jatmiko (kedua kiri) menjelaskan robot Al Fath kepada asistenya Ahmad Zaki Anshori (kiri), Grafika Jati (kanan) dan Dewa Made Sari Arsa di Universitas Indonesia (kedua kiri), Depok, Jawa barat (Miftahulhayat/Jawa Pos)

Ahli robotika dan sistem kecerdasan buatan di Indonesia mungkin banyak. Namun, yang mendalami dua bidang keilmuan itu bisa jadi masih langka. Salah satunya Wisnu Jatmiko yang baru dikukuhkan sebagai guru besar robotika dan sistem cerdas UI.

M. HILMI SETIAWAN, Depok

---

SEBUAH layar monitor dibiarkan menyala di salah satu sudut ruang laboratorium Computer Networks, Architecture, and High Performance Computing (CNAHPC) Fakultas Ilmu Komputer (FIK) Universitas Indonesia (UI) Jumat (5/1). Monitor itu menunjukkan tayangan langsung CCTV yang dipasang di salah satu sudut jalan raya Len­teng Agung tidak jauh dari kampus UI Depok.

Jika diamati lebih jauh, kamera CCTV yang terhubung dengan komputer itu tidak sekadar merekam. Tetapi, juga mendeteksi dan meng­hitung setiap mobil yang melintas. Saban ada mobil yang lewat dan tertangkap CCTV, langsung muncul simbol lingkaran hijau tepat di mobilnya.

Data perhitungan traffic itu kemudian diolah sehingga bisa dibuat untuk menganalisis kepadatan lalu lintas. Jika dikembangkan lebih lanjut, hal tersebut bisa digunakan untuk menunjang pengaturan traffic light. Di laboratorium itu banyak alat hasil pengembangan ilmu robotika dan kecerdasan buatan. CCTV itu salah satunya. Alat lainnya yang saat ini masih masuk tahap riset dan pengembangan adalah Tele-EKG.

Peranti yang didanai hibah anggaran UI dan Kemenristekdikti itu memiliki fungsi utama untuk mendeteksi detak jantung seseorang. Kemudian, secara cerdas alat tersebut akan mendeteksi apakah detak jantung seseorang itu normal atau bermasalah. Kemudian, ada beberapa unit robot kecil dengan roda mirip tank.

Wisnu Jatmiko memberi nama robot itu Odor Source Localization. Robot yang mulai dirancang pada 2007 tersebut berkategori swarm robot. Artinya, robot itu bekerja secara berkelompok dalam beberapa unit. Empat unit, lima unit, dan seterusnya. Fungsi utama robot yang diberi nama lain Al-Fath tersebut adalah mendeteksi kebocoran gas beracun. "Robot ini bekerja secara otomatis," kata Wisnu.

Pria kelahiran Surabaya, 16 Desember 1973, itu mengatakan bahwa robot Odor tidak dikendalikan remote atau sejenisnya. Dalam dunia robotika dikenal sebagai autonomous robotic system. Dengan demikian, sekelompok robot itu dalam misinya benar-benar bisa menggantikan tugas manusia atau anjing pelacak. Sebab, jika mengirim manusia untuk mendeteksi titik kebocoran gas beracun, cukup berisiko. Robot Odor bisa berjalan sendiri menuju titik kebocoran gas karena sudah ditanamkan informasi soal kepekatan gas.

Suami Irma Hany itu lantas menunjukkan drone yang teronggok di lemari. Drone tersebut memiliki fungsi hampir sama dengan robot Odor. Yakni, mendeteksi lokasi kebocoran gas beracun atau titik penting lainnya. Hanya, drone itu berfungsi ketika medan riset dalam keadaan terbakar dan tidak memungkinkan untuk menugasi robot Odor. Dia mengatakan, drone itu bukan hasil risetnya. "Kami hanya memperbaiki algoritmanya saja," tuturnya.

Sambil menata beberapa buku di meja kerjanya, Wisnu menceritakan kiprahnya sehingga dikukuhkan sebagai guru besar di UI pada 13 Desember 2017. Bapak lima anak itu lulus dari Teknik Elektro UI pada 1997. Saat itu dia menekui dunia robotika.

Kemudian, dia melanjutkan studi, masih di UI, di bidang ilmu komputer dan lulus pada 2000. Setelah itu, pada 2004-2007 dia melanjutkan studi di Nagoya University, Jepang, di bidang micro-nano engineering. Dengan pendampingan dari Prof Toshi Fukuda, Wisnu meraih gelar doktor dengan riset robot Odor Source Localization.

Di tengah riset robot itu, pada 2005 Wisnu mendapat penghargaan Best Student Innovation Award yang diberikan di California, AS. Pria yang sudah membuat 115 paper di jurnal internasional dan konferensi internasional sejak 2001 itu mengaku sangat bangga dan berniat terus mendalami ilmu robotika dan kecerdasan buatan.

Menurut dia, robot masa depan harus dilengkapi sistem kecerdasan buatan. Bukan sekadar robot yang masih dalam kontrol manusia. Untuk itu, dia tertarik mengolaborasikan dua ilmu tersebut. Yakni, robotika dan kecerdasan buatan. Itu merupakan multidisiplin keilmuan. Di dalamnya juga terkait dengan mekanika, elektronika, dan komputer.

Wisnu pun memiliki cara tersendiri dalam menularkan ilmunya kepada generasi muda. Caranya, membuka program magang riset. Program itu khusus untuk ilmuwan muda yang nanti magang di laboratorium CNAHPC. Laboratorium tersebut dikenal dengan Laboratorium 1231 karena menempati ruangan 1231. ''Tidak hanya untuk mahasiswa atau lulusan UI,'' katanya.

Dia lantas menunjukkan selebaran lowongan magang terbaru. Pendaftarannya dibuka 15-26 Januari 2018. Peserta kegiatan program ma­gang itu mendapatkan fasilitas materi program magang dan makan siang. ''Uangnya dari hasil riset-riset saya,'' tutur Wisnu, lantas tersenyum.

Diakui, ilmu tentang robotika dan sistem kecerdasan buatan begitu diperlukan. Seperti dalam pidato pengukuhan gelar guru besarnya, Wisnu mengatakan, riset atau inovasi di bidang robotika dan kecerdasan buatan menjawab permasalahan bangsa. Dia mencontohkan Indonesia yang menghadapi persoalan terkait kesehatan serta masalah kemacetan di kota-kota besar.

Untuk menjawab tantangan sektor kesehatan, Wisnu menghadirkan Tele-EKG. Peranti itu dilengkapi sensor, aplikasi untuk dokter dan pasien, serta server. Dalam sistem kerja Tele-EKG itu, Wisnu membenamkan unsur sistem kecerdasan buatan dalam sensor dan aplikasi smartphone-nya.

Melalui proses pengolahan data, akan di­peroleh hasil analisis secara akurat apakah pasien dalam keadaan sakit atau terjadi kelainan. "Proses tersebut menggunakan klasifikasi sebagai sistem cerdasnya," tuturnya. Metode klasifikasi itu akan menentukan akurasi kondisi jantung yang dideteksi.

Sambil terus mengembangkan Tele-EKG itu, Wisnu dan rekannya yang tergabung dalam tim Insentif Riset Sistem Inovasi Nasional (Insinas) mengembangkan Tele-USG. Perangkat Tele-USG diharapkan bisa menjadi solusi persoalan tingkat kematian ibu hamil maupun janin di Indonesia. Melalui Tele-USG, pengecekan kandungan bisa dilakukan dari jarak jauh melalui aplikasi smartphone.

Prinsip kerja Tele-USG adalah perempuan yang hamil diperiksa melalui perangkat Tele-USG. Di antaranya, mengukur dan mendeteksi bentuk kepala bayi serta organ bayi lainnya. Hasil citra USG kemudian diolah melalui sistem kecerdasan buatan dan dikirim ke aplikasi dokter dan pasien. Dengan demikian, itu bisa menjadi solusi persoalan sebaran dokter kandungan.

Dia mencontohkan, informasi yang didapat pada 2016 menyebutkan di Jawa Barat ada 356 dokter kandungan. Sebanyak 108 orang di antaranya berada di Kota Bandung. Dengan begitu, daerah lain mengalami kekurangan dokter kandungan. Bahkan, di Pangandaran pada 2016 tidak ada dokter kandungan.

Kemudian, riset intelligent transportation system (ITS) berguna untuk mengatasi persoalan kemacetan. Saat ini salah satu upaya mengurai kemacetan seperti di kawasan Puncak, Bogor, adalah menerapkan sistem buka-tutup. Namun, cara itu ternyata dirasa kurang efektif lantaran kemacetan masih terjadi.

Untuk itu, dibutuhkan teknologi yang dapat mendeteksi atau melacak kendaraan, menghitung jumlah kendaraan, serta memantau arus lalu lintas. Data yang dikumpulkan bisa dimanfaatkan untuk membuat lampu lalu lintas adaptif. Kemudian, lampu lalu lintas adaptif itu menyala merah, kuning, atau hijau bisa secara otomatis berubah-ubah sesuai kepadatan lalu lintas. 

(*/c10/oki)

Sponsored Content

loading...
 TOP