Sabtu, 20 Jan 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Drama di Detik - Detik Akhir Tahap Pendaftaran Pilkada (1)

Debat Lima Jam, Deadlock, Dievakuasi Polisi

| editor : 

Pasangan Aneu Ratna Mustika-H Aming saat mendaftar ke kantor KPU Purwakarta

Pasangan Aneu Ratna Mustika-H Aming saat mendaftar ke kantor KPU Purwakarta (Maldiansah/Pasundan Ekspress/Jawa Pos Group)

Istri bupati Purwakarta diterpa isu SK ganda jelang mendaftar pada hari terakhir. Di Cirebon, ada yang memilih mundur dari partai untuk jadi cawagub tiga hari sebelum pendaftaran dibuka.

ADAM SUMARTO, Purwakarta - SAMSUL HUDA, Cirebon

---

Pasangan Aneu Ratna Mustika-H Aming saat mendaftar ke kantor KPU Purwakarta

Pasangan Aneu Ratna Mustika-H Aming saat mendaftar ke kantor KPU Purwakarta (Maldiansah/Pasundan Ekspress/Jawa Pos Group)

JARUM jam sudah menunjukkan pergantian hari. Memasuki Kamis dini hari (11/1). Tapi, dari dalam gedung KPU Purwakarta, suasana panas masih saja menguar.

Lima anggota KPU harus beradu argumen dengan paslon (pasangan calon) Rustandie-Dikdik Sukardi. Yang didampingi tim sukses; perwakilan Partai Gerindra, Hanura, PKS; dan sekitar 200 simpatisan.

Sebagaimana ditulis Pasundan Ekspres (Jawa Pos Group), perdebatan itu sudah berlangsung berjam-jam. Sejak rombongan Rustandie-Dikdik datang ke gedung KPU pada Rabu malam (10/1) sekitar pukul 22.00.

Pokok persoalan yang diperdebatkan adalah pembatalan SK (surat keputusan) DPP Partai Hanura untuk paslon Anne Ratna Mustika (Ambu) dan Aming. Yang dilanjutkan dengan pengalihan dukungan kepada Rustandie-Dikdik.

Tapi, pihak KPU menolak menerima pendaftaran paslon Rustandie-Dikdik. Dengan alasan, SK pertama telanjur dijadikan acuan untuk pasangan istri Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dan Aming itu Insiden di Purwakarta tersebut hanyalah satu di antara sekian drama pada detik-detik akhir pendaftaran pilkada (pemilihan kepala daerah) serentak 2018. Masih banyak drama lain, dengan tema dan cerita di balik layar yang mungkin tak serupa. Tapi, sama-sama mengejutkan.

Maklum, ini hajatan politik serentak terbesar selama Indonesia merdeka. Ada 171 pilkada yang bakal digelar berbarengan pada 27 Juni mendatang. Mulai pemilihan gubernur sampai pemilihan bupati dan wali kota.

Di Purwakarta, pada Kamis dini hari lalu yang sebenarnya dingin itu, tensi ketegangan tetap tak turun saat jarum jam kian mendekati pukul 03.00.

Tapi, KPU Purwakarta bergeming hingga terjadi deadlock alias tanpa menghasilkan keputusan. Menjelang pukul 03.00 atau setelah lima jam berdebat, Ketua KPU Purwakarta Ramlan Maulana secara sepihak menutup rapat pleno.

Untung, para personel Polres Purwakarta bergerak cepat. Para anggota KPU dievakuasi. Lokasi disterilkan.

"KPU bukan tidak menerima pendaftaran karena kalau tidak menerima, serahkan kembali dong berkasnya. Ini malah ujug-ujug main tutup seenaknya saja," kecam Gugun Gumilar, ketua tim pemenangan Rustandie-Dikdik.

Menurut Gugun, tindakan ketua KPU Purwakarta menutup rapat pleno justru memancing situasi panas. Apalagi dengan dikawal polisi. "Ini tragedi demokrasi di Purwakarta, di mana hak konstitusional saya dirampas tanpa alasan hukum yang jelas. Mari kita terus perjuangkan hak memiliki pilihan bagi warga Purwakarta," ujar Rustandie yang juga anggota DPRD Provinsi Jawa Barat itu.

Kubu Rustandie-Dikdik menyatakan bakal mengambil langkah mediasi. "Kami akan membahas di internal partai dulu, kemudian kita akan ke Bawaslu pusat, provinsi, dan daerah. Jangan sampai ada yang dirugikan," ujar Gugun.

Tapi, toh pasangan Ambu-Aming tetap melenggang. Pada Rabu siang, duet tersebut mendaftarkan diri sebagai pasangan calon bupati dan wakil bupati Purwakarta ke kantor yang sama. Berkas persyaratan pencalonan keduanya pun telah diterima KPU Purwakarta.

"Iya, sudah diverifikasi semua persyaratannya, termasuk model B1 sudah sesuai, juga B2, B3, dan B4. Pun halnya SK kepengurusan sudah sesuai," kata Ramlan.

Hanura hanyalah 1 di antara 6 partai yang mendukung pasangan tersebut. Ambu-Aming akan berhadapan dengan dua pa­sangan lainnya.

R. Priyatna Kusumah, ketua Hanura Purwakarta, juga membantah adanya isu SK ganda.

Priyatna menegaskan, yang diketahuinya hanya SK No SKEP/B/045/DPP-HANURA/1/2018 perihal Surat Keputusan tentang Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Purwakarta periode 2018-2023 tertanggal 7 Januari 2018.

"SK ini kami terima dari DPP (Hanura) secara langsung di City Tower lantai 18, Jakarta, pada 7 Januari 2018. Jadi, kalau ada SK lain, saya tidak tahu," ujar Priyatna dalam jumpa pers di Purwakarta Rabu lalu.

Ambu juga tak ambil pusing terhadap pihak yang meributkan SK dari Hanura. Dia memilih lebih berfokus ke visi dan misi: melanjutkan program pembangunan suaminya yang sudah berjalan dan menyelesaikan yang belum selesai.

Dedi Mulyadi, seperti diketahui, jadi bakal calon wakil gubernur pendamping Deddy Mizwar di pilkada kali ini. "Semua akan kita lanjutkan dan selesaikan. Yang penting, semuanya demi kepentingan masyarakat Purwakarta," kata Ambu.

Di Cirebon, kejutan juga terjadi pada hari-hari terakhir menjelang pendaftaran. Dina Hernawa Susanti, anggota DPRD Kabupaten Cirebon, memilih mundur sebagai wakil rakyat dan pengurus PDIP setempat hanya tiga hari sebelum pendaftaran kandidat dibuka pada Senin lalu (8/7). Pilihan itu diambil lantaran dia dipinang Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai bakal calon wakil bupati (cawabup) untuk pilkada Kabupaten Cirebon.

Santi -sapaan akrab Dian Hernawa Susanti- diusung PKS dan Gerindra mendampingi Kalinga. Kalinga merupakan mantan kepala BKD Kabupaten Cirebon. "Saya tidak akan pernah melupakan jasa-jasa yang telah diberikan PDIP. Pilihan mengundurkan diri adalah cara yang tepat sebagai bentuk keseriusan saya maju di pilkada untuk memperbaiki kondisi Kabupaten Cirebon," ujar Santi kepada Radar Cirebon.

Santi mengakui, dirinya menerima pinangan PKS karena PDIP sudah memilih Sunjaya-Imron sebagai bakal calon bupati dan wakil bupati. "Artinya, keluar dari PDIP bukan kehendak pribadi, tapi karena dipinang PKS. Figur perempuan juga harus tampil di pilkada untuk mewakili di eksekutif nanti," katanya.

Selain PKS dan Gerindra, Kalinga-Santi didukung PPP. Total empat pasangan akan bertarung di pilkada Kabupaten Cirebon.

"Masyarakat dan sejumlah pihak terus mendorong saya untuk tetap maju di pilkada. Karena itu, saya langsung mengambil langkah cepat untuk mengajukan pengunduran diri," katanya. 

(*/c5/c10/ttg)

Sponsored Content

loading...
 TOP