Sabtu, 16 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Dirayu ke Pengungsian, Sumarni Malah Minta Pijat Kaki

| editor : 

Banjir Sidoarjo

BAHU-MEMBAHU: Aditya Agus (kanan) dan Abdul Mufid, anggota Karang Taruna Porong melintasi wilayah banjir di kawasan Pesawaha, Porong, Sidoarjo. (Boy Slamet/Jawa Pos)

Karang taruna dilibatkan sebagai relawan banjir di Sidoarjo. Mereka turun tangan dalam banyak kegiatan. Mulai memasak hingga mendistribusikan makanan. Saat bertugas, relawan kerap menjadi tumpahan curhat para korban banjir.

ARISKI PRASETYO HADI, Sidoarjo

KEPULAN asap memenuhi ruang tengah Balai Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Rabu (29/11). Di tempat tersebut, tampak empat kompor yang menyala. Di dekatnya, sepuluh ibu duduk bersila. Mereka sedang sibuk menyiapkan masakan. Kesibukannya beda-beda. Ada yang memotong mentimun, menggoreng tahu, memasak bumbu, menanak nasi, hingga mengulek sambal. Bau sedap tentu menguar ke seisi ruangan.

Siang itu masakan yang matang lantas dituang ke dalam tiga panci besar. Sejurus kemudian, dua pemuda sigap mengangkatnya ke pendapa balai desa. Bukan untuk disantap. Di sana mereka sibuk membungkusnya dengan kertas minyak. Nasi bungkus itu selanjutnya dibagikan kepada korban banjir di Desa Candi Pari dan sekitarnya.

Sejak banjir merendam Candi Pari tiga hari lalu, pihak desa berinisiatif membuka posko terpadu. Warga dan relawan dilibatkan. Tujuannya, membantu para korban banjir. Bukan hanya warga sendiri yang harus dibantu, tetapi juga warga desa yang berdekatan.

Para relawan itu bertugas mencukupi kebutuhan makanan bagi para korban. Anggarannya tidak banyak. Meski begitu, mereka tetap berusaha menyiapkan makanan sehat bagi para korban banjir.

Salah seorang relawan yang terlihat paling repot di posko tersebut adalah Abdul Mujib. Tangan pria 37 tahun itu cukup cekatan membungkus nasi. Sekejap saja, dalam satu bakul sudah banyak nasi bungkus yang siap didistribusikan.

Mujib pula yang harus bertugas membagi-bagikan makanan. Siang itu dia membawa satu kresek besar. Isinya adalah 50 nasi bungkus. Dia mendatangi kawasan yang terendam banjir dengan berjalan kaki. Jarak antara Desa Candi Pari ke Desa Pesawahan terbilang dekat. Hanya 2 kilometer. Dengan mengendarai sepeda motor, waktu tempuhnya mencapai 10 menit. Namun, perjalanan mengantar makanan kemarin terasa sangat berat. Dia harus menerobos genangan air. Mujib butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di lokasi pengungsian warga.

Mujib mendatangi Madrasah Diniyah Zainal Abidin, salah satu posko pengungsian. Di tempat tersebut, terdapat enam korban banjir. Mereka adalah ibu-ibu dan anak-anak. Saat tiba, warga tampak berkumpul melihat televisi. ’’Assalamualaikum,’’ ucap Mujib.

Ucapan salam Mujib itu disambut seluruh pengungsi. Setelah itu, pria kelahiran Makassar tersebut berbincang dengan salah seorang warga, Siti Rochmah. Perempuan 52 tahun itu menyampaikan bahwa pengungsi di Madrasah Diniyah Zainal Abidin berjumlah 15 orang. Namun, ketika siang, hanya enam orang yang bertahan. ’’Sembilan orang lainnya kembali ke rumah untuk melihat kondisi rumah mereka yang terendam air,’’ jelasnya.

Siti Rochmah menyebut, sejak banjir, warga tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya duduk-duduk sambil menunggu air surut. ’’Kami sebenarnya butuh makanan,’’ jelasnya. Di lokasi tersebut, Mujib membagikan 15 nasi bungkus. Setiap orang mendapatkan jatah satu makanan. Setelah itu, dia bergegas menuju ke lokasi lain.

Lokasi kedua tetap di desa yang sama. Nasi bungkus dibagikan ke sejumlah rumah warga. Selain membagikan makanan, Mujib mendata jumlah warga yang tetap berdiam di rumahnya. ’’Data digunakan untuk mendistribusikan bantuan,’’ paparnya.

Terhitung sudah dua hari aktivitas sosial itu dikerjakan Mujib. Sejak pagi hingga sore hari. Meski tidak menerima upah, ketua Karang Taruna Kecamatan Porong itu terlihat menikmati kegiatan tersebut. Anak pasangan Abdul Ghani dan Siti Chamidah itu menuturkan, setiap ada bencana, karang taruna selalu turun tangan. Tugasnya vital. Mulai pendataan, memasak, membagikan makanan, hingga evakuasi. ’’Kami membantu tugas Tagana (Taruna Siaga Bencana) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sidoarjo,’’ tuturnya.

Menurut dia, setiap tugas memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Misalnya saja, pendataan korban. Dia mengungkapkan bahwa pendataan dilakukan sejak pagi hingga malam. Karena jalur yang dilewati terendam air, petugas harus menerobos genangan. ’’Kami berputar-putar menyusuri kampung yang terendam dengan berjalan kaki,’’ ujarnya.

Pendataan makin berat jika harus dilakukan pada malam hari. Biasanya, dia dan relawan lainnya melakukan pendataan selepas isya. Karena penerangan yang kurang, dia harus membawa senter. ’’Kemarin jatuh di got,’’ ucapnya, lalu tertawa.

Meski tugas yang dijalani cukup berat, kadang dia menemui cerita lucu. Contohnya, saat melakukan pendataan di Desa Candi Pari. Dia menemukan nenek-nenek yang enggan pindah dari rumahnya. Namanya Sumarni. Padahal, ketinggian air di rumahnya lebih dari 30 cm. Perabotan seperti kasur dan lemari sudah basah dengan air. Namun, Sumarni tetap ingin tinggal di rumahnya.

Dia dan petugas Tagana berupaya terus membujuk. Segala cara dikerahkan, tetapi tidak berhasil. Berbagai rayuan untuk mengajaknya berpindah ke pengungsian dilakukan. Tidak berhasil. ’’Ternyata dia malah meminta saya memijat kakinya,’’ katanya. Apa boleh buat. Agar korban banjir sedikit rileks, Mujib pun melakukannya.

Selain mendata, tidak jarang Mujib menjadi orang yang menerima tumpahan curhat. Mereka mengeluhkan lambannya penanganan dari pemerintah serta kurangnya pasokan makanan dan air bersih. Sebagai relawan, tentu dia harus mendengarkan dan mencatatnya. Masalah yang bisa diselesaikan pihak desa segera disampaikan. ’’Kalau lambannya penanganan pemerintah, tentu saya tidak bisa beri solusi,’’ jelasnya.

Setiap hari ada sekitar 10 anggota karang taruna yang turun membantu kegiatan di posko terpadu. Mereka tampak bersemangat. Untuk menjaga semangat tersebut, Mujib memberlakukan sistem sif. Setiap hari minimal harus ada dua anggota karang taruna yang berjaga di posko. Namun, dia juga tidak bisa memaksa. ’’Karena ini kegiatan sosial, saya hanya mengimbau,’’ paparnya.

Rencananya, Karang Taruna Kecamatan Porong juga membuka pelayanan bagi anak-anak. Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Makassar (STIEM) Bongaya, Makassar, itu menyatakan bahwa banjir membuat anak-anak tidak bisa bermain. ’’Kami bakal berkoordinasi dengan desa untuk membuka kelas bagi anak-anak,’’ tuturnya.

Selain itu, dia ingin membuka layanan bagi ibu-ibu. Misalnya, memberikan pelatihan menjahit atau membuat kreasi makanan. ’’Agar tidak bosan,’’ tandasnya.

Banyak rencana yang digagas. Namun, Mujib tetap menginginkan banjir di Candi Pari dan sekitarnya tidak terulang.

(*/c14/git)

Sponsored Content

loading...
 TOP