Kamis, 14 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Today

Pengakuan Mahasiswi Aborsi: Setelah Saya Disuntik, Polisi Datang

| editor : 

mahasiswi aborsi, dokter aborsi, praktik aborsi, aborsi palembang

dr Wim Ghazali bersama pasiennya Mia diringkus aparat Mapolda Sumsel karena melakukan praktik aborsi. (EVAN ZUMARLI/Sumatera Ekspres)

JawaPos.com - Seorang oknum dokter di Palembang, Sumsel, diduga melakukan persekongkolan dengan seorang mahasiswi untuk melancarkan praktik aborsi. Keduanya diringkus usai upaya menghancuran janin selesai di klinik sang dokter.

Nurmiati yang biasa disapa Mia (24), harus menahan sakit bercampur malu. Ketika dia berusaha menggugurkan janinnya di klinik tempat dia menjalani aborsi di Kecamatan Ilir Timur, Palembang justru malah digerebek petugas Polda Sumatera Selatan pada Rabu (6/12) sekitar pukul 18.00.

Mahasiswi salah satu kampus di Ogan Komering Ulu (OKU) itu kemudian digiring ke Mapolda bersama dr Wim Ghazali (72), yang diduga membantu tindak aborsi. Mereka pun ditetapkan sebagai tersangka. "Keduanya langsung kami bawa ke Mapolda dan kami lakukan pemeriksaan awal," ujar Kasubdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Sumsel AKBP Suwandi Prihantoro kemarin (7/12).

mahasiswi aborsi, dokter aborsi, praktik aborsi, aborsi palembang

dr Wim Ghazali bersama pasiennya Mia diringkus aparat Mapolda Sumsel karena melakukan praktik aborsi. (EVAN ZUMARLI/Sumatera Ekspres)

Menurut dia, di ruang praktik Wim ditemukan beberapa obat dan peralatan medis untuk aborsi. "Saat kami datang ke TKP, kondisi Mia sudah disuntik. Kami menemukan gumpalan-gumpalan darah. Tapi, kami belum tahu pasti darah apa itu. Saat ini sudah kami bawa sebagai barang bukti untuk diperiksa di labfor," jelasnya.

Suwandi menyatakan, Mia mengaku sebelumnya diberi beberapa obat penghancur janin. Namun, obat tersebut belum berkhasiat. Kemudian, Wim memberikan suntikan kepada Mia.

Beberapa barang bukti juga dibawa ke Mapolda Sumsel. Antara lain, surat pendaftaran kontrol berobat, tiga botol besar obat suntik yang sudah dipakai, satu botol sedang obat suntik yang sudah habis dipakai, dan satu botol kecil obat suntik yang sudah habis dipakai.

Lalu, ada satu bungkus obat suntik yang sudah terbuka, tiga butir pil putih, serta satu tong sampah yang di dalamnya terdapat botol obat suntik yang sudah habis.

Suwandi menyebutkan, kedua tersangka dijerat pasal 77a ayat 1 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. "Ancamannya pidana penjara selama 10 tahun dan denda Rp 1 miliar," katanya.

Sekitar 22 jam diperiksa di mapolda, Wim dan Mia lantas dipulangkan sekitar pukul 17.30. Wim dipulangkan karena usianya sudah lanjut. Mia juga dipulangkan dengan alasan kesehatan setelah diduga menjalani aborsi.

"Namun, keduanya akan dipanggil lagi jika penyidik membutuhkan keterangan mereka. Yang jelas, proses hukum ter­hadap kedua tersangka terus berlanjut," tandas Suwandi.

Setelah diperiksa penyidik, Mia mengaku sengaja datang ke Palembang dari Kabupaten OKU untuk menjalani aborsi. Dia menginap di rumah kawannya di Palembang. "Saya tahu ada praktik itu dari kawan saja. Setelah saya disuntik dokter, polisi datang dan membawa kami ke Polda," ungkapnya.

Berbeda dengan Mia yang blak-blakan, Wim membantah soal aborsi itu. Dia mengaku hanya mengobati pasiennya yang telat datang bulan. Dia mengungkapkan, dalam 30 hari terakhir, ada dua pasien yang datang kepadanya karena telat datang bulan.

"Karena tidak punya peralatan lengkap, saya suntik. Jadi, itu bukan aborsi," ujarnya berkilah. 

(vis/c5/ami/ce1)

Sponsored Content

loading...
 TOP