Sabtu, 20 Jan 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Today

Hidupi Sembilan Adik, Mahasiswa ITB Tinggalkan Bangku Kuliah

| editor : 

Muh Izhak (menggendong  bocah)

Muh Izhak (menggendong bocah) (Facebook for Andi Syura Muhlis/Fajar)

Andaikan bisa memilih, Muh. Izhak ingin meneruskan kuliahnya di Institut Teknologi Bandung (ITB) hingga tuntas. Namun demi sembilan orang adik-adiknya, dia harus berperan sebagai orang tua dan meninggalkan mimpi menjadi seorang sarjana.

ILHAM WASI, Polman

---

LELAKI asal Aribang, Desa Pasiang, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, itu rela meninggalkan kuliah demi menghidupi sembilan adiknya.

Muh. Izhak, 22, dan semua adiknya kini yatim piatu. Kisah hidupnya mendadak viral di media sosial. Andi Syura Muhlis yang mengunggah foto dan video Izhak pada Rabu, 13 Desember.

Meskipun meraih beasiswa bidikmisi di Institut Teknologi Bandung (ITB), Izhak terpaksa memutuskan berhenti kuliah. Kala itu dia harus pulang ke Polman.

Dia mendapat kabar bahwa ibunya, Samiah, terbaring sakit. Dia pun memutuskan pulang untuk merawat orang tuanya tersebut.

Namun, Tuhan menakdirkan berbeda. Ibundanya meninggal pada 13 Februari 2017 karena penyakit tumor yang dideritanya. Tidak sampai di situ, Ilyas, ayah Izhak, berpulang pada 22 November 2017.

Kini, setelah ditinggal kedua orang tuanya, sebagai anak sulung Izhak-lah yang menjadi tulang punggung keluarga.

Tetapi, untuk mencari nafkah, Izhak terbatas. Adik bungsunya, Muh. Khaerul, baru berusia 19 bulan. Izhak-lah yang menjaga adiknya tersebut.

Ditambah lagi harus mengurusi tujuh adiknya yang masih sekolah. Untungnya, ada adik keduanya, Aslan, 19. Lewat Aslan, pekerjaan sehari-hari menyadap enau untuk membuat gula merah menjadi tumpuan hidupnya.

Izhak mengatakan, kisahnya boleh ditulis. Saat dimintai konfirmasi, dia membetulkan penulisan namanya, Muh Izhak, bu­kan Ishak.

"Boleh saja. Tapi, jangan ditambah-tambah bahwa saya tidak terima bantuan pemerintah. Soalnya saya tetap terima bantuan dari pemerintah. Ada program keluarga harapan (PHK). Adik-adik saya sekolah juga terima dari program pe­merintah Kartu Indonesia Pintar (KIP)," ujarnya.

Izhak menambahkan, dirinya memang menerima beasiswa bidik misi pada 2013. Dia mengambil studi di Teknik Kimia ITB, namun kandas di tengah jalan karena tanggung jawab. "Saya mundur hampir dua tahun lalu, pada 2016," jelasnya.

Alumnus SMAN 3 Polewali itu menuturkan, sehari-hari dirinya mengandalkan penghasilan dari gula merah yang dikerjakan adik keduanya, Aslan.

"Aslan putus sekolah semenjak kelas IV SD. Sekarang usianya 18-19 tahun. Penghasilan dari gula merah itu cukup," paparnya.

Untuk adiknya yang lain, semua masih sekolah. Dia juga masih memikirkan untuk mencari pekerjaan tambahan. Dia masih punya beban membiayai tujuh adik-adiknya.

"Ada yang kuliah satu orang di STAIN Parepare. Lainnya ada yang duduk di TK, SD, MTs," ungkap pria kelahiran 1995 itu.

Izhak juga berharap kelak bisa kembali melanjutkan kuliah. Hanya, harus ada yang menjaga adiknya yang bungsu. 

(rif/zuk/c4/ami)

Sponsored Content

loading...
 TOP