Sabtu, 16 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Semangat Hidup Nila, Korban Perdagangan Manusia yang Terkena HIV

| editor : 

HIV/AIDS

KORBAN: Nila, salah satu korban perdagangan manusia. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

Perempuan 28 tahun ini merasakan betul kekejaman perdagangan manusia. Ditipu orang yang mengaku kerabat dekat, dia dijual ke Makassar sebagai perempuan penghibur. Dia hanya menerima bayaran Rp 10 ribu. ’’Bonusnya’’ adalah virus HIV.

DWI WAHYUNINGSIH, Surabaya

NILA, sebut saja begitu, tampak malu-malu saat Liliek Sulistyawati alias Mbak Vera, pendiri Yayasan Abdi Asih, mengenalkannya pada Jawa Pos ketika peringatan Hari AIDS Sedunia, 1 Desember. ’’Aku grogi kalau ngomong sama orang yang nggak dikenal,’’ ucapnya.

Ya, Nila adalah salah seorang pengidap HIV yang rutin berkumpul di yayasan di kawasan Dukuh Kupang Timur tersebut. Dia terlihat tidak pernah nyaman mengungkapkan kisah hidupnya yang pilu.

Nestapa itu bermula pada 2008. Saat itu dia bekerja di salah satu pusat grosir di Surabaya. Seperti biasa, setelah bekerja, dia menunggu angkutan kota di tepi jalan. Ketika itu seorang pria muncul dan mendekat. Dengan meyakinkan, lelaki itu mengaku sebagai kerabat ayah Nila. Bahkan, dia tahu asal usul Nila. ’’Kalau tak ingat-ingat, rasanya waktu itu saya kayak kena gendam,’’ ujarnya mengenang.

Nila pun manut saat orang asing tersebut membawanya ke bandara. Sejatinya Nila ingin menolak. Namun, tubuhnya tidak kuasa memberontak. Nila sebenarnya sempat meminta tolong kepada orang-orang di bandara untuk membantunya. Tetapi, tampaknya kondisinya yang linglung membuatnya berbicara tidak jelas. Orang tidak paham maksud Nila.

Perempuan kelahiran 1989 itu pun akhirnya terbang ke Makassar. Di ibu kota Sulawesi Selatan tersebut, satu per satu mimpi buruk Nila datang. Pria yang mengaku sebagai kerabat ayahnya ternyata menjadikan Nila sebagai penjaja seks. Kegadisannya hilang di tangan orang yang tidak dikenal. Setiap ’’servis’’, Nila mendapat Rp 10 ribu.

Sungguh, sebuah kehidupan yang kejam bagi remaja yang kala itu baru berumur 18 tahun. ’’Sebenarnya saya juga nggak mau, Mbak. Tapi, bagaimana lagi? Saya nggak bisa keluar dari sana,’’ kata Nila sendu.

Hati nuraninya sama sekali tidak ingin melakukan itu semua. Namun, dia bersama puluhan korban perdagangan manusia lainnya terkurung di dalam mes dan tidak bisa pergi ke mana pun. Selalu ada penjaga yang berdiri di depan pintu.

Tidak bisa ditampik, Nila rindu rumah. Tetapi, dia sama sekali tidak ingat asal usulnya. Bahkan, dia melupakan wajah orang tuanya. ’’Saya sama sekali nggak tahu wajah orang tua saya. Ingat hari saja nggak,’’ jelasnya.

Tidak banyak yang bisa dia lakukan di dalam mes tersebut. Selain melayani lelaki hidung belang, yang dilakukan Nila adalah mengobati rekan-rekannya. Sebab, banyak koleganya yang sakit di bagian alat kelamin. Ada yang bernanah, ada pula yang muncul kutil. Saat itu dia tidak paham apa yang dialami teman-temannya. Yang dia tahu hanyalah, ketika mereka kesakitan, dirinya berupaya membantu dengan membersihkan dan mengobati mereka. ’’Ada juga yang sampai meninggal, Mbak. Tapi, waktu itu saya nggak ngerti mereka sakit apa,’’ ujar Nila.

Melihat kondisi teman-temannya yang begitu memprihatinkan, dia berusaha meminta bantuan kepada siapa pun yang dikenalnya di luar mes. Dengan penuh harap, ibu satu anak itu memohon agar tempatnya bernaung digerebek. Keinginannya terkabul. Dia dan teman-temannya dibebaskan dari tempat terkutuk tersebut. Dia tidak ingat kapan hal itu terjadi. Yang dia tahu, dirinya merasa aman saat melihat patung ikonik Sura dan Baya.

’’Saya dibawa ke RS Bhayangkara dan diketemukan sama orang tua. Tetapi, saya sama sekali nggak ingat,’’ terangnya. Meski begitu, Nila percaya bahwa orang yang dibawa para polisi tersebut memang orang tua kandungnya.

Di antara kelegaannya berhasil bebas dan bertemu dengan keluarga, ada satu berita buruk yang turut terbawa dari Makassar. Ada virus HIV yang bersarang di tubuhnya. Sebuah kabar yang membuat hancur hati orang tuanya. Bagaimanapun, Nila tidak bersalah. Dia hanyalah korban dari kebiadaban manusia-manusia yang ingin mencari untung.

Sekuat tenaga, orang tua Nila berusaha melakukan pengobatan terhadap perempuan lulusan SMP tersebut. Mereka mendatangi rumah sakit hingga orang pintar. Bukan hanya untuk mengobati HIV di tubuhnya, tetapi juga untuk mengembalikan kondisi Nila yang linglung dan tidak ingat siapa pun.

Kasih sayang dan perhatian yang diberikan akhirnya membuahkan hasil. Perempuan asli Madura itu mulai bisa mengenali keluarganya. ’’Nek ditanya kapan, aku nggak ingat. Pokoke, pada 2011 aku nikah,’’ ucap Nila.

Dia bertemu dengan seorang pria yang mencintainya dan membangun keluarga bahagia. Namun, ada satu hal yang masih dia sembunyikan. Sang suami tidak tahu bahwa Nila merupakan pengidap HIV. Nila memang tidak berani mengungkapkan kenyataan tersebut. Dia takut jika suami yang dicintainya itu akan marah dan meninggalkannya.

Tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, kebohongan yang disimpan justru membuat kehidupannya tidak tenang. Ada rasa gelisah dan bersalah setiap Nila menatap suaminya. Apalagi, di perutnya tengah tumbuh buah cinta yang telah berusia 6 bulan. Setelah berpikir berkali-kali, akhirnya Nila jujur menceritakan kondisinya. ’’Awalnya, suami marah. Dia ngamuk dan menyesalkan tindakan saya yang berbohong,’’ katanya sendu.

Namun, kemarahan itu tidak berlangsung lama. Amarah suami Nila cepat reda. Dia justru langsung mengajak Nila periksa ke rumah sakit. Hasilnya, sang suami yang lebih tua 4 tahun tersebut dinyatakan negatif. Perasaan lega mengalir di dalam hati Nila. Tetapi, kelegaan Nila hanya sampai di sana. Setelah Nila mengandung selama 9 bulan, anak pertama yang dinantikannya akhirnya dilahirkan dengan selamat. Sayangnya, kondisi si jabang bayi tidak begitu sehat. Daya tahan tubuh anak itu rendah mungkin lantaran Nila ogah mengonsumsi antiretroviral (ARV) selama hamil.

Perempuan malang itu ingin membawa si buah hati ke rumah sakit untuk berobat. Namun, keuangan keluarganya tidak memungkinkan. Jangankan berobat. Untuk makan sehari-hari pun tidak cukup. Nila berusaha mencari pinjaman ke sana kemari. Tetapi, tidak ada yang mau memberikan pinjaman meski semua orang menyatakan bahwa anaknya harus dibawa ke rumah sakit. ’’Karena nggak ada tetangga yang mau minjami, akhirnya saya ke Bu Vera minta bantuan. Dikasih Rp 500 ribu. Sayang, itu nggak lagi berguna,’’ ujarnya dengan berlinang air mata.

Tuhan ternyata punya rencana lain. Tepat saat uang tersebut sudah berada di tangan, sang suami menelepon Vera. Dia menuturkan bahwa anak mereka sudah meninggal dan meminta tolong agar Nila cepat pulang. Mendengar kabar itu, dunia Nila hancur. Anak yang begitu dia cintai pergi tanpa sempat mendapatkan pengobatan. Ada rasa marah di dalam dirinya kepada orang-orang yang dengan sombong tidak mau meminjaminya uang. Dia bukan meminjam Rp 10 juta atau Rp 20 juta. Hanya ingin meminjam setidaknya Rp 100 ribu untuk ongkos ke RSUD dr Soetomo dan pendaftaran. Namun, tidak ada yang mau meminjaminya.

Selama bertahun-tahun, dunia Nila lebih gelap. Dia tidak mau lagi meminum ARV. Bagi dia, tidak ada gunanya meminum ARV. Toh, buah hati yang diharapkannya sudah tidak ada. Keluarga dan suamilah yang membuatnya tidak nekat mengambil tindakan bodoh. Suaminya begitu perhatian dan terus memberinya semangat. Hingga akhirnya, Nila kembali hamil pada 2015. ’’Pas hamil kedua, aku wis bertekad. Jangan sampai kejadian dulu terulang,’’ tegas Nila sembari mengusap air matanya yang mulai mengering.

Dia minum ARV dengan rajin. Semua efek samping yang didapat tidak dipedulikan. Anak keduanya harus bisa lahir dan hidup. Itulah yang saat itu ada di benaknya. Bukan hanya ARV, dia dan sang suami juga bekerja lebih keras. Semua dilakukan demi bisa memberikan perawatan yang lebih layak bagi sang calon buah hati. Hingga usia kandungan 9 bulan, Nila tetap membantu suaminya berjualan mainan keliling. Dia harus memiliki cukup uang agar kejadian buruk tiga tahun sebelumnya tidak terulang lagi.

Doa dan usahanya pun membuahkan hasil. Anak keduanya lahir dengan selamat. Si anak juga dinyatakan negatif HIV. Tentu saja, itulah kabar yang sangat menggembirakan. Namun, karena ketakutan dengan kepergian buah hati pertamanya masih menggelayut dalam batin, sang anak dititipkan kepada kakek dan neneknya di desa. Nila dan suaminya memilih merantau ke kota besar untuk mencari nafkah.

’’Setelah melahirkan anak kedua, saya disterilkan Mbak,’’ kenangnya muram. Tetapi, dia mencoba menerimanya. Setidaknya dia sudah memiliki buah hati yang bisa mengobati lelahnya saat bekerja.

Kehidupan Nila kini berjalan normal. Dia bahagia dengan sang suami yang tetap bisa menerimanya. Mereka berdua bekerja keras untuk menghidupi anaknya yang kini berusia 2 tahun. Meski tidak sampai melimpah, setidaknya hasil kerja keras mereka cukup untuk membelikan susu saat pulang menjenguk ke desa.

’’Saya cuma mau pesan ke teman-teman yang juga mengidap HIV seperti saya, jangan putus asa dan merugikan orang lain. Percaya bahwa masih ada orang yang bisa menerima dan peduli dengan kita,’’ tuturnya.

(*/c14/dos)

Sponsored Content

loading...
 TOP