Sabtu, 20 Jan 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Internasional

Soal Yerusalem, Saudi Cuek, Eropa Marah

| editor : 

Unjuk Rasa di Eropa

Unjuk Rasa di Eropa (Jerusalem Post)

JawaPos - Putra Mahkota Kerajaan Saudi Mohammad bin Salman (MBS) sangat jarang menyebut pembicaraan damai Israel-Palestina. Saudi terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.

MBS pernah menyatakan, urusan Palestina bukanlah prioritas dibanding perlawanan terhadap hegemoni Iran. Maka tak heran bulan lalu sempat muncul tagar di media sosial yang bertuliskan Riyadh more important than Jerusalem atau Riyadh lebih penting dibandingkan Yerusalem. Pernyataan tersebut didukung ribuan warga Saudi dari berbagai kalangan.

Kontras dengan reaksi Saudi, justru di belahan Eropa ribuan orang berbondong-bondong ke jalan-jalan di seluruh Eropa melakukan unjuk rasa atas keputusan Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengakui Yerusalem sebagai ibu kota resmi Israel.

Palestina

Palestina (Reuters)

Unjuk rasa terjadi di Swiss, Jerman, Belanda, dan Swedia. Para pengunjuk rasa meneriakkan slogan solidaritas dengan Palestina. Mereka membawa bendera Palestina dan Turki.

Pada hari Rabu, Trump mengumumkan pengakuan AS atas Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Ia juga berencana untuk memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Keputusan kontroversial tersebut membuat marah umat Islam di seluruh dunia. Di Jenewa, para pengunjuk rasa berkumpul di depan PBB di pusat kota Swiss pada Sabtu, (9/12). Mereka menolak keras keputusan tersebut.

Pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan menentang Israel dan keputusan Trump di Yerusalem. Mereka membawa spanduk bertuliskan "Bebaskan Palestina, akhiri pendudukan Israel."

Mereka juga memegang spanduk bertuliskan, "Lepaskan tanganmu dari Yerusalem"; "Yerusalem adalah Ibu Kota Palestina." Spanduk lain bertuliskan, "Kami tidak memberi Anda Yerusalem."

Ratusan orang dari LSM juga berkumpul di luar gedung Pengadilan Internasional di Den Haag. Mereka marah dengan keputusan AS.

Di Ibu Kota Swedia, Stockholm, lebih dari 2.000 pengunjuk rasa diiringi oleh Union of European Turkish Democrats (UETD) serta beberapa kelompok lokal. Mereka berbaris ke Kedutaan Besar AS. Di sana mereka meneriakkan, "Merdeka Palestina."

Berbicara di depan gedung Kedutaan Besar AS, Sibel Amine Mert dari UETD Stockholm mengatakan, mereka menolak keputusan Trump. "Turki dan semua orang Turki tinggal di luar negeri berdiri membela orang-orang Palestina."

Seorang pengunjuk rasa Dror Feiler, aktivis keturunan Yahudi Swedia, mengutuk langkah Trump. "Yerusalem adalah kota suci bagi umat Islam, Yahudi, dan Kristen. Ketiga kelompok ini perlu hidup dalam damai, Trump malah merusak perdamaian dengan keputusan payahnya," kata Feiler seperti dilansir Anadolu.

Unjuk rasa juga meletus di kota-kota Jerman di Dortmund dan Bremen. Orang-orang bereaksi keras atas keputusan tersebut. Mereka menilai keputusan Trump merupakan pelanggaran hak asasi manusia.

Pergeseran dramatis dalam kebijakan AS terhadap Yerusalem memicu unjuk rasa besar-besaran di Palestina yang diduduki Turki, Mesir, Yordania, Tunisia, Aljazair, Irak, Indonesia, dan negara-negara muslim lainnya.

(ce1/met/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP