Rabu, 17 Jan 2018
Logo JawaPos.com
Hukum & Kriminal

Memakai Rompi Oranye, Fredrich Tak Terima Ditahan KPK

| editor : 

Berseragam oranye, Fredrich Yunadi resmi ditahan KPK

Berseragam oranye, Fredrich Yunadi resmi ditahan KPK (Desyinta Nuraini/JawaPos.com)

JawaPos.com - Usai menjalani pemeriksaan sejak Jumat (12/1) hampir tengah malam, akhirnya Fredrich Yunadi resmi menjadi tahanan KPK hari ini, Sabtu (13/1). Padahal peran dari mantan pengacara Setya Novanto itu dulu kerap licin.

Sekitar pukul 10.51 WIB, dari ruang penyidik tampak tim kuasa hukum Fredrich memanggil seseorang pria di lobi Gedung KPK. Dia meminta pria yang memakai kaos dan jaket berwarna itu mengambil tas jinjing yang juga berwarna hitam. Diduga, tas tersebut merupakan milik Fredrich.

Selang dua menit, akhirnya sosok Fredrich pun muncul. Mengenakan rompi oranye, dia menuruni anak tangga dari lantai ruang penyidik itu.

Dia sempat berbincang dengan tim kuasa hukumnya seraya berjalan santai ke luar Gedung KPK. Tak seperti mantan kliennya, Setya Novanto, dia mengeluarkan pernyataan di hadapan awak media.

Fredrich mengaku menjalankan tugasnya sebagai advokat, yakni membela kliennya pada waktu itu, Setya Novanto.

Berseragam oranye, Fredrich Yunadi resmi ditahan KPK

Berseragam oranye, Fredrich Yunadi resmi ditahan KPK (Desyinta Nuraini/JawaPos.com)

"Hari ini saya diperlakukan oleh KPK berarti semua advokat diperlakukan hal yang sama. Ini akan diikuti oleh kepolisian maupun jaksa. Jadi advokat dikit-dikit menghalangi," katanya.

Dia membantah telah melakukan upaya menghalang-halangi penyidikan. "Nggak ada, bohong semua," tegas Fredrich.

Mantan Ketua Peradi itu pun lantas mengatakan bahwa penahanan KPK tidak memenuhi syarat. "Saya memenuhi surat panggilan baru pertama kali tetapi dalam hal ini, baru di dalam hal ini, saya datang pukul 10 jam 8 sudah dateng untuk paksa jemput. Belum sampe dua puluh empat jam," sebutnya.

Fredrich bersikukuh bahwa penangkapan yang dilakukan KPK terhadap dirinya tidak dibenarkan. "Penangkapan itu kan nggak bisa dilakukan, harus setelah dua kali panggilan. Ini satu kali panggilan saja belum selesai," pungkasnya.

Seperti diketahui, penyidik KPK menjemput paksa Advokat Fredrich Yunadi, Jumat (12/1) malam. Saat diamankan oleh tim penyidik di bilangan Jakarta Selatan, tim penyidik membawa surat penangkapan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Fredrich diamankan di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan. U‎paya hukum itu dilakukan demi kepentingan penyidikan. ‎Saat diamankan, kata Febri, tak ada perlawanan dari Fredrich.

Jemput paksa dan penangkapan itu dilakukan lantaran Fredrich mangkir dalam pemeriksaan hari ini. ‎Seharusnya mantan‎ pengacara Setya Novanto itu menjalani pemeriksaan tersangka atas kasus merintangi penyidikan e-KTP. Namun, dia tidak hadir dengan dalih tengah proses etik di Dewan Kehormatan Peradi. ‎

KPK sebelumnya telah menetapkan Fredrich dan seorang dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau (RSMPH), Bimanesh Sutardjo sebagai tersangka kasus dugaan merintangi penyidikan perkara korupsi proyek pengadaan e-KTP yang menjerat Setya Novanto.

Keduanya diduga memanipulasi data medis agar Setya Novanto lolos dari pemeriksaan KPK. Fredrich bahkan disebut memesan satu lantai kamar VIP di RS Medika Permata Hijau sebelum Setya Novanto kecelakaan.

Atas perbuatannya, Fredrich dan Bimanesh disangkakan melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.‎

(dna/ce1/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP