Kamis, 14 Dec 2017
Logo JawaPos.com
Nasional

Kemenko PMK Gandeng Muhammadiyah Teken Kerja Sama Revolusi Mental

| editor : 

Kemenko PMK-Muhammadiyah

Menko PMK Puan Maharani dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir saat teken kerja sama Gerakan Revolusi Mental di Aula KH. Ahmad Dahlan, Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (14/11). (Reyn Gloria/JawaPos.com)

JawaPos.com - Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menjalin kerja sama dengan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah hari ini (24/11). Nota kesepahaman telah diteken di Aula KH. Ahmad Dahlan, Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta.

Setidaknya ada delapan bidang penting yang menjadi kesepakatan kedua belah pihak, yakni pertama, Gerakan Nasional Revolusi Mental; kedua, koordinasi bidang kerawanan sosial dan dampak bencana; ketiga, koordinasi bidang penanggulangan kemiskinan dan perlindungan sosial; keempat, koordinasi bidang peningkatan kesehatan; kelima, koordinasi bidang pendidikan dan agama; keenam, koordinasi bidang kebudayaan; ketujuh, koordinasi bidang perlindungan perempuan dan anak; kedelapan, koordinasi bidang pemberdayaan masyarakat, desa, serta kawasan.

Menko PMK Puan Maharani mengungkapkan, rencana kerja sama ini sudah tercetus sejak lama, namun peresmiannya baru hari ini. "Rencana sudah ingin dilakukan sejak dahulu bahkan sudah berkomunikasi. Tanda tangan bukan hanya seremonial, tapi saya mengharapkan implementasinya," kata Puan dalam sambutannya.

Ke depannya, Puan berharap terselenggaranya keluarga harapan yang menyasar keluarga miskin khususnya pesantren dan panti asuhan. Kedua institusi ini akan bekerja keras selama dua tahun ke depan.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyambut baik kerja sama tersebut. Dia berharap penandatanganan ini menjadi titik awal penanaman dan pelaksanaan moral bangsa.

"Penandatangan nota tersebut untuk program-program pembinaan revolusi mental dan karakter, sekaligus mengikat kembali semangat kebangsaan oleh segenap tokoh kebangsaan," ungkap Haedar Nashir.

Haedar menambahkan, rakyat dapat dibangun dengan martabat dan marwah yang utuh. Bangsa Indonesia pun dapat belajar dari rakyat kecil di berbagai pelosok negeri.

"Cita-cita Indonesia tidak boleh hilang dari realitas keindonesiaan, bahkan banyak anak-anak yang tidak teralineasi (terpinggirkan, Red) karena tertinggal secara finansial," kata Haedar.

(ce1/rgm/JPC)

Alur Cerita Berita

Sponsored Content

loading...
 TOP