Selasa, 16 Jan 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Today

Sisi Lain Erupsi Gunung Agung

Tinggal di Pengungsian, Korban Erupsi Tetap Jeli Cari Peluang Usaha

| editor : 

Suasana pengungsian Aula Desa Bugbug, Kabupaten Karangasem

Suasana pengungsian Aula Desa Bugbug, Kabupaten Karangasem (Muhammad Ridwan/JawaPos.com)

JawaPos.com - Kadek Setiawati (40), warga Desa Tingan, Bebandeng, Kecamatan Karangasem, Bali sudah dua minggu menetap di pengungsian korban terdampak Gunung Agung. Di pengungsian ini dia memboyong anak-anak dan kedua orang tuanya.

"Kondisi di sini baik-baik saja, makan cukup, dikasih makan sayur, tempe itu aja. Daging-dagingan pernah cuma sekali," kata Kadek Setiawati saat ditemui JawaPos.com di Aula Desa Bugbug, Kabupaten Karangasem, Senin (11/12) malam.

Berada di pengungsian memang tidaklah senyaman di rumah. Di sana mereka tidur di kasur tipis yang beralaskan terpal. Namun di tempat penampungan itu dia dan keluparga selamat dari ancaman erupsi Gunung Agung yang hingga kini belum kunjung berhenti. "Obat-obatan disediakan. Dokter pun ada setiap dua hari sekali," ungkap perempuan yang biasa disapa Wati itu.

Kadek Setiawati (40), korban erupsi Gunung Agung di pengungsian.

Kadek Setiawati (40), korban erupsi Gunung Agung di pengungsian. (Muhammad Ridwan/JawaPos.com)

Desa Tingan termasuk daerah yang berkategori rawan erupsi Gunung Agung karena hanya berjarak delapan kilometer dari kawah gunung. Atas dasar itulah, warga Desa Tingan lebih memilih menyelamatkan diri, meskipun harta benda mereka harus terpaksa ditinggal di rumahnya masing-masing.

Sambil menceritakan alasannya menetap di pengungsian, ternyata perempuan kelahiran Pulau Dewata ini harus mencari secercah rupiah. Dia menggunakan ide kreatifnya supaya bisa mendapatkan pemasukan. "Daripada bosan di pengungsian, saya sambil nganyam buat kotak tisu," ujar Wati.

Buktinya selama menetap di pengungsian, Wati sudah bisa membuat lima kotak tisu. Satu kotak tisu dijual seharga Rp 60.000. Menurutnya meskipun tinggal di pengungsian tidak ada alasan baginya untuk berdiam diri. "Sudah menghasilkan Rp 300.000 selama di pengungsian," tuturnya.

Walau bisa mencari peluang usaha di pengungsian, Wati tetap berharap bisa cepat kembali ke rumah. Sebab rumah itu tempatnya berkumpul bersama keluarga. "Berharap kondisi Gunung Agung seperti semula, tidak terjadi lagi erupsi, ingin beraktivitas seperti biasanya," tandasnya.

(ce1/rdw/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP