Sabtu, 16 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Humaniora

Mentan Anjurkan Makan Keong, Ini Komentar Nyelekit Anak Buah Prabowo

| editor : 

Fadli Zon

Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon yang juga Wakil Ketua DPR menilai pernyataan Mentan Amran soal makan keong hanya membuat citra Jokowi rusak. (JawaPos.com)

JawaPos.com - Lantaran tingginya harga daging sapi, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyarankan kepada masyarakat untuk memakan keong sawah atau tutut. Sebab kandungan proteinnya juga tinggi sehingga bisa menjadi pangan alternatif bagi masyarakat.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengaku kecewa dengan pernyataan yang disampaikan oleh Amran Sulaim‎an. Pasalnya, terobosan makan keong itu hanya akan menimbulkan kegaduhan dan tidak pantas disampaikan.

"Saya kira pernyataan itu bukan pernyataan yang bijak, bahkan menjadi bahan olok-olokan," ujar Fadli kepada JawaPos.com di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (7/12).

Menurut Fadli, apabila daging sapi mahal baiknya Amran Sulaiman menggantinya dengan menyarankan kepada masyarakat memakan protein hewani lainnya. Bukan malah menyuruh makan keong.

"Harusnya kalau kekurangan protein bisa menggunakan protein lain seperti ikan. Karena kalau keong‎, ini tentu tidak lazim dikonsumsi bagi kebanyakan masyarakat Indonesia,” katanya.

Oleh sebab itu, harusnya Amran Sulaiman jangan berkomentar yang bisa memberikan citra buruk kepada pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Berkomentarlah lebih bijak, sehingga tidak memunculkan suatu kontroversi.

"Karena kegaduhan itu merugikan pemerintah dan Mentan sendiri," tegasnya.

Wakil Ketua Umum Gerindra ini juga meminta Amran Sulaiman untuk segera menjelaskan ke publik agar kegaduhan tidak berlama-lama di masyarakat.

"Perlu klarifikasi supaya tidak banyak muncul tentang meme-meme keong mas, untung bukan keong racun yang dianjurkan," pungkasnya.

Sementara itu, hal senada juga diungkapkan oleh politisi Gerindra Bambang Haryo. Dirinya menilai anjuran Menteri Amran untuk makan keong sangat tidak memberi solusi. Bahkan hanya menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

"Soal keong sawah ini adalah‎ pernyataan tidak punya tanggung jawab dan tidak ada kepeduliannya kepada masyarakat," ujar Bambang saat di ruang paripurna Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (7/12).

Menurut Bambang, apa yang disampaikan oleh Amran Sulaiman sangat bertolak belakang tentang UU tentang perdagangan, bahwa daging adalah sebelas komuditas dan harus disesuaikan harganya kepada masyarakat. 

Artinya, lanjut Bambang, apabila Amran tetap membiarkan daging sapi dengan harga tinggi sama saja sudah bertentangan dengan UU. ‎"Ini jelas sudah menyalahi dari pada UU dan ini sudah tidak bertanggung jawab," katanya.

Dituturkan Anggota Komisi VI DPR walaupun keong sawah nilai proteinnya juga tinggi. Namun tidak semua masyarakat dapat mengonsumsinya atau mengolahnya menjadi bahan makanan lain.

"Jadi enggak mungkin keong sawah jadi rendang, jadi rawon, jadi soto, atau jadi bakso. Padahal 15 juta UMKM kita adalah penjual bakso," tegasnya.

Diketahui, saat melakukan sidak ke Pasar Induk Beras Cipinang, Mentan Andi Amran Sulaiman menyarankan masyarakat bisa beralih mengonsumsi makanan lain yang proteinnya hampir sama seperti daging, yakni memakan keong atau tutut yang biasa dijumpai di sawah-sawah ataupun di danau.

"Jadi seperti tutut, itu proteinnya sama lebih bagus dari daging," ujar Amran beberapa waktu lalu.

Sementara harga daging sapi juga masih berada di atas Rp 100 ribu per kilogram, sehingga banyak masyarakat yang mengeluhkan kondisi tersebut.

(ce1/gwn/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP