Senin, 11 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Health Issues

Mengenal Serangan Panik, Tak Perlu Kejar Serbasempurna

| editor : 

Serangan panik

Ilustrasi (MODEL: DIANA PURNAMASARI - FOTO ZAIM ARMIES/JAWA POS)

JawaPos.com - Ujian dimulai 15 menit lagi, tapi masih kena macet di jalan? Atau mau meeting, tapi presentasi tertinggal di rumah? Tentu, yang kita rasakan adalah panik luar biasa. Itu normal. Namun, ada kalanya kepanikan muncul tanpa sebab dan mengambil alih kita. Itulah serangan panik atau panic attack.
---

SETIAP orang diciptakan dengan rasa panik sebagai benteng diri. ”Panik adalah bentuk cemas yang alami pada manusia. Ia muncul saat seorang individu menghadapi situasi yang mengancam,” jelas dr Sadya Wendra SpKJ. S

pesialis kesehatan jiwa RSAL dr Ramelan itu menjelaskan, sikap tersebut muncul ketika ada pemicu. Contohnya, situasi yang tersebut di atas, terlambat masuk kelas, atau menghadapi momen-momen penting.

Kecemasan dianggap tidak normal jika berlangsung berkepanjangan (maladaptif) dan muncul tanpa sebab. Menurut Sadya, hal itu merupakan bentuk gangguan mental emosional. ”Dari riskesdas (riset kesehatan dasar, Red), angka kejadian gangguan mental emosional terbilang tinggi. Yakni, 11,6 persen atau satu dari sekitar dua puluh orang di populasi,” tuturnya.

Nah, salah satu bentuk gangguan kecemasan adalah serangan panik atau panic attack. Sesuai namanya, kepanikan tersebut datang tidak terduga. Sadya memerinci gejalanya. Di antaranya, tiba-tiba muncul sensasi nyeri di dada, napas pendek atau sesak, disertai ketakutan parah seperti diteror. Serangan tersebut biasanya berlangsung 2 menit hingga 30 menit.

Kasubdeg Ilmu Kesehatan Jiwa di RSAL dr Ramelan itu menjelaskan, serangan panik dianggap gangguan jika berlangsung terus-menerus selama sebulan. Menurut dia, ketika serangan terjadi, penderita mengalami rasa takut yang tidak rasional. ”Mereka khawatir akan mati, gila, atau mengalami cacat,” kata Sadya.

Ada pula penderita yang mengalami anxiety anticipatory, yakni kepanikan yang muncul setelah membayangkan sesuatu yang bakal terjadi. ”Misalnya, ketika akan pergi naik kapal, dia khawatir kapal bocor, cuaca buruk, hingga kemungkinan menabrak,” imbuhnya.

Ketakutan-ketakutan yang intens tersebut membuat penderita panic attack cenderung tertutup. Menurut dr Nalini Muhdi SpKJ(K), penderita biasanya menyembunyikan diri. ”Mereka takut dibilang gila, pura-pura. Sehingga, rata-rata langsung ke psikiater,” jelasnya.

Nalini menjelaskan, bersembunyinya penderita serangan panik juga tidak lepas dari ketidaktahuan masyarakat tentang gangguan tersebut. ”Saat menemui penderita yang sedang serangan, banyak yang beranggapan mereka lebay. Akhirnya, penderita malah dimarahi atau dikata-katai,” paparnya.

Padahal, menurut dokter yang juga dosen di Universitas Airlangga itu, pasien justru membutuhkan dukungan dan reassurance dari orang sekitar agar lekas pulih. Nalini menegaskan, hal tersebut membantu penderita tetap aktif dan produktif.

Penerima Satyalancana pada 2005 itu menyatakan, pasien umumnya tidak berani sendirian. Mereka khawatir terjadi kecelakaan, diculik, atau mengalami hal yang mengancam nyawa kalau keluar rumah. Nah, mereka membutuhkan teman saat beraktivitas atau keluar rumah.

Tidak jarang, sebagian penderita justru mengalami agoraphobia atau fobia di tempat ramai. Nalini menjelaskan, pasien juga memerlukan dukungan sekitar yang sifatnya meyakinkan.

Satu fakta yang jarang diketahui orang, pasien sering mengira serangan panik itu akan membuat mereka mati. Padahal, tidak ada kasus kematian gara-gara panic attack. Nalini menegaskan, gangguan tersebut sama dengan flu atau pilek. Sama-sama bisa sembuh dan membaik. Asal diterapi atau diobati.

Dalam terapi penyembuhan, penderita akan dituntun untuk mengubah pola pikir. Sebab, menurut Nalini, banyak orang yang menderita panic attack akibat sikap perfeksionis dan tidak asertif. ”Mindset itulah yang perlahan diubah. Selain mengubah gaya hidup, penderita diarahkan agar tidak mengejar ’serbasempurna,’,” jelasnya.

Nalini menambahkan, pasien yang diterapi umumnya lebih mampu menguasai diri. Karena mampu mengontrol, frekuensi serangan panik semakin jarang. Nalini dan Sadya menyatakan, serangan panik merupakan gangguan mental emosional yang angka kejadiannya tinggi. Pria maupun perempuan bisa mengalaminya. Rentang usianya pun cukup muda.

”Onset (awalan) biasanya mulai dewasa muda, 20 tahunan,’’ kata Nalini. Meski tidak mengancam nyawa, serangan panik bisa mengurangi kualitas hidup seseorang. (*)

(fam/c6/na)

Sponsored Content

loading...
 TOP