JawaPos Radar

Waduk Pluit, Dari Pemukiman Kumuh Hingga Menjadi Taman Kota

14/01/2018, 18:49 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Waduk Pluit, Dari Pemukiman Kumuh Hingga Menjadi Taman Kota
Taman Waduk Pluit, Jakarta Utara, Minggu (14/1). (Evi Ariska/ JawaPos.com)
Share this image
Waduk Pluit, Dari Pemukiman Kumuh Hingga Menjadi Taman Kota
Taman Waduk Pluit, Jakarta Utara, Minggu (14/1). (Evi Ariska/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Lima tahun berlalu, Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara kini menjadi salah satu tempat warga sekitar untuk bersantai atau sekedar berkumpul dengan keluarga. Padahal dulu terdapat ratusan rumah penduduk yang membuat kumuh kawasan itu.

Oleh: Evi Ariska

Pada hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-68, mantan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo meresmikan taman Waduk Pluit yang dulunya dipenuhi pemukiman liar pada 17 Agustus 2013 silam.

Waduk Pluit dengan luas 80 hektar kini bersih dari sampah yang dulunya menumpuk sehingga membuat pengendapan air dan menyebabkan banjir. Terlebih lagi, Waduk Pluit semakin indah dilengkapi dengan taman seluas enam hektar dan dilengkapi berbagai fasilitas.

(eve/JPC)

Waduk Pluit, Dari Pemukiman Kumuh Hingga Menjadi Taman Kota
Kondisi Waduk Pluit, Jakarta Utara, Minggu (14/1) (Evi Ariska/ JawaPos.com)

Angin semilir membuat sejuk Waduk Pluit. Banyak warga memanfaatkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) itu untuk berolahraga hingga bersantai bersama keluarga. Tak hanya itu, Taman Waduk Pluit kini menjadi tempat strategis untuk melakukan swafoto.

Pengelola aset Waduk Pluit, Indra menerangkan taman ini dilengkapi berbagai macam fasilitas dan dapat dinikmati warga sekitar secara gratis. Bahkan para komunitas pun dapat melangsungkan acara dengan mengajukan proposal terlebih dahulu.

"Olahraga jogging track, tempat fitness, lapangan basket, futsal terus lapangan bola. Kalau acara tergantung masyarakat, nanti mereka memgajukan kita menyediakan fasilitas tempat tanpa dipungut biaya," kata Indra kepada JawaPos.com, Minggu (14/1).

Padahal dulunya, kata dia, Waduk Pluit menjadi salah satu kawasan kumuh yang penuhi sampah dan pemukiman warga. Bahkan, ditambahkan pria berkacamata itu, kawasan ini susah dijangkau karena adanya beberapa pihak memanfaatkan Waduk Pluit untuk pungutan liar (pungli).

(eve/JPC)

Waduk Pluit, Dari Pemukiman Kumuh Hingga Menjadi Taman Kota
Lapangan sepak bola yang berada di Taman Waduk Pluit, Jakarta Utara, Minggu (14/1) (Evi Ariska/ JawaPos.com)

"Dulunya kumuh, terjadi pengendapan ya sampah segala macam, paling parah jadi banjir. Kalau dulu mau masuk kesini aja susah selalu dihalangi, warga tertentunya yang bisa dikatakan preman, dulu itu karena memang ada orang yang memanfaatkan Waduk ini," kenangnya.

Seiiring berjalannya waktu, Waduk Pluit yang terkenal sebagai tempat kumuh kini menjadi tempat warga menghabiskan waktu dengan berbagai aktivitas. Indra menuturkan, sekarang warga sekitar merasa sangat senang setelah dulunya sempat terdapat gesekan saat normalisasi dilakukan.

"Setelah dibangun sudah engga banjir lagi. Pas zaman Pak Jokowi, mereka bersedia karena disiapkan tempat until pindah. Warga bisa dikatakan sangat senang, apalagi disini tempat bisa beraktivitas dengan bebas, banyak yang manfaatin olahraga, lingkungan juga jadi bersih engga kumuh lagi seperti dulu," ungkap Indra.

Dia pun berharap, dibawah kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, pemerintah provinsi (Pemprov) terus memperhatikan kawasan Waduk Pluit. Terlebih lagi, saat ini pengelolaan Waduk Pluit dibawah naungan Badan Usaha Milik Daerah Jakpro.

(eve/JPC)

Waduk Pluit, Dari Pemukiman Kumuh Hingga Menjadi Taman Kota
Lapangan basket di Taman Waduk Pluit, Jakarta Utara, Minggu (14/1) (Evi Ariska/ JawaPos.com)

"Saya kira diteruskan lah, kita sama-sama saling berkoordinasi, apalagi Jakpro milik pemerintah, agar yang sudah baik kita lanjutkan, kita buat tambah baik lagi ya," tutup Indra.

Hal senada dengan salah satu pedagang makanan, Guntur. Dia mengaku sangat sengan dengan perubahan drastis Waduk Pluit. Selama hampir 9 tahun berjualan di kawasan ini, kata dia, akhirnya bisa mempunyai tempat berdagang yang layak.

"Dulu waktu masih kumuh saya jualannya masih pakai grobak dorong, sekarang sudah ada tempat dikasih tenda sama Dinas Koperasi UKM," kata Indra.

Disamping kebahagiaan itu, dulunya kata Guntur, dia sempat merasakan kesedihan yang dialami para warga saat penggusuran. Pasalnya, sebagai warga kurang mampu, dia dapat merasakan perasaan warga yang kehilangan tempat mereka bernaung. Namun, kesedihan tersebut dikatakan Guntur berbuah kebaikan untuk semuanya.

"Waktu penggusuran itu saya engga jualan, tapi saya datang tiap sore liat penggusuran. Mereka itu nangis liat rumahnya dihancurkan, saya kasian jugaa jadinya. Tapi sekarang kan mereka senang juga, sudah dapat tempat tinggal yang lebih layak," ujar Guntur.

Kebahagiaan tak hanya dirasakan Guntur, salah satu pengunjung taman, Risma (39), turut merasa senang dengan keadaan Waduk Pluit seperti sekarang. Wanita yang tinggal di daerah Bandengan, Penjaringan ini mengaku kerap kali mendatangi Waduk Pluit dihari libur sekedar untuk membawa anaknya bermain.

"Oh saya tinggal di Bandengan. Seneng lah jadi bagus begini, bisa bawa anak-anak main disini tiap Sabtu-Minggu. Taman terdekat soalnya cuma disini, jadi senang sekali," tutup Risma.

(eve/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up