Sabtu, 16 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Tur 6 Hari di Perth, Australia Barat (4-Habis

Jalan Bungkuk, Naik Sampan, Jangan Pakai Dayung

| editor : 

Fremantle Prison sekarang ramai dikunjungi para wisatawan. Termasuk tur melintasi terowongan air di bawah bangunannya.

Fremantle Prison sekarang ramai dikunjungi para wisatawan. Termasuk tur melintasi terowongan air di bawah bangunannya. (Jawa Pos Photo)

Fremantle Prison menjadi salah satu bangunan bukti sejarah Australia pada pertengahan abad XVII dan XVIII. Kini, bangunan itu menjadi salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi.

GUGUN GUMILAR, Perth

SEJAK ditutup pada 1991, Fremantle Prison masuk daftar UNESCO Heritage Sites dan menjadi satu-satunya bangunan bersejarah di Australia Barat. Setahun kemudian, penjara tersebut dibuka untuk wisatawan. Para narapidana sebelumnya dipindahkan ke penjara Casuarina, 30 kilometer di selatan Perth, dengan penjagaan yang superketat.

Fremantle Prison sekarang ramai dikunjungi para wisatawan. Termasuk tur melintasi terowongan air di bawah bangunannya. Ada beberapa paket tur yang ditawarkan. Yakni, prison day tour, prison day package, tunnels tour, dan torchlight tour. Rombongan media Tourism Western Australia (TWA) memilih pun tunnels tour karena lebih menarik daripada paket lain.

Fremantle Prison adalah penjara yang dibangun para narapidana pada 1852 hingga 1859. Menurut sejarah, pada 1850, rombongan narapidana pertama yang beranggota 75 orang datang dari Inggris, lalu bertambah hingga ratusan. Sebelum Fremantle Prison dibangun, narapidana itu ditempatkan di bangunan The Round House, Fremantle, Australia Barat. Namun, bangunan tersebut tidak mampu lagi menampung narapidana.

Kerajaan Inggris pun membangun penjara baru yang dikerjakan para narapidana dan penduduk lokal, yakni Fremantle Prison. Penjara itu memiliki luas 6 hektare dan bisa menampung seribu narapidana. Yang paling mencolok adalah blok sel utama yang merupakan bangunan terbesar dan terpanjang di Australia. Panjangnya sekitar 145 meter dan setinggi empat lantai.

Penjara tersebut juga berisi sebuah kapel, rumah batu kapur dua lantai, bengkel, cottage, wartel, rumah sakit, waduk bawah tanah, jaringan terowongan sepanjang 1 kilometer, dinding perimeter batu kapur, blok refraktori, dan tiang gantungan. Meski Fremantle Prison dibangun secara bertahap hingga 1859, para narapidana mulai menempati blok sel utama pada 1855 atau tiga tahun setelah pembangunan dimulai.

Selama berfungsi sebagai penjara, bangunan itu setidaknya telah ditempati puluhan ribu tahanan. "Para narapidana juga yang membangun Kota Fremantle. Jadi, setelah membangun penjara, mereka membangun kota. Setelah itu, mereka balik lagi ke dalam sel," kata Fransiska Pangat, country manager Tourism Western Australia.

Setelah menunggu selama 15 menit, Tristan, pemandu dari Fremantle Prison, datang dan menghampiri kami. Tak ada kesan garang di wajahnya. Justru, kalau melihat dia, kami akan tertawa. Ya, maaf, kalau dibayangkan, dia mirip karakter Homer dalam serial kartun komedi Amerika The Simpsons. "Penjara ini kebanyakan diisi tahanan yang dikirim dari Inggris," kata Tristan yang ternyata juga humoris saat mengawali tur kami.

Sambil membawa rombongan ke terowongan bawah tanah, dia menceritakan bermacam kisah unik tentang perlakuan terhadap tahanan kala itu. Ada yang dihukum lari bolak-balik di antara dua tembok yang berjarak hanya sekitar 6 meter. Namun, ada juga yang diberi cat dan diizinkan menggambar di tembok kamar mereka.

Kami pun sampai di pintu masuk terowongan bawah tanah. Posisinya berada di belakang blok sel utama. Saat masuk, kami dites untuk memastikan minum alkohol atau tidak. Cara tesnya, sedotan dimasukkan ke alat tes. Semuanya negatif. Lalu, kami diajak ke ruang ganti pakaian. Ya, sebelum turun, semua barang-barang bawaan harus disimpan di loker. Termasuk peralatan elektronik. Ada teman dari rombongan kami yang membawa kamera untuk kepentingan dokumentasi.

Setelah semua barang di simpan, kami memakai pakaian antiair, kaus kaki, dan sepatu bot. Lalu, kami diajak menonton dokumenter tentang Fremantle Prison. Setelah menonton, kami diajak ke ruangan tunnels. ‎Eits, sebelum turun, kami harus memakai alat keselamatan. Dari segi keselamatan, pihak pengelola tidak main-main. Keselamatan 100 persen terjamin.

Kami satu per satu memakai alat keselamatan dengan dibantu Tristan. Mulai helm yang berlampu, harness atau alat untuk menopang tubuh, ‎hingga carabineer atau cincin kait yang berguna sebagai pengait antaralat. Sebelum turun, Tristan mendemokan cara turun yang benar.

Perjalanan kami ke terowongan bawah tanah ‎pun dimulai. Tristan lebih dulu turun. Dalam hitungan beberapa menit saja, pemandu berambut kribo tersebut sudah berada di kedalaman 23 meter. Ya, itulah kedalaman terowongan tersebut. Sementara itu, pemandu lainnya, rekan Tristan, memandu kami untuk turun.

Kloter pertama terdiri atas dua orang. Ada dua tangga yang saling berhadapan. Jadi, saat menuruni tangga, kami berhadapan satu sama lain. Cara turunnya, carbineer dikaitkan ke harness, lalu dikaitkan ke alat pengait di tangga besi. Jika pengaitnya sudah terkunci, usahakan carbineer berada di atas kepala. Jika sejajar dengan kepala atau dada, carbineer tersebut akan mengunci sehingga kami pun tidak bisa turun.

Kloter pertama sudah sampai di tangga pertama. Masih ada dua tangga lagi untuk sampai ke terowongan. Kloter kedua pun jalan. Saya bagian kloter ketiga. Saat turun, carbineer saya sempat terkunci karena sejajar dengan dada. Setelah naik sedikit, kuncinya baru terbuka. Kami pun akhirnya sampai di kedalaman 23 meter. Perjalanan masih berlanjut. Lalu, kami masuk terowongan dengan tinggi 120 cm dan lebar 1 meter.

Alhasil, kami harus berjalan membungkuk sejauh 50–70 meter. Sambil berjalan membungkuk dan sesekali istirahat, Tristan menjelaskan bahwa terowongan itu dibuat untuk menampung air yang diminum para narapidana. Para tahanan menggali terowongan tersebut setelah pembangunan penjara selesai. Yang mereka gali bukan tanah, melainkan batu kapur atau batu karang yang mungkin sudah berumur ribuan tahun. Mereka menggali sehari dua kali dengan waktu tiga jam.

Tristan juga menjelaskan, ketika Gunung Krakatau meletus pada 1882, para pekerja di terowongan pun mendengar letusan tersebut‎ hingga menutup kuping. Tristan tiba-tiba menghentikan langkahnya. Kami pun mengikutinya. Dia meminta kami untuk tidak bersuara. Suasana hening. Lalu, ada suara mendengung. "Coba, apa yang kalian dengar?" katanya. Ada yang menjawab suara laut, orang bekerja, dan jawaban lain. ’’Itu suara mobil,’’ terang Tristan.

Ya, suara itu berada di atas kepala kami‎. Kami pun melanjutkan perjalanan sambil membungkuk. Ketika melihat ke dinding atas, ada akar-akar kecil yang bergelantungan. Kami pun balik kanan dan kembali ke titik saat kami menuruni tangga. Kali ini, kami akan menyusuri saluran air bawah tanah selebar 3–4 meter dengan sampan kayu kecil. Tristan dan rekannya menyiapkan sampan kecil yang hanya cukup untuk dua orang‎ tersebut. Ada empat perahu. Tiga perahu dipakai rombongan kami. Satu sampan lagi digunakan Tristan untuk memandu kami dalam menyusuri saluran air.

Awalnya, ‎kami hanya beberapa kali mengayuh sampan. Namun, karena saluran itu agak sempit, saya terpaksa mendorong sampan kecil tersebut dengan menopang ke dinding-dinding terowongan. Namun, karena sampan itu sering menabrak dinding bebatuan, saya tidak memakai‎ dayung lagi.
Udara dan air di terowongan cukup dingin. Airnya jernih, tapi agak bau‎ besi. Tristan menjelaskan, air di terowongan tersebut ada sejak Fremantle Prison dan terowongan selesai dibangun. Bisa dibilang, air itu sudah ratusan tahun ada di terowongan.

Tristan kembali menghentikan sampan. ‎Dia meminta rombongan kami mematikan lampu di helm. Dan, gelap sekejap. Kami agak sesak napas. Beberapa detik kemudian, Tristan menyalakan senter yang dibawanya. Batu kapur atau batu karang purba yang berumur ratusan tahun masih tetap kukuh. Tak terasa, kami sudah 2,5 jam menyusuri terowongan Freamntle Prison. Kami pun terus mengayuh sampan dengan tangan menyusuri saluran bawah tanah. Kami pun tiba di tempat awal saat naik sampan.

Kami kembali mendaki tangga dan berpisah dengan Tristan si humoris. Meski dibangun para narapidana, Fremantle Prison dan Kota Fremantle telah menjelma menjadi sebuah kota eksotis yang mengharmoniskan sejarah lampau dengan modernitas Australia Barat. Orang lokal menyebutnya Freo. Ada 150 bangunan bersejarah di kawasan kota tua di Fremantle yang akan membuat siapa saja berdecak kagum. Kisah migrasi ratusan tahun silam pun seolah kembali ke benak Anda.‎

(yuz/ilo/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP