Selasa, 16 Jan 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Curahan Hati Para Ibu Rumah Tangga Positif HIV & AIDS

| editor : 

ODHA

BERTAHAN: Sempat ingin mati karena menderita HIV/AIDS, tapi Nilam bangkit karena anak negatif (Ghofuur Eka/Jawa Pos)

Kasus HIV/AIDS tidak lagi didominasi pekerja seks komersial (PSK). Statistik penyakit itu mulai bergeser dan menempel pada ibu rumah tangga. Sebagian besar tertular virus dari suami. Meski begitu, mereka tetap survive menghadapi masa depan.


SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya


SOSOK bertubuh kurus dan kecil itu berdiri tepat di depan salah satu restoran di Kapas Krampung Plaza (Kaza) City, Surabaya, Kamis (30/11). Sosok perempuan berkerudung bunga-bunga. Kedua matanya terus mencari tempat duduk kosong yang jauh dari keramaian.

’’Di sana saja ya, Mbak,” kata perempuan tersebut kepada Jawa Pos. Tangannya menunjuk salah satu tempat duduk di jajaran paling depan.

Kulitnya sawo matang dan sedikit kering. Sesekali, dia mengusap-usap kelingking tangan kirinya. Ada bekas luka jahitan. Jika dilihat saksama, sepertinya luka yang sudah cukup lama. Nilam (bukan nama sebenarnya), perempuan itu, mulai menyadari bahwa saya terus mengamati gerak-geriknya sedari tadi di meja makan tersebut.

’’Ini bekas luka saya saat kecelakaan,” ucap Nilam yang berusaha menjelaskan meski tidak diminta. Dari situlah obrolan mulai mengalir. Luka di jari kelingking tersebut ternyata memiliki cerita sendiri bagi Nilam.

Pada 2014 dia mengalami kecelakaan saat pulang kerja dari salah satu mal di Surabaya. Perjalanan dari tempat kerja menuju rumahnya di kawasan Kenjeran itu cukup jauh. Di tengah jalan, dia ditabrak. Namun, si penabrak kabur. Beruntung, ada orang yang menyelamatkan dan membawanya ke rumah. ’’Saya sudah dibawa ke rumah sakit dan dijahit. Ada tulang yang patah di jari,” ujarnya.

Selang beberapa minggu, dia datang ke salah satu faskes I untuk membuka perban dan jahitan. Saat itu dua perawat yang menanganinya tidak mengenakan sarung tangan. Mereka mau melakukan tindakan. Namun, Nilam berusaha mengingatkan bahwa dirinya menderita HIV. ’’Mbak, saya kena HIV. Mbak enggak pakai sarung tangan?” katanya ketika itu.

Mendengar hal tersebut, bukannya mengenakan sarung tangan, perawat itu langsung melepas tangan Nilam dan meninggalkannya. Rasa sedih pun berkecamuk di dalam hatinya. Dia diabaikan begitu saja. Setelah menunggu lama tak kunjung ditangani, Nilam pun pergi. ’’Nelangsa, Mbak. Rasanya pengin nangis waktu itu,” kisahnya.

Padahal, saat itu dia hanya perlu buka perban. Nilam justru mendapat surat rujukan ke RSUD dr Soetomo. Perlakuan diskriminatif tersebut sempat membuat Nilam merasa hidupnya hancur. ’’Mungkin, pada tahun itu pemahaman orang tentang HIV masih minim,” katanya. Nilam berusaha memperbaiki posisi duduknya. Dia masih tampak tegar.

Ya, HIV memang salah satu penyakit mematikan yang paling ditakuti masyarakat. Sebab, penyakit yang menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh tersebut bisa menular. Tentunya, penularannya tidak semudah itu. Penularan bisa melalui kontak langsung seperti hubungan seksual, penggunaan jarum suntik bergantian, hingga lewat darah.

Faktanya, masih banyak yang mendiskriminasi orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Nilam selalu menyembunyikan statusnya sebagai ODHA. ’’Sampai sekarang saya tidak pernah mengaku sebagai ODHA,” ujarnya.

Nilam adalah korban. Perempuan 32 tahun tersebut tertular HIV dari suaminya. Saat itu, pada akhir Desember 2013, suaminya yang bekerja sebagai sopir ekspedisi Surabaya–Semarang tersebut drop. Badannya panas ketika siang. Dingin hingga menggigil kala malam. ’’Sempat jatuh sakit saat di Semarang. Saya bingung karena saya di Surabaya,” katanya.

