Senin, 11 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Internasional

Ketika Keluarga Ini Jadi Sandera Militan: "Kami Bikin Senang Saja"

| editor : 

Di sandera militan Caitlan Coleman dan Joshua Boyle.

SELAMAT: Caitlan Coleman, Joshua Boyle, dan dua anak mereka. (Handout/Reuters)

JawaPos.com - Seorang perempuan Amerika yang diculik di Afghanistan dan ditahan selama lima tahun bersama suami dan anak-anak melakukan semua yang mereka bisa untuk membuat teror tersebut ”menyenangkan.”

Caitlan Coleman, 31, dan suaminya, Joshua Boyle, 34, memiliki anak-anak ketika menjadi sandera militan. Namun, alih-alih terbelenggu, keduanya berusaha membuat ketiga anak mereka merasa nyaman.

Mereka membuat permainan dari sampah dan mengajar anak sulung laki-laki mereka sejarah Inggris untuk mengurangi ketakutannya di sekitar kawasan eksekusi. ”Kami mencoba membuatnya menyenangkan bagi mereka, sebaik mungkin,” kata Coleman kepada ABC News.

”Kami akan mengajari mereka untuk menggunakan barang-barang seperti tutup botol, potongan karton, atau apa pun yang bisa kami temukan untuk dijadikan mainan. Kami katakan pada mereka bahwa ini adalah mainan dan kami dapat melakukan permainan dengan ini,” katanya.

Coleman dan keluarganya berhasil diselamatkan bulan lalu di Pakistan setelah setelah diculik oleh gerilyawan yang terkait dengan Taliban pada tahun 2012 saat bepergian melalui daerah pegunungan Afghanistan. Pada saat itu, Coleman hamil enam bulan.

Selama lima tahun berikutnya mereka berpindah-pindah lokasi. ”Kondisinya sama. Sangat kotor dan tidak sehat. Kami sering di bawah tanah,” ulasnya.

Tetapi, pasangan tersebut mencoba yang terbaik untuk mendidik anak-anak mereka, mengajar anak sulung mereka, Najaeshi Yunah, yang berusia empat tahun, alfabet, rasi bintang. dan geopolitik.

Mereka juga berusaha meredakan rasa takut yang meresap dalam kehidupan mereka. Terutama ketika militan melakukan pembunuhan di depan mata mereka. Untuk itu, pasangan ini menceritakan mengenai sejarah Inggris, mengajarinya tentang Oliver Cromwell, dan eksekusi Charles I pada tahun 1649.

”Jadi, dia akan sangat senang berpura-pura menjadi Oliver Cromwell yang mengejar Charles I dan mencoba memenggal kepalanya karena dia tidak akan menandatangani undang-undang,” katanya. ”Kami membuatnya menjadi permainan sehingga dia tidak takut.”

Tetapi, mereka tidak sepenuhnya bisa melindungi anak-anak mereka dari penjaga bersenjata yang mengawasi mereka.

”Terkadang militan bisa sangat kejam, bahkan kadang dengan anak-anak,” kata Coleman. ”Beberapa penjaga benar-benar membenci anak-anak dan kerap memarahi Najaeshi. Mereka akan mencari alasan untuk memukulnya dengan tongkat atau lainnya,”

Bila Coleman membantu dia juga akan dipukuli. Menurut suaminya, tulang pipi istrinya pernah patah. Dan, tiga jari ibu dari anak-anaknya itu pernah patah setelah meninju seorang penjaga.

Pasangan tersebut mengatakan bahwa mereka sedang berusaha mendapatkan keadilan. ”Fokus kami adalah mencoba untuk meminta pertanggungjawaban mereka yang telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia berat terhadap kami dan terhadap orang lain,” kata Boyle kepada ABC.

”Saya kehilangan seorang anak perempuan. Itu lebih merupakan pukulan telak bagiku daripada bertahun-tahun. Apa yang mereka lakukan adalah kejahatan terhadap kemanusiaan oleh hukum internasional,” ulasnya. (*)

(tia/The guardian/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP