Sabtu, 16 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Orang-Orang di Balik Gaya Rambut Presiden-Presiden Indonesia (2)

| editor : 

Tukang Cukur Presiden

LANGGANAN PRESIDEN: Agus Wahidin di Tiara Barbershop, tempat pangkas rambut miliknya sendiri di Kranggan, Tangerang Selatan. (Agus Wahidin for Jawa Pos)

Agus Wahidin memilih menjadi tukang cukur lantaran waktunya lebih fleksibel. Sempat mengasah ilmu menjadi tukang cukur keliling, dia akhirnya menjadi pemangkas rambut langganan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Bayu Putra, Jakarta

MATAHARI belum juga bangun dari peraduannya. Namun, Agus Wahidin sudah berada di dalam taksi yang membawanya ke Bandara Soekarno-Hatta. Tidak lupa, dia membawa serta peralatan cukurnya. Hari itu, pertengahan Desember 2009, dia harus terbang ke Surabaya. Sudah ada seseorang yang akan dipangkas rambutnya.

Bukan sembarang orang yang akan dia cukur sampai harus terbang ke Surabaya. Saat itu Agus bakal mencukur rambut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Kala itu SBY sedang dalam perjalanan kembali dari lawatan ke Prancis dan langsung mendarat di Surabaya untuk kunjungan kerja lanjutan. Kebetulan, hari itu memang waktunya SBY potong rambut dan tidak bisa lagi menunggu karena padatnya jadwal.

Pengalaman tersebut merupakan bagian dari aktivitas Agus 13 tahun belakangan. Dia dipercaya menjadi tukang cukur Presiden SBY.

Hingga saat ini pun, Agus yang bekerja di Crownpax Barbershop Ratu Plaza, Jakarta, masih rutin memangkas rambut SBY. Rata-rata SBY potong rambut setiap 2–3 pekan sekali. ’’Karena tipikal rambut beliau memang tebal dan cepat panjang,’’ terang Agus saat diwawancarai Jumat (17/11).

Lahir di Garut, Agus menyelesaikan pendidikan SMA di Bandung. Kemudian, dia bekerja di sebuah perusahaan reklame di Kota Kembang itu. Seiring berjalannya waktu, dia melihat semakin banyak kawannya sesama Asgar (asli Garut) yang merantau ke Jakarta. Mayoritas menjadi tukang cukur.

Kondisi tersebut membuat Agus terpengaruh. Dia merasa waktu kerja tukang cukur lebih fleksibel. Akhirnya, dia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan merantau ke Jakarta. Dia pun menjadi tukang cukur keliling sembari mengasah kemampuan menata rambut. ’’Saya belajarnya otodidak,’’ lanjut pria 49 tahun tersebut. Agus juga berguru kepada Asep, salah seorang rekannya sesama Asgar.

Keahliannya menata rambut membuat Agus akhirnya bergabung di Paxi Barbershop Plaza Senayan pada 1999. Di tempat tersebut, dia mulai berkenalan dengan sejumlah pejabat, khususnya anggota DPR.

Beberapa yang pernah merasakan sentuhan guntingnya, seingat Agus, adalah Pramono Anung dan Erman Soeparno. Sekjen Partai Golkar Idrus Marham juga pernah ditangani Agus.

Sekitar April 2005, Agus ditelepon Soeripto, staf sekretariat presiden. Dia diminta bersiap-siap karena pukul 15.00 akan dijemput ke istana untuk memotong rambut Presiden SBY. Rupanya, Soeripto yang merupakan langganan Agus merekomendasikan dia setelah tukang cukur langganan presiden sakit. Agus pun dibawa ke Wisma Negara. Setelah menunggu sejenak, sekitar pukul 16.00, SBY datang bersama Ibu Negara Ani Yudhoyono. Saat itu tidak banyak permintaan model rambut SBY dari Ani. Cukup dirapikan saja. Agus terdiam sejenak sembari memandangi setiap bagian kepala SBY. Untuk menentukan potongan yang pas sebelum akhirnya mengeksekusi.

Saat itu dia mengaku tidak grogi. ’’Saya profesional saja memotong rambut beliau. Cuma, memang ada kebanggaan karena dipercaya memotong rambut Pak SBY,’’ tutur ayah empat anak tersebut. Sekitar 15 menit kemudian, pekerjaannya selesai. Ani tampak puas dengan hasil pekerjaan Agus. Dia kemudian berpesan agar berikutnya Agus menangani dengan model potongan rambut yang sama.

Sejak saat itu, Agus rutin menangani tatanan rambut SBY. Untuk yang kedua, dia dijemput lagi. Kali ini dia memotong rambut SBY di Istana Negara. Setelah itu, dia makin terbiasa. Tidak perlu lagi dijemput, Agus datang sendiri bila dikontak. Kadang di istana, kadang pula di kediaman pribadi SBY di Cikeas sampai saat ini.

Selama itu, sangat jarang SBY meminta potongan rambut model tertentu. Umumnya hanya dirapikan. Potongannya pun tidak banyak, sekitar 0,5–1 cm. Kepercayaan itu tidak disia-siakan. Agus berupaya sebaik-baiknya membuat rambut SBY bisa menunjang penampilannya sebagai presiden.

Suatu ketika, SBY meminta rambutnya dibuat agak berbeda. Agus tidak langsung mengiyakan. Dia lebih dahulu mengira-ngira apakah nanti hasilnya pas. Ternyata tidak. Agus pun langsung menyampaikan penolakan. Dia menjelaskan, bila model tersebut dikerjakan, hasilnya tidak akan bagus untuk penampilan. SBY akhirnya menurut.

Agus tidak hanya datang ke istana dan Cikeas. Ketika SBY di luar Jakarta, bila memang dirasa sudah waktunya cukur, Agus akan diterbangkan. Seingat Agus, dirinya dua kali diterbangkan untuk memotong rambut SBY. Yakni, ke Surabaya dan Semarang saat SBY melakukan kunjungan ke Akademi Kepolisian.

Saat ini Agus juga menangani rambut putra SBY. Yang menjadi langganannya saat ini adalah Agus Harimurti Yudhoyono. ’’Kalau Mas Ibas, saya pernah memotong rambutnya, tapi tidak sesering Mas Agus,’’ ungkap pria yang merayakan ulang tahun setiap 17 Agustus itu.

Nama Agus pun kian dikenal sebagai penata rambut SBY. Ditambah, pada akhir 2016, Ani Yudhoyono memotret Agus saat menangani suaminya. ’’Bapak dari Garut inilah yang paling berani pegang kepala SBY,’’ tulis Ani dalam keterangan fotonya.

Tidak sedikit yang akhirnya penasaran dengan sentuhan tangan Agus. Beberapa di antaranya bahkan meminta model rambutnya dibuat seperti SBY. Ketika ada permintaan demikian, Agus tidak langsung mengiyakan. ’’Kalau saya lihat tipikal rambut dan bentuk kepalanya tidak pas, saya akan bilang tidak,’’ ujarnya.

Bagi dia, lebih baik berkata tidak sejak awal daripada nanti pelanggan kecewa dengan hasilnya. Memang, ada beberapa yang pas bila dibuat mirip SBY, tapi tetap tidak bisa identik. Agus menambahkan, selama masih dipercaya SBY, dirinya akan berusaha semaksimalnya. ’’Mungkin saya orang Garut pertama yang dipercaya memotong rambut presiden,’’ kelakarnya.

Agus juga menjadi bagian dari organisasi Paguyuban Pangkas Rambut Indonesia (PPRI) yang dibentuk pada 2008. Saat ini dia dipercaya menjadi ketua umum. ’’Saya ingin PPRI ini bisa lebih banyak berperan dan bermanfaat untuk negara maupun masyarakat,’’ ungkapnya.

(*/c5/oki)

Sponsored Content

loading...
 TOP