Setelah kembali ke Surabaya, suami Nilam tidak kunjung sembuh. Nilam sudah tiga kali memeriksakan suaminya ke dokter spesialis. Namun, ketika itu belum ada diagnosis HIV. Badan suaminya semakin kurus. Batuk tidak berhenti. Lidah sudah berjamur. Nilam pun membawanya ke UGD RSUD dr Soetomo.

Dari situlah, dokter melakukan pemeriksaan HIV. Hasilnya positif. Namun, saat itu dia tidak diberi tahu langsung. Hanya mertua Nilam yang mendapat penjelasan tentang penyakit yang diderita suaminya. ’’Saya bingung, suami saya sakit apa kok sampai seperti itu,” ujarnya.

Pada awal Januari 2014, Nilam diminta untuk menjalani tes HIV. Hasilnya positif. Saat itu dia masih tidak mengerti tentang HIV. Setelah mendapat penjelasan dari dokter, Nilam langsung shock. Dia marah. Rasanya, dunia mau runtuh. Nilam tidak henti-henti menyalahkan suaminya. ’’Kenapa harus saya Tuhan,” kata Nilam mengingat awal-awal masa pahit itu.

Bukan hanya Nilam, anaknya yang masih berusia 4 tahun juga diperiksa. Dia bersyukur anak semata wayangnya tersebut tidak tertular HIV. Nilam pun mulai berdamai dengan takdir. Dia berusaha menerima keadaan. ’’Saya coba terus bertahan karena anak. Masa depannya masih panjang,” tuturnya.

Nilam mengatakan, suaminya bekerja sebagai sopir ekspedisi jarak jauh. Hal itu membuat suaminya jarang di rumah. Pergaulan bebas pun dijalani suaminya. Salah satunya, narkoba dengan jarum suntik. ’’Suami tertular dari jarum suntik,” katanya.

Sejatinya, suami Nilam sudah mengetahui dampak penggunaan jarum suntik bergantian. Sebab, banyak kawannya yang pengguna narkoba saat itu meninggal dunia karena terkena HIV. Namun, hal tersebut diabaikannya. ’’Setiap diminta periksa HIV, suami saya tidak pernah mau,” ungkap perempuan yang kini bekerja sebagai tukang jahit itu.

Selama sakit, suaminya tidak bisa bekerja. Kurang lebih dua tahun. Setelah minum antiretroviral (ARV) secara rutin, kondisi suami Nilam semakin baik. Kini dia sudah bisa bekerja lagi sebagai sopir. ’’Alhamdulillah sekarang sudah bisa aktif,” ujarnya.

Nilam menuturkan, dirinya juga sempat berkali-kali masuk rumah sakit karena daya tahan tubuhnya melemah. Stres berkelanjutan. Itu terjadi ketika awal-awal terdiagnosis HIV. ’’Saya kecewa. Ditambah beban utang yang banyak. Suami tidak bisa bekerja saat itu,” ungkapnya.

Selama enam bulan, Nilam melewati masa yang begitu berat. Setiap berkunjung ke Unit Perawatan Intermediate dan Penyakit Infeksi (UPIPI) RSUD dr Soetomo, Nilam selalu menangis. Ketika itu, ada seorang pasien yang menyapanya. Pasien tersebut memberikan semangat karena sama-sama terkena HIV. ’’Ternyata bukan hanya saya. Banyak pasien yang datang dengan penyakit sama,” ucapnya.

Kemudian, Nilam bertemu dengan Couple Community (CC) Surabaya. Di dalamnya banyak penderita HIV yang saling menguatkan dan memberikan motivasi. Dari situlah, Nilam merasa lebih kuat. Hidup terus berlanjut. Terlebih untuk masa depan anaknya. ’’Dulu, saya sering di rumah. Sekarang banyak keluarga baru,” katanya.

Nilam berharap masyarakat tidak lagi memberikan stigma kepada ODHA. Selalu mendiskriminasi ODHA. Padahal, mereka tidak mengetahui persis tentang HIV/AIDS. Terlebih soal penularan penyakit tersebut. ’’Saya ingat sekali. Saat saya sakit, tetangga saya menjenguk, tetapi tidak mau bersalaman dengan saya,” ujarnya.

Selain itu, Nilam merasakan diskriminasi di lingkungan rumahnya. Ketika suaminya sembuh dari sakit, dia ingin mengadakan syukuran dengan membuat bubur untuk dibagikan ke tetangga. Namun, bubur yang diberikan justru dibuang.

Meski demikian, Nilam tetap bersemangat. Bagi dia, tetap ada masa depan yang bisa digapai. Masa depan tanpa diskriminasi.

(*/c7/dos)

Sponsored Content

loading...
 TOP