Kamis, 18 Jan 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Finance

Proyeksi IHSG 2018:

Pasar Cari Keseimbangan Antara Faktor Positif dengan Sejumlah Risiko

| editor : 

Ilustrasi  perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta

Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta (DOK.DERY RIDWANSAH/JAWAPOS.COM)

JawaPos.com -Laju pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2017 mencatatkan rekor yang cukup bagus, yakni ditutup di level 6.355,65. Lompatan IHSG tak lepas dari capaian kinerja ekonomi Indonesia yang tumbuh bagus yang tercermin dari nilai tukar yang relatif stabil dan turunnya suku bunga acun.

Kepala Riset dan Strategi Bahana Sekuritas Andri Ngaserin mengungkapkan, pencapaian ini sejalan dengan perkiraan Bahana Sekuritas yang sejak awal tahun lalu memperkirakan indeks akan berada di kisaran 6.300.

Untuk 2018, Andri memperkirakan pasar saham Indonesia akan mencari keseimbangan untuk jangka menengah dan panjang. Sejumlah sentimen akan mempengaruhi pergerakan pasar, tren kenaikan harga minyak dunia, perhelatan pilkada serentak di dalam negeri serta kebijakan investasi pemerintah Cina.

"Tiongkok diketahui ingin mengurangi investasi langsungnya di luar negeri, termasuk di ASEAN, dan ini bisa mempengaruhi perlambatan ekonomi domestik. Pasalnya, investasi menjadi salah satu pendorong perekonomian Indonesia," katanya di Jakarta, Minggu (14/01).

Faktor lainnya adalah pada tren kenaikan harga minyak dunia yang berada pada kisaran USD 66 per barel. Harga ini lebih tinggi dari asumsi harga minyak dunia yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar USD 48 per barel.

"Hal ini akan mndorong inflasi, bila harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi naik," bebernya.

Namun, kondisi politik di 2018 dengan diadakannya pemilihan kepala daerah (pilkada) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, akan menjadi faktor penentu bagi investor. Bila semuanya berjalan transparan dan hasil akhirnya sesuai dengan ekspektasi pasar, akan membawa dampak positif.

"Dengan sejumlah faktor tersebut, indeks diperkirakan tidak akan banyak bergerak pada semester pertama tahun ini. Namun, pada semester kedua, baru akan terlihat pergerakan tapi bergantung pada proses dan hasil pilkada serta dari langkah yang akan diambil pemerintah untuk menyelamatkan anggaran 2018," ungkapnya.

Lebih lanjut, Bahana juga memprediksi bahwa indeks saham akan berada pada kisaran 7000 sepanjang 2018.

Dengan berbagai faktor yang dipaparkan, Bahana merekomendasikan delapan saham unggulan, yakni Bank Mandiri (BMRI) dengan target harga Rp 8.500 per lembar, United Tractors (UNTR) dengan target harga Rp 39.700 per lembar, Semen Indonesia (SMGR) dengan target harga Rp 11.600 per lembar.

Saham lainnya, Adaro Energy (ADRO) dengan target harga Rp 2.174 per lembar, Waskita Karya (WSKT) dengan target harga Rp 3.500 per lembar, Indofood CBP (ICBP) dengan target harga Rp 10.600 per lembar, Bank Negara Indonesia (BBNI) dengan target harga Rp 10.000 per lembar dan Bank CIMB Niaga (BNGA) dengan target harga Rp 1.700 per lembar.

(sab/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP