Minggu, 17 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Rohaniah, TKW yang ”Hidup Lagi” setelah 6 Tahun Dinyatakan Meninggal

| editor : 

TKW Hidup Lagi

MENGHARUKAN: Rohaniah dipeluk sang ibu, Halimah, dan disambut sang anak, Sahlan di Mataram (30/11). (Sirtu/Lombok Post)

Keluarga meyakini kabar Rohaniah telah meninggal di Arab Saudi karena sebelumnya dikabarkan masuk rumah sakit. Sang ibundalah yang sedari awal berkeyakinan dia masih hidup.


SIRTUPILLAILI, Mataram

BEGITU perempuan di atas kursi roda itu muncul, dengan segera tangis Zainal tumpah. Dia menghambur memeluknya. Bersujud di kedua kakinya. Begitu pula Halimah, nenek Zainal. Perempuan sepuh itu tak kuasa menahan linangan air mata. Dipeluknya erat perempuan di atas kursi roda tersebut.

”Ini seperti keajaiban bisa melihat ibu lagi,” kata Zainal kepada Lombok Pos (Jawa Pos Group) di sela-sela pertemuan mengharukan di Rumah Perlindungan/Trauma Center (RPTC), Mataram, Nusa Tenggara Barat, itu.

Pada 2011 Rohaniah, ibunda Zainal dan putri Halimah, memang dikabarkan meninggal saat bekerja di Arab Saudi. Karena kadung terpukul, keluarganya di Mataram tak berusaha mengecek ulang kabar tersebut.

Anak-anak Rohaniah percaya lantaran sebelumnya sang ibu memang dikabarkan mengalami sakit dan sedang dirawat di rumah sakit setempat. Keluarga pun langsung menggelar tahlilan selama sembilan hari. Seperti lazimnya tradisi masyarakat Islam di Pulau Lombok manakala ada keluarga yang meninggal. Juga menggelar salat Gaib. ”Saat itu keluarga sudah ikhlas. Sehingga tidak dicari lagi,” tutur Sahlan, anak sulung Rohaniah.

Rohaniah memutuskan menjadi TKW (tenaga kerja wanita) di Arab Saudi tanpa seizin lima anak-anak dan ibundanya. Kelima anaknya sebenarnya melarang karena Rohaniah diketahui mengidap penyakit kuning.

Tapi, impitan ekonomi menyusul meninggalnya sang suami, Sahidun, memaksanya pergi. Rohaniah menyerahkan semua urusan administrasi kepada seorang tekong di Lombok Tengah. Bahkan, ketika nama dan alamatnya diubah, dia tidak tahu. Dari Rohaniah berganti menjadi Aisyah Muhammad asal Praya, Lombok Tengah.

Berangkat pada 2007 ke Arab Saudi, mulai 2008 Rohaniah rajin mengirim uang hasil keringatnya kepada anak-anak dan ibunya di Mataram. Hingga pada 2011 ada kabar bahwa dia sakit dan meninggal dari salah seorang TKW, teman bekerja Rohaniah di Arab Saudi.

Selama enam tahun lamanya, pihak keluarga tidak pernah mengungkit-ungkit penyebab kematian Rohaniah. Keluarga hanya bisa mengirim doa. Namun, tidak demikian halnya dengan Halimah. Sebagai ibu, dia selalu merasa bahwa suatu saat anaknya akan datang dan mengucapkan salam di depan pintu rumah.

Sejak Rohaniah dikabarkan meninggal, Halimah pun selalu teringat wajah anaknya itu. Seakan ada semacam koneksi batin antara ibu dan anak. ”Nomor HP yang biasa dipakai nelepon juga masih saya simpan di kertas,” katanya.

Sampai kemudian, pada suatu malam, saat Zainal hendak beranjak tidur, pintu rumahnya diketuk. Setengah tergesa-gesa, seorang kawan menunjukkan layar ponselnya kepada Zainal. Dalam sebuah akun media sosial, terpampang foto yang mirip sosok Rohaniah, ibunya. Tapi, namanya bukan Rohaniah. Melainkan Aisyah Muhammad.

Mata Zainal terbelalak. Lama dia memperhatikan foto perempuan tersebut. Melihat ciri-cirinya, Zainal pun akhirnya yakin itu adalah ibunya.

Dengan segera kabar tersebut dia beri tahukan kepada Sahlan dan Halimah. Malam itu juga, di tengah guyuran hujan deras, dia dan Sahlan bergegas mencari alamat yang tertera, Desa Jago, Kecamatan Praya, Lombok Tengah.

Dan, insting Halimah terbukti benar. Perempuan itu memang anaknya, Rohaniah. Meski, kondisinya sangat lemah karena stroke. Bagian tubuh sebelah kanan tak bisa digerakkan sehingga sulit mengenali anak dan ibunya. ”Awalnya dia tidak kenal kami. Tapi, tiba-tiba dia teriak setelah mengenali anak-anaknya,” tutur Zainal.

Ketika Lombok Post mengunjunginya Sabtu (2/12), kondisi Rohaniah sudah agak membaik. Mulai bisa mengingat anak-anak dan ibundanya. Kendati kelelahan masih tampak tergurat di wajahnya. Bola matanya juga menyimpan trauma mendalam.

Saat diajak bicara, Rohaniah bisa merespons. Hanya, tidak bisa berkata-kata. Dia cuma menjawab dengan bahasa isyarat. ”Hamudidamama (alhamdulillah bisa bertemu semuanya, Red),” ujarnya.

(*/JPG/c10/ttg)

Sponsored Content

loading...
 TOP