Rabu, 13 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Ekonomi

Ekonom Sebut Rencana Pemindahan Ibu Kota Terlalu Mahal

| editor : 

Ilutrasi Kota Palangkaraya

Ilutrasi Kota Palangkaraya (Dok.Jawa Pos)

JawaPos.com - Rencana pemindahan ibu kota dari DKI Jakarta ke Palangka Raya hingga saat ini tak menemui titik terang. Bahkan, wacana tersebut menguap begitu saja.

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Tony Prasetiantono mengatakan, pemerintah perlu mengkaji kembali wacana tersebut. Sebab, pemerintah perlu memastikan berapa dana yang dibutuhkan untuk pemindahan ibu kota tersebut. Apalagi, sampai saat ini studi kelayakan masih belum dilakukan.

"Berapa ongkos memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Palangka Raya? Enggak ada yang tahu karena belum bikin Feasibility Study," ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (20/11).

Meski demikian, Komisaris Utama Bank Permata ini juga memperkirakan jika anggaran yang dibutuhkan untuk pemindahan ibu kota sangatlah besar. Hal itu mengacu dari sejumlah proyek yang dilakukan oleh pengembang properti di Indonesia.

"Kalau saya buat benchmark, Meikarta yang dibuat Lippo itu ongkosnya, kata pak James Riady (CEO Lippo Group), sebesar Rp 278 triliun. Jadi kalau pindah ke Palangka Raya saya berani pastikan ongkosnya lebih mahal, mungkin bisa dua kali lipat. Katakanlah Rp 500 triliun," jelas dia.

Dengan penghitungan sebesar itu, Tony menilai wacana pemindahan ibu kota kurang tepat. Tony berpendapat, uang sebesar itu akan lebih baik jika dialokasikan untuk hal yang produktif secara nasional.

"Tujuan pindah ibu kota ke Palangka Raya itu apa? Tujuannya kan pemerataan pembangunan. Mana yang kita pilih? Rp 500 triliun disuntik ke Palangka Raya atau disebar ke mana-mana? Masing-masing (katakanlah) dapat Rp 20 triliun. Jadi menurut saya yang masuk akal adalah disebar ke semua titik," tandasnya. 

(cr4/ce1/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP