Jumat, 19 Jan 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Hukum & Kriminal

Analisis Pakar Kesehatan Atas Aksi Bisu Novanto Pada Sidang Perdana

| editor : 

Setya Novanto saat sidang perdana perkara e-KTP

Setya Novanto saat sidang perdana perkara e-KTP (Dery Ridwansyah/Jawa Pos)

JawaPos.com - Pada sidang perdananya terdakwa kasus korupsi e-KTP, Setya Novanto kembali "bermain" drama. Dia mengaku tak mendengar segala ucapan hakim. Gestur tubuhnya pun ditampilkan seolah-olah dia menderita sakit dan tak bisa mengikuti persidangan.

Pakar Kesehatan dari Departemen Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc. menilai, secara umum setiap manusia memiliki bagian otak yang dinamakan amigdala. Amigdala akan memberi respons negatif saat seseorang berbohong dan terus memudar saat terus berbohong. Dan jika seseirang terlalu sering berbohong, maka dia tak lagi memilki respons emosional saat berbohong.

"Amigdala akan memberi respons saat kita bohong, munculah rasa bersalah. Namun terlalu sering kita bohong, amigdala enggak akan respons lagi. Bohong itu sudah kebiasaan, ada bagian otak yang bereaksi. Seperti anak kecil pasti bohong kepada orang tuanya kan pasti deg-degan," ujar Budi kepada JawaPos.com, Kamis (14/12).

Setya Novanto saat sidang perdana perkara e-KTP

Setya Novanto saat sidang perdana perkara e-KTP (Dery Ridwansyah/Jawa Pos)

Menurut Budi saat seseorang sudah lebih sering berbohong, itu sudah menjadi budaya dan tak merasa bersalah lagi. "Ini berlaku umum ya, analisis saya kadang lihat para koruptor itu, jangan-jangan sudah mati amigdalanya," ujarnya tertawa.

Di sisi lain, kata Budi, kehidupan Setya Novanto pasti memilili banyak stressor yang memicunya untuk melakukan drama. Dari mulai jabatannya sebagai ketua partai, lalu ketua DPR. Belum lagi di depan mata kerabat dan keluarga, Setya Novanto mengalami kehilangan yang luar biasa.

"Dia kan ketua partai, proudness. Ketua DPR proudness, keluarga juga. Itu semua seolah-olah menjadi tak miliknya lagi. Lihat dari teori kehilangan, pasti akan menghindari itu," kata Budi.

Maka saat seseorang sudah merasakan kehilangan, seseorang akan melewati sejumlah fase. Dalam teori Kuberose, seseorang yang kehilangan akan mengalami lima fase utama.

Di antaranya, mengingkari (kondisi di mana seseorang membantah bahwa dirinya tak seperti yang dituduhkan), marah atau anger (menggunakan segala macam cara agar itu tak terjadi), tawar-menawar (sudah menyesali mengapa dulu begini dan begitu), depresi, dan menerima.

"Kalau Setya Novanto ini kan masih di fase-fase awal. Ada denial dan anger. Segala macam upaya digunakan," tutur Budi.

Memang semua dokter menyebutkan tak ada tanda-tanda sakit pada diri Si Papa. Namun kelihatannya Setya Novanto berpikirnya panik bagaimana menghadapi situasi yang dia hadapi.

"Kalau secara tensi enggak ada masalah atau kondisinya sehat, maka saat duduk di kursi pesakitan itu sangat menakutkan. Kondisi psikosomatis cuma dia (Novanto) yang merasakan meski sudah melakukan doctor shopping atau periksa ke mana pun," tutup Budi.

(ika/ce1/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP