Sabtu, 16 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Sudut Pandang

Teladan Interaksi Nabi ke Penyandang Disabilitas

Oleh: Muh. Kholid A.S.*

| editor : 

Maulid Nabi

Muh.Kholid (Jawa Pos Photo)

DALAM waktu berdekatan, ada dua peringatan penting pada pekan pertama Desember 2017 ini. Pertama, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabi’ul Awal yang jatuh pada 1 Desember. Berselang dua hari, 3 Desember, adalah Hari Disabilitas Internasional.

Bagi umat Islam, kedekatan dua peringatan itu seharusnya tidak dilewatkan begitu saja tanpa pemaknaan mendalam. Apalagi, dua hari itu sesungguhnya punya kedekatan yang erat. Terutama bagaimana perilaku Nabi dalam berinteraksi dengan penyandang disabilitas tanpa diskriminasi.

Interaksi Nabi dengan penyandang disabilitas itu tercatat dalam Surah ’Abasa. Nama surah yang secara leksikal adalah ’’bermuka masam’’ itu merupakan salah satu di antara sekian teguran langsung Tuhan kepada Nabi yang terabadikan dalam Alquran. Dan, ternyata firman tersebut diwahyukan saat Nabi berinteraksi dengan penyandang tunanetra, yaitu sahabat Abdullah Ibnu Ummi Maktum.

Menurut riwayat yang mu’tabarah, Nabi saat itu sibuk berdiskusi dengan pembesar kaum Quraisy dengan harapan agar mereka masuk Islam. Tiba-tiba Ibnu Ummi Maktum masuk ke ruangan dan bergabung dengan mereka. Sahabat tersebut terus mengitari Nabi, kadang di sebelah kanan dan kadang di sebelah kiri, serta mengulang-ulang pertanyaan kepada Nabi tentang ajaran Islam.

Melihat perilaku Ibnu Ummi Maktum yang berputar-putar dan berusaha memotong pembicaraan dengan pembesar Quraisy, Nabi agak sewot. Dengan bermuka masam, Nabi memberikan jawaban kepada Ibnu Ummi Maktum bahwa apa yang dilakukan terhadap pembesar Quraisy itu merupakan masalah yang sangat penting.

Kemudian, Nabi berpaling dari sahabat tunanetra itu untuk kembali melanjutkan diskusinya dengan Quraisy. Saat itulah turun wahyu yang kemudian termaktub dalam Surah ’Abasa itu, terutama ayat 1-2. ’’Dia bermuka masam dan berpaling. Lantaran datang kepadanya orang tunanetra.’’

Dalam ilmu bahasa, teguran ’’bermuka masam’’ dan ’’berpaling muka’’ saat berinteraksi dengan penyandang tunanetra ini tentu saja sindiran yang amat tegas. Maklum, penyandang tunanetra tidak akan melihat ekspresi wajah lawan bicaranya. Tidak heran, setelah ayat tersebut turun, Nabi segera menghadapkan wajahnya dengan berseri-seri ke Ibnu Ummi Maktum dan menjawab apa saja yang ditanyakan.

Pelajaran penting dari peristiwa itu adalah persamaan hak antara penyandang disabilitas maupun nondifabel. Persamaan hak itu makin menemukan konteksnya jika disandingkan dengan berbagai ayat lain yang menempatkan penyandang disabilitas dengan nondifabel. Di antaranya, QS An-Nur (24) ayat 61: ’’Tidak ada halangan bagi tunanetra, tunadaksa, orang sakit, dan kalian semua.…” Begitu juga banyak riwayat hadis Nabi yang menyatakan keutamaan seorang manusia tidak terletak pada kondisi fisik, tetapi lebih kepada kejernihan nurani dan ketakwaan.

Selain soal perlakuan tanpa diskriminasi, pelajaran penting dari interaksi Nabi dengan Ibnu Ummi Maktum itu adalah penyediaan aksesibilitas untuk penyandang disabilitas. Yaitu, berbagai kemudahan yang disediakan untuk penyandang disabilitas guna mewujudkan kesamaan kesempatan dengan mereka yang nondifabel.

Aksesibilitas bagi penyandang disabilitas itu berangkat dari firman Allah SWT dalam Surah ’Abasa yang sama sekali tidak menyinggung ulah Ibnu Ummi Maktum saat menemui Nabi. Termasuk berkali-kali menanyakan hal yang sama, berputar ke sana kemari untuk mendapat jawaban Nabi, dan lain-lain. Itu artinya penyandang disabilitas memang harus disediakan berbagai kemudahan guna mewujudkan kesamaan kesempatan.

Sikap Nabi dalam menyediakan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas ini secara mudah tergambar dalam sapaannya kepada Ibnu Ummi Maktum setelah turunnya QS ’Abasa. Sebab, Ibnu Ummi Maktum menjadi salah seorang sahabat yang sangat disayangi oleh Rasulullah SAW. Di mana saja bertemu dengan Ibnu Ummi Maktum, dari jauh Nabi sudah menyapanya, ’’Hasyasyin Basysyar, selamat datang wahai orang yang telah menjadi sebab satu kumpulan ayat turun dari langit kepadaku.’’

Yang juga dilakukan Rasulullah terhadap penyandang disabilitas, sebagaimana yang terekam dalam sahabat Ibnu Ummi Maktum, adalah melakukan pemberdayaan dengan menumbuhkan iklim dan pengembangan potensinya.

Ibnu Ummi Maktum mampu tumbuh dan berkembang menjadi individu penyandang tunanetra yang tangguh dan mandiri. Dalam catatan sejarah, dia menjadi salah seorang peserta yang turut hijrah dari Makkah ke Madinah yang juga kuat kepemimpinannya. Tak heran jika Buya HAMKA dalam Tafsir al-Azhar menyebut Ibnu Ummi Maktum pernah dua–tiga kali diangkat Rasulullah SAW menjadi wakilnya sebagai imam di Madinah kalau Nabi sedang bepergian ke luar Madinah.

Kepercayaan Nabi kepada Ibnu Ummi Maktum untuk mewakilinya sebagai imam di Madinah saat bepergian menunjukkan bahwa kepedulian umat terhadap penyandang disabilitas bukan dalam bentuk karitatif santunan. Yang tidak kalah pentingnya adalah kepedulian dalam bentuk pemberdayaan dan diberi kesempatan yang sama dengan nondifabel dalam mendapatkan kehidupan yang layak. Apalagi, banyak bukti yang menunjukkan bahwa penyandang disabilitas, meski punya keterbatasan di satu aspek, punya kelebihan yang mumpuni di aspek lain (Jawa Pos, 10/8).

Jika Nabi demikian luar biasa berinteraksi dengan penyandang disabilitas, bagaimana dengan kita sebagai umatnya? Semoga Maulid Nabi dan Hari Disabilitas Internasional 2017 ini menginspirasi. Allah a’lam bi al-sawab. (*)

(*)Ketua Lembaga Informasi dan Komunikasi PW Muhammadiyah Jatim)

Sponsored Content

loading...
 TOP