Rabu, 13 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Cerita Polisi setelah Dua Pekan Bekerja di Kantor Polisi

| editor : 

Polisi

BERKAH NAMA: Polisi diapit Kapolres Pasuruan AKBP Raydian Kokrosono dan ibunya, Illiyin, sesaat setelah direkrut untuk menjadi PHL di Satlantas Polres Pasuruan. (Iwan Andrik/Radar Bromo/JPR)

Rezeki bagi Polisi berupa pekerjaan di kantor polisi didapat setelah terjaring operasi polisi. Ketenaran Polisi membuatnya laris diajak selfie, termasuk oleh para polisi asli.

IWAN ANDIK, Pasuruan

BISA dibayangkan betapa gusarnya polisi terhadap pengendara jalan yang terjaring Operasi Zebra di depan Mapolres Pasuruan itu. Sudah tak bawa SIM, eh ditanya malah jawabnya mengada-ada.

”Tak tanya sekali lagi ya, jawab yang benar. Siapa namamu?” kata si polisi.

”Polisi, Pak,” jawab si pemuda yang mengendarai motor itu.

Daripada Pak Polisi kian gusar, si pemuda pun diminta menunjukkan KTP. Giliran si polisi yang cekakakan. ”Hahaha...lha kok bisa namamu Polisi itu lho,” katanya kepada si pemuda yang sudah biasa menghadapi reaksi pertama orang begitu mendengar namanya.

Sebulan berselang setelah peristiwa pada jelang sore 6 November lalu itu, si Polisi akhirnya benar-benar bekerja di kantor polisi. Tidak sebagai polisi memang. Melainkan pegawai harian lepas (PHL) di Satlantas Polres Pasuruan, Jawa Timur.

Polisi resmi diangkat per 20 November 2017. Itu setelah Kapolres Pasuruan AKBP Raydian Kokrosono memberinya ”promosi”.

”Tugas saya di sini membantu bapak-bapak polisi di Satlantas Polres Pasuruan. Biasanya merapikan balok untuk ujian praktik, menyiapkan berkas, dan tugas-tugas lainnya,” kata Polisi tentang tugasnya saat ini kepada Jawa Pos Radar Bromo Selasa (5/12).

Meski awalnya sempat minder, Polisi sangat mensyukuri pekerjaannya itu. Apalagi, pekerjaan tersebut dia dapat berkat sesuatu yang awalnya kerap membuat dia malu: nama.

Semua bermula pada sore yang sama ketika dia terjaring Operasi Zebra dekat Mapolres Pasuruan itu. Selepas dari operasi tersebut, dalam perjalanan pulang ke rumahnya di Desa Kalipang, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, setelah seharian bekerja sebagai kuli bangunan di Bangil, Polisi kembali terjaring operasi.

Dia kembali diminta menunjukkan KTP. Dan, nama di KTP itu juga kembali memunculkan reaksi serupa dari si polisi.

Bedanya, kali ini polisi tersebut memfoto KTP Polisi. Dan, simsalabim, dengan perkenan media sosial, Polisi langsung jadi viral. Sering ditanya hingga masuk koran maupun televisi. ”Banyak wartawan datang ke rumah dan mewawancarai saya,” sambungnya.

Polres Pasuruan tak kalah tertarik. Bukan hanya Kasatlantas AKP Erika Purwana Putra beserta sejumlah jajaran yang datang. Tapi, juga Kapolres Pasuruan AKBP Raydian Kokrosono.

Erika mengaku sempat menyurvei rumah Polisi pasca penilangan tersebut. Dari situlah dia mengetahui bahwa kehidupan Polisi sangat kekurangan.

Sejak berusia 7 tahun, setelah sang ayah, Yasin, meninggal dunia, pemuda kelahiran 22 Desember 1995 itu memang harus membanting tulang membantu mencari nafkah untuk adiknya, Siti Khomariyah, dan ibunya, Illyyin. Sang ibu bekerja serabutan.

Karena dia kesulitan biaya, sekolahnya pun harus berhenti saat kelas III sekolah dasar. Apalagi, sang adik yang kini berusia 15 tahun itu juga mengalami gagal ginjal. ”Untuk makan sehari-hari saja kami kesulitan,” katanya.

Karena itulah, ketika Polres Pasuruan menawarinya bekerja di satlantas, Polisi dengan segera mengiyakan. ”Polisi ini merupakan tulang punggung keluarga. Makanya, kami bantu juga untuk memberinya kesempatan sebagai PHL di sini,” kata Erika saat mendampingi Kapolres ketika mengunjungi kediaman Polisi.

Padahal, dulu, karena nama pula itu, dia kerap diledek teman-teman sepermainan di kampung. ”Ketika saya datang, biasanya mereka langsung bilang, ’Awas ada polisi.’ Saya hanya pasrah diledekin,” ujarnya.

Nama Polisi itu datang dari proses yang berliku. Ketika lahir, orang tua menamainya Muhammad Muchlas. Sudah diiringi ritual selamatan, si Muchlas ini masih saja sakit-sakitan. Sakit panas, muntah, dan sakit-sakit lain.

Atas saran seorang dukun, namanya berganti menjadi Muhammad Musofak. Tapi, pergantian itu ternyata tak serta-merta membuat kondisi si kecil membaik. Musofak masih kerap sakit. Baru sembuh dari sakit satu, muncul sakit lainnya.

Akhirnya, dia kembali dibawa ke dukun. Dan, lagi-lagi disarankan untuk mengganti nama. ”Alasannya, nama Muhammad Musofak terlalu berat,” tambah Polisi.

Dipilihlah nama baru: Iksan. Namun, tetap saja panas, muntah, dan diare seperti tak henti menghajar si kecil. Sampai kemudian, Yasin dan Illyyin -orang tuannya- bertemu dengan tukang pijat langganan. Si tukang pijat tersebut menanyakan apakah pernah punya nazar untuk memberi nama untuknya. ”Dari situ, ibu saya teringat akan ucapan ayah saya akan memberi nama Polisi jika saya lahir,” kenang dia.

Jadi, ceritanya, saat Muchlas, ah Musofak, eh Iksan masih di dalam kandungan, ayahnya kedatangan tetangga sekitar rumah. Mereka ngobrol ngalor ngidul. Hingga candaan tentang polisi terlontar dari mulut Yasin.

Ketika itu, di tengah percakapan penuh tawa itu, Yasin berujar akan memberi nama anaknya polisi. ”Almarhum ayah saya guyonan sama teman-temannya. Kalau anaknya laki-laki, akan dinamakan polisi. Supaya teman-temannya (teman Yasin, Red) ditembaki,” tutur Polisi.

Mulanya, kata Polisi, berat bagi orang tuanya menamainya Polisi. Mereka mungkin sadar betapa tidak lazimnya nama itu untuk seorang anak. Tapi, demi nazar, dan dengan harapan si buyung tak lagi sakit-sakitan, dipilihlah nama itu.

Ternyata, siapa sangka, nama baru tersebut benar-benar mujarab. ”Kondisi kesehatan saya terjaga. Tidak mudah sakit-sakitan seperti sebelumnya,” urainya.

Dan, bertahun-tahun kemudian, nama itu pula yang mendatangkan rezeki lain: pekerjaan. Masih ditambahi bonus pula: terkenal bak selebriti.

Tak hanya kerap diwawancarai wartawan, bahkan sampai muncul di televisi, di tempatnya bekerja kini, Polisi juga laris diajak berswafoto para pengunjung Satlantas Polres Pasuruan. Termasuk oleh para polisi asli. ”Awalnya saya merasa minder di sini, tapi sekarang saya senang,” tuturnya.

Kisah Polisi memperlihatkan, harapan orang tua yang terkandung dalam nama, meski dilontarkan sembari guyonan, pada akhirnya terkabulkan. Polisi benar-benar bekerja di kantor polisi kini.

Jadi, kalau istri Anda tengah hamil, mulailah memikirkan profesi-profesi yang mungkin cocok untuk nama calon anak. Tak apa tak lazim. Yang penting bawa rezeki...

(*/one/c10/ttg)

Sponsored Content

loading...
 TOP