Kamis, 26 Apr 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Today

14 Santri Jadi Korban Pelecehan Oknum Ponpes

| editor : 

Ilustrasi anak

Ilustrasi anak (Pixabay.com)

JawaPos.com - Kasus pelecehan seksual terhadap anak laki-laki oleh orang dewasa laki-laki semakin hari semakin mengkhawatirkan. Setelah sebelum menggemparkan publik sebagaimana yang terjadi di Tangerang, Banten, kini serupa juga terkuak di Natar, Lampung Selatan.

Bahkan korbannya dari data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencapai 14 orang. Semua orang merupakan santri di salah satu pondok pesantren di kawasan tersebut.

Kini KPAI sengaja datang ke Natar untuk menindaklanjuti kasus dan memberikan pengawalan terhadap para korban. Ketua KPAI Arist Merdeka Sirait menyebut, dugaan pelaku atas kasus ini dilakukan oleh tiga orang.

Yaitu Syaiful warga Jagabaya, Bandarlampung. Lalu ada Sofwan dan Ubaidillah, warga Tamansari, Natar. Ketiganya bekerja di Ponpes sebagai juru masak dan tenaga pendidik.

”Kedatangan kami kesini (Polsek Natar) untuk melihat sampai mana proses penyelidikan yang dilakukan oleh Polsek Natar terhadap tersangka pencabulan. Ternyata, ketiganya sudah berada di tahanan Polsek Natar,” ungkap Arist Merdeka Sirait seperti dilansir dari Radar Lampung (Jawa Pos Group), Minggu (14/1).

Menurut Arist, KPAI sepekan lalu mendapat laporan dari keluarga korban berinisial IF, JH, dan MP. Mereka melaporkan telah terjadi tindak pidana pencabulan di salah satu Ponpes di wilayah Natar. Dalam laporan yang diterima KPAI, kasus tersebut hingga saat ini belum ada perkembangan.

”Makanya kami ke sini untuk croscheck, apakah benar laporan korban ke Polsek Natar tidak ditindaklanjuti. Kami langsung dijelaskan oleh Kapolsek Natar kalau prosesnya sudah ditindaklanjuti dengan menetapkan tiga orang tersangka. Kami langsung mengecek sel tahanan,” terangnya.

Arist menyebut, pihaknya juga langsung mendalami kasus tersebut. Dari hasil penyelidikan yang dilakukan, korban pencabulan yang dilakukan oleh ketiga pelaku mencapai 14 orang. Seluruhnya merupakan santri laki-laki di Ponpes.

”Usia korban sekitar 14-16 tahun, semuanya laki-laki. Empat orang yang melaporkan ke kami semuanya sudah keluar dari ponpes itu. Tapi, dari 14 korban, masih ada beberapa yang berada di Ponpes,” ucapnya.

Dia menjelaskan, dalam melakukan aksi pencabulan terhadap korban ketiga pelaku menerapkan modus bujuk rayu, tanpa ada paksaan sehingga terjadi pencabulan.

”Setelah melakukan pencabulan, para pelaku meminta kepada korban untuk tidak memberitahukan kepada orang lain. Karena korban segan dengan pelaku makanya korban tidak cerita,” ucapnya.

Dia secara khusus meminta aparat untuk menjatuhkan hukum seberat-beratnya kepada para pelaku. ”Kami minta kepada aparat penegak hukum untuk menghukum ketiga pelaku dengan seberat-beratnya. Karena ini menyangkut masa depan anak,” katanya.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak yang ancaman hukuman bagi pelaku pidana penjara minimal 10 tahun dan maksimal 20 tahun atau ditambah seumur hidup.

Terpisah, Kapolsek Natar Kompol Eko Nugroho mengaku sedang menyelidiki dan mengumpulkan barang bukti kasus tersebut. Sayangnya, Eko enggan menjelaskan lebih rinci proses penyelidikan kasus tersebut dengan alasan menjaga nama baik ponpes dan para korban. ”Yang pasti ketiga pelaku sudah kami tahan dari bulan Desember 2017. Tinggal pengumpulan bukti-bukti lain dan berkas agar segera dilimpahkan ke kejaksaan,” tandasnya.

(iil/jpg/rgm/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP