Rabu, 17 Jan 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Today

Kunjungi Daerah 3T, Mendikbud: Gurulah Kurikulum yang Sebenarnya

| editor : 

Mendikbud Muhadjir Effendy

Mendikbud Muhadjir Effendy saat mengunjungi SMK Negeri 3 Sorong (Istimewa)

JawaPos.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy kembali mengunjungi daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T). Selama dua hari, mulai dari Sabtu (13/1) dan Minggu (14/1), dia mengunjungi tiga daerah di Indonesia timur. Yakni, Sorong, Papua Barat dan kabupaten Pahuwato, Gorontalo.


Berbagai kegiatan dilakukan oleh Muhadjir. Di Sorong misalnya, sidak ke sekolah yang menjadi salah satu program revitalisasi yakni SMKN 3 Sorong. Di sana, dia mengecek berbagai peralatan laboratorium, termasuk soal kemitraan SMK dengan dunia usaha dan dunia industri.

"Seiring kemajuan kota, kebutuhan tenaga terampil di Sorong sangat besar," katanya. Itulah kenapa, kemitraan dan revitalisasi SMK harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh.

Mendikbud Muhadjir Effendy

Mendikbud Muhadjir Effendy saat mengunjungi daerah terdepan, terluar dan tertinggal (Istimewa)

Selain itu, Mendikbud mengapresiasi Gubernur Papua Barat Diminggus Mano. Menurutnya, Diminggos punya perhatian pada pendidikan. Dia berharap agar Pemda terus meningkatkan anggarannya untuk pendidikan sebagai investasi sumber daya manusia.

Hal serupa juga disampaikan Mendikbud di Gorontalo. Di hadapan seribu guru dan pegiat pendidikan se-kota Gorontalo Muhadjir mengaku optimistis, provinsi yang lahir pada 5 Desember 2000 itu bisa mengejar ketertinggalan. Sebab, sudah memiliki perhatian besar pada pendidikan.

"Terima kasih pak wali kota yang sudah menerapkan penguatan pendidikan karakter ke seluruh sekolah se-kota Gorontalo. Inilah untungnya jika memiliki pemimpin daerah yang sangat memahami persoalan pendidikan," puji Mendikbud kepada wali kota Marten Taha.

Kepada para guru dan pegiat pendidikan, Mendikbud berpesan agar terus berjuang menjadi pendidik yang dapat cepat merespon perubahan. Alih-alih hanya sebagai pengajar, guru harus hadir sebagai pendidik yang tanggung jawabnya sangat besar bagi perkembangan siswanya.

"Jangan berfikir sedikit-sedikit merubah kurikulum, tetapi berfikirlah bahwa tantangan di depan terus berubah, oleh karenanya harus dihadapi dengan kemampuan menghadapi perubahan itu sendiri. Gurulah kurikulum yang sebenarnya, jadi jangan alergi dengan perubahan," kata Mendikbud.

Mendikbud menekankan bahwa sebagai pendidik, maka sikap seutuhnya guru melekat sebagai kurikulum. Untuk itu kehadiran guru sebagai fasilitator, resource linkers dan gate keeper harus diperkuat disamping hanya sebagai pengajar saja.

Sementara itu di Puhuwato Mendikbud meresmikan lima unit sekolah baru bantuan Kemdikbud. Sebagai daerah 3T kabupaten ini menjadi perhatian pemerintah pusat. Namun Mendikbud berharap dengan program afirmasi ini dapat mempercepat pembangunan SDM setempat.

Di sisi lain, Mendikbud juga memberi apresiasi organisasi kemasyarakatan Muhammadiyah. Di Sorong, misalnya, sekolah-sekolah Muhammadiyah justru dipenuhi siswa nonmuslim. Tidak sedikit lulusan sekolah Muhammadiyah menjadi tokoh dan pejabat setempat. Ia menyebut walikota Jayapura, bupati Jayapura dan Wakil Gubernur Papua Barat adalah alumni sekolah Muhammadiyah.

"Memang sejak didirikannya Muhammadiyah sudah bersifat inklusif. Praktek kebinekaan justru sudah dibuktikan oleh Muhammadiyah dengan mendidik dan menolong warga nonmuslim," kata Mendikbud di hadapan peserta pengajian di SMK Muhammadiyah Pahuwato.

Mendikbud mendorong agar peran ormas membantu pemerintah ini diperkuat. Sebab harus diakui bahwa kemampuan negara masih terbatas sehingga membutuhkan partisipasi masyarakat luas melalui ormas-ormas tersebut.

(dim/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP