Senin, 11 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Today

Tunjangan Profesi Guru Dievaluasi

| editor : 

Tunjangan Guru

Mendikbud Muhadjir Effendy saat memberikan sambutan di SDI Moh Hatta, Kota Malang, Jumat (1/12). (Tika Hapsari/JawaPos.com)

JawaPos.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, tunjangan profesi kurang efektif untuk meningkatkan mutu guru. Pemberian tunjangan yang nilainya satu kali gaji pokok itu tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas tenaga pendidik.

"Tahun 2007 itu diberi tunjangan profesi harapannya agar kualitas jadi bagus. Ternyata ya nggak mutu-mutu," kata Muhadjir saat memberikan sambutan di peresmian Gedung III SDI Mohammad Hatta, Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/12).

Tercatat ada sekitar 66 persen guru yang sudah menerima tunjangan profesi, dengan besaran sekali gaji. Ketika pemerintah mencanangkan program tunjangan profesi guru pada 10 tahun lalu, tidak terlampau repot untuk urusan penggajian. Pasalnya, hanya ada sedikit guru yang berhak mendapatkan tunjangan.

Namun, kondisi sudah berbeda untuk saat ini. Sekarang, lanjut mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu, sudah ada sekitar 66 persen guru yang berhak mendapatkan tunjangan.

Memberikan tunjangan 66 persen, negara harus mengeluarkan dana sekitar Rp 64 triliun. "Waktu 2007, negara nggak repot karena hanya ada sekian persen guru yang mendapatkan tunjangan. Negara perlu mengalokasikan Rp 7 triliun. Sekarang ada Rp 64 triliun yang harus dialokasikan," tegas Muhadjir.

Maka dari itu untuk tahun depan, tidak semua guru bersertifikasi otomatis mendapatkan tunjangan profesi. Muhadjir mengeluarkan kebijakan bahwa guru harus dinilai berdasarkan dengan kinerja. Sehingga lebih obyektif dalam hal penilaian.

(tik/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP