Jumat, 15 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Politik

Dari Sisi Tanggal Lahir, Duet Jokowi-AHY Diprediksi Tak Akan Langgeng

| editor : 

Jokowi dan AHY

Presiden Joko Widodo bersama AHY. (instagram AHY)

JawaPos.com - Nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), putra sulung Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ternyata dianggap kurang hoki jika disandingkan dengan Presiden Joko Widodo di Pilpres 2019. 

Sebagaimana diketahui, sejumlah lembaga survei menyebut AHY sebagai salah satu kandidat cawapres potensial untuk mendampingi Jokowi. 

Namun, menurut Ahli Restrukturisasi Nama, Ni Kadek Hellen Kristy peluang jika Jokowi berduet dengan AHY masih kurang cocok dan tidak membawa keharmonisan dan peruntungan.

Berdasarkan nama Joko Widodo yang lahir pada 21 Juni 1961 dan Agus Harimurti Yudhoyono yang lahir pada 10 Agustus 1978, dari perhitungan tanggal lahir saja, kata Heleni, pasangan ini tak menunjukkan hasil yang cukup baik dan dianggap tidak serasi dengan nilai kecocokan hanya 45 persen.

"Compatibility 45 persen artinya tidak baik atau not good," kata Heleni kepada JawaPos.com, Rabu (6/12). 

Jika tetap diduetkan, kombinasi ini dapat diharapkan saling melengkapi. Akan tetapi kombinasi ini tidak akan bertahan dalam waktu yang lama. 

"Jika berduet tidak akan bertahan lama. AHY yang cenderung lebih menyenangi ketenangan dan diam, di bawah kekuatan Joko Widodo yang kuat tidak akan dapat bertahan untuk waktu yang lama," tukas Heleni.

Heleni juga memaparkan, sosok AHY adalah sosok yang mampu menangani tugas. AHY juga dinilai memiliki pikiran yang tajam dan seorang pemikir analitis yang mampu berkonsentrasi dan memiliki pengertian mendalam secara teoretis. 

“AHY senang meneliti dan menyatukan kepingan-kepingan teka-teki intelektual. AHY adalah orang yang hidup dengan pemikiran dan caranya sendiri,” paparnya. 

Sementara khusus untuk sosok Joko Widodo, Heleni menjelaskan berdasarkan nama dan tanggal lahir, mantan Gubernur DKI Jakarta itu memang dikaruniai kemampuan luar biasa dalam bidang manajemen di setiap area kehidupan, khususnya di bidang bisnis dan keuangan. 

Kemungkinan nama Joko Widodo untuk terpilih lagi sebagai presiden, kata Heleni, sebetulnya terbuka lebar asal jangan lagi memakai nama Jokowi. Heleni menyarankan media menyebutnya dengan nama lengkap Joko Widodo saja.

"Bisa saja peluangnya bagus, namun dari sisi nama pakai Joko Widodo saja. Namanya sudah bagus. Saran saya jangan pakai Jokowi lagi. Agar tidak banyak menarik hal-hal negatif. Joko Widodo ini nyaris sempurna," jelas Heleni. 

(ika/ce1/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